Putri Cinta (Menanti Pintu Terbuka)

Fatamorgana Nyata
Karya Fatamorgana Nyata Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Maret 2016
Putri Cinta (Menanti Pintu Terbuka)

Dia adalah gadis kecilku. Aku menyebutnya Putri Cinta, karena Ia sangat suka mendengarkanku bercerita tentang cinta. Putri periang yang hampir tak pernah kulihat bersedih. Hidupnya selalu ceria, seakan bahagia adalah sahabatnya.

Putri yang tak mengerti bahwa ayahnya kini telah tiada. Ia hanya tau bahwa ayahnya pergi jauh di suatu tempat. Dan Ia terus menanti ayanya pulang membuka pintu membawakan oleh-oleh boneka kesukaannya.

Tapi meski begitu, ia tak pernah menunjukkan wajah sedihnya. Ia bahkan sangat sering tertawa. Ia juga begitu menyukai angry bird. Sampai-sampai seluruh bagian kamarnya dipenuhi dengan atribut-atribut angry bird.

Bahkan setiap kali ia telah melihatku dari kejauhan, ia akan berlari menuju ke arahku, lalu berbunyi, "Huiiinggg" sambil melompat di pelukanku. Haha, aku kadang kesal dengan kelakuannya itu, bukan karena ia melakukannya di depan umum. Tapi masalahnya, ia selalu menganggap dirinya angry bird dan itu berarti akulah babinya.

Itulah gambaran kelakuannya yang aku tau selama ini.
Suatu hari, ibunya harus menjalani operasi kangker di ibu kota, setelah beberapa lama sakit yang semakin parah semenjak ayah putri pergi dua tahun lalu pula. Si Putri Cinta yang harus terus bersekolah, hanya bisa menanti kepulangan Ibunya dalam rumah, lewat pintu bergagang dua yang selalu Ia tatap setiap hari.

Kini Ia banyak menghabiskan waktu di ruang tamu. Sepanjang waktu Ia termenung dan berharap pintu itu dibuka oleh kedua orangtuanya yang sudah lama Ia rindukan. Ia ingin sekali berlari menemui ayah ibunya, lalu memeluknya dengan erat, menceritakan segala hal yang Ia lalui seharian di sekolah. Layaknya anak ceria lainnya.

Aku sudah dianggap kakak kandungnya, karena ia hanya memiliki satu orang saudara, yaitu adiknya yang masih kecil. Ia kadang datang menemuiku dengan mata nanar, walau tak pernah kulihatnya menjatuhkan air mata. Akhir-akhir ini ia sering berkata, "Aku lelah menghibur Adikku, aku menemui Kakak karena aku juga butuh hiburan darimu, Kak". Setiap kali melihat kondisi putri seperti itu, aku kan rela memutar otak, melakukan hal bodoh, hingga bertingkah gila, hanya demi membuat putri cinta tersenyum.

Beberapa minggu kemudian, putri cinta dikabari bahwa hari ini ibunya akan tiba. Aku menemani Putri menunggu di ruang tamu seperti biasanya. Menunggu pintu terbuka dan semoga akan ada saatnya Ia berlari menjemput Ibunya, lalu memeluknya.

Setelah seharian kami menunggu, akhirnya di malam hari pintu itu terbuka. Putri lalu berlari menghampiri pintu, tapi yang membuka pintu adalah pamannya, kerabat-kerabat leluarganya, dan sang Ibu yang datang masih dalam keadaan terbaring, dengan infuse, dan bantuan oksigen.

Aku menanyakan ke pamannya, "Apa sebenarnya yang terjadi?" Aku diberitahukan bahwa operasi sang Ibu tidak berhasil, ia dipulangkan karena waktunya sisa tiga hari lagi. Aku dilarang menanyakan ini pada putri cinta. Lagi-lagi, putri hanya tau bahwa rumahnya selalu ramai karena orang-orang mendoakan keselamatan ibunya.

Putri cinta terus-terusan memberitahuku kabar ibunya dan memintaku untuk mendoakannya pula. Aku hanya bisa mengiyakan segala yang ia pinta. Hari ketiga, hari di mana ketabahannya benar-benar diuji. Ibu tersayangnya, sungguh telah pergi menyusul ayahnya. Untuk yang pertama kalinya, aku melihat si Putri Cinta menangis dengan sangat keras. Aku mematung. Tak tau apa yang harus kulakukan. Tak mampu membayangkan seberapa pilu keadaan sang Putri.

Setelah beberapa hari kemudian. Aku datang ke rumahnya. Aku melihat ia seperti biasa menunggu di ruang tamu dengan mata yang berbinar memandangi pintu. Aku mendekatinya, lalu Ia berkata, "Kak, boleh aku memelukmu lama?" Ucap Putri dengan tubuh lemasnya. Aku hanya mengangguk tak kuasa mengartikan perasaannya saat ini. Aku mendengar seluruh kisahnya. Ia bercerita sambil tersedu-sedu. Aku membiarkannya melepas segala kesedihannya. Menyuruhnya tak usah menggubris cairan ingus, dan air matanya yang memenuhi pundakku.

Hari itu aku baru tau, bahwa selama ini, dia sangat mengerti bahwa ayahnya telah pergi. Ia hanya tak ingin membuat orang lain mengasihaninya, tak ingin membuat Ibunya khawatir melihatnya, sehingga Ia hanya menyimpan semua kesedihan dalam hatinya.

Hari itu, aku baru tau, bahwa ia selalu menganggapku sebagai sosok ayahnya. Mengobati rindu pada ayahnya dengan bermain bersamaku, mendengar dongeng dariku, dan memelukku erat saat bertemu. Aku baru tau, ia menyembunyikan rindunya dari semua hal itu. Kini, Ia telah kehilangan kedua peri pelindungnya. Di akhir pelukan hangatnya ia memintaku, untuk tak pergi meniggalkannya. "Iya putri cinta, aku janji tak akan meninggalkanmu".

Aku menyadari satu hal; Bahwa Ia pantas dijuluki sebagai Putri Cinta, bukan karena ia suka mendengarkanku bercerita tentang cinta. Tapi karena ia mampu menumbuhkan cinta yang tulus untuk orang-orang yang bahkan telah pergi meninggalkannya.

Aku selalu berdoa untuk Gadis kecilku itu, " Tetaplah ceria, Putri. Suatu hari aku kan pulang dengan oleh-oleh kebahagiaan yang kubawa untukmu."

  • view 192