Cinta Sebelum Nikah

Fatamorgana Nyata
Karya Fatamorgana Nyata Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Februari 2016
Cinta Sebelum Nikah

Menurut saya, pacaran itu seperti proses pembuatan rumah disebuah lahan tanah.

Anggaplah awalnya kita punya rumah sendiri di lahan tanah milik keluarga kita. Hasil dari pembangunan yang dilakukan Ayah dan Ibu.

Dan setiap kita, akan diberikan satu lahan tanah. Dimana lahan tanah itu sudah ditakdirkan ada untuk kita sejak kita lahir. Masalahnya lahan itu akan diberikan ketika kita siap menerimanya.

Lalu kita jalan jalan keluar rumah melihat sekitar, sampai kita bertamu pada rumah seseorang yang membuat kita tertarik olehnya. Akhirnya kita memutuskan untuk menyatakan cinta kepadanya, dan ternyata dia menerimanya. Jadilah kita pacaran.

Nah ini adalah transaksi ataupun perjanjian yang kita buat, untuk membangun sebuah rumah di lahan tanah yang kita tidak tau siapa pemiliknya. Artinya kita membangun sebuah rumah tanpa memegang sertifikat tanahnya.

Dan kadang kadang karena keasyikan, karena begitu menyenangkan, dan karena begitu membahagiakan, sampai kita membangun rumah itu sebesar besarnya, tanpa pernah berfikir tentang kesementaraan. Melupakan bahwa apa yang kita bangun itu, bisa jadi hanya sebagai tempat untuk kita belajar cara merobohkan.

Oleh karena itu, janganlah kita mengorbankan segala hal untuk membangun istana di sebuah lahan tanah yang belum tentu menjadi milik kita, yang bisa saja menjadi milik orang lain pada akhirnya.

Kita semua punya akal sehat. Buat apa membangun rumah megah di sebuah lahan tanah yang tak kita miliki sertifikatnya? Bukannya itu adalah hal yang dilakukan orang gila?

Karena tak adanya kesabaran untuk menunggu, sampai kita lupa bahwa pada akhirnya juga kita akan dipastikan untuk mendapatkan sebuah lahan tanah yang sah, yang memiliki sertifikat, dan yang memang ditujukan untuk kita, seperti yang telah dijanjikan bahwa lahan tanah untuk kita itu ADA sejak kita lahir.

Jadi untuk apa kita mempunyai hubungan seluarbiasa apapun, cinta sedahsyat apapun, dan sayang sehebat apapun jika kita belum menerima surat sah nikah? Kita tidak gila kan?

Kita tidak pernah tau apakah yang kita perjuangkan itu adalah yang benar benar milik kita? Tidak.
Tidak ada satupun orang yang tau siapa yang benar benar harus diperjuangkan untuk menjadi jodoh kita. Karena memang jodoh itu sendiri telah dirahasiakan sampai tiba saatnya untuk diberikan ke kita.

Kita tidak bisa menjelma menjadi sesosok ksatria, dan membawa satu orang putri kehadapan Tuhan, dan berkata ?Hanya dia yang kuperjuangkan hidup dan mati. Maka jadikan ia satu satunya takdir jodohku?
Tidak bisa.

Kita terlalu egois jika disetiap doa kita kepada Tuhan, kita menitipkan satu nama untuk menjadi jodoh kita. Seperti meminta Tuhan untuk mengubah ketetapanNya, padahal Dia lebih tau pasangan seperti apa yang sesuai dengan kita. Tak sopan bukan?

Lalu yang bisa kita lakukan? Yah kita hanya bisa menghadap sendiri kepada tuhan. Meminta untuk tetap menjaga jodoh kita siapapun itu dengan sehat wal afiat. Meminta agar jalan yang kita tempuh adalah jalan lurus yang juga sedang ditempuh oleh jodoh kita, hingga kita akan bertemu di tengah tengah, kemudian ia halal untuk kita gandeng dan melanjutkan perjalanan bersama. Tentunya perjalanan untuk mencapai petunjuk surgaNya.

Salam hangatku untuk pacar(cobaan)mu.