KELANA

Fatayati Widya  Putri
Karya Fatayati Widya  Putri Kategori Puisi
dipublikasikan 28 Januari 2016
KELANA

Pagiku pernah lebih menyedihkan dari yang mereka tahu. Merahasiakan sesak dalam lipatan banyak rindu. Pun, kenangan masih belum lekas menguap. Bak kopi yang terseduh pada sebuah senja di tengah-tengah kebun teh Malabar. Perannya adalah pengganti coklat panas yang tak lagi dipilih sebab tubuh memerlukan asupan kafein lebih banyak dari biasanya.

Hingga senja menuju lengan langit sebelum di rengkuh malam, seduhan kopi di cangkir merah jambu menyisakan seperbagiannya. Tak luput dengan endapan khas ampas hitam. Aromanya tak pernah terlewatkan untuk ku sesap dalam khusyuk pejam. Kemudian, mengantarkan aku pada beranda khayal. Khayal?tentang aku yang sedang menyongsong sepasang manik mata dalam jangkauan tak terhingga.

Di Januari, punggungmu adalah satu-satunya pemandanganku. Simpul senyumku mengikuti tepat satu jengkal di belakangnya. Bila tetiba menjadi berabad-abad jauhnya. Mari sama-sama meyakini rukun iman terakhir sedang mengambil peran.

Kuatkan kaki masing-masing untuk terus berjalan demi sebuah ujung. Namun ada dua hal yang perlu kau ingat sebagai bekal. Yang pertama, belum tentu ujungmu berada tegak lurus dari pandangan. Dia bisa jadi dimana saja. Dan yang kedua, tak akan mengapa bila sesekali langkahmu terhenti untuk berbagi lelah dengan simpul senyum yang masih dibelakangmu. Hanya saja aku tak bisa pastikan apakah lengang dadaku masih seluas samudera untuk membalas pelukmu.

Kata sukma yang sudah enggan dimonopoli perasaan mendalam, bisa jadi aku masih sebuah kelana. Meskipun sisi tak warasku bersama debar di dada kiri terus meng-aamiin-kan, jika mataku yang lebih gemericik dari hujan di waktu petang adalah satu-satunya teduh yang kau cari.

?

Teruntuk, dua puluh empat tahunmu.

?

Pangalengan, 18 Januari 2016