Fajar di kala Senja

JURNAL FASE
Karya JURNAL FASE Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Fajar di kala Senja

Fajar dikala Senja

Oleh Abdi Winarni Wahid

 “Maba-miba...lihat ujung sepatu kalian!!!” teriakan bertubi-tubi memekakkan telinga. Akan tetapi tidak bagi Senja, teriakan-teriakan itu bagai lantunan lagu pengiring suatu adegan pada drama romantik kesukaannya. Bagaimana tidak, setiap kali suara rombongan DPB itu muncul bagai angin yang berhembus maka ia akan terpaku menatap suatu wajah yang suaranya paling keras, dialah ketua DPB. Orang bermuka garang, tidak terlalu tinggi, tidak seperti suaranya yang saking tingginya dapat terdengar hingga fakultas sebelah. Entah apa yang ada dibenak Senja dan sebagian besar miba-miba lainnya, meskipun galak dan memiliki tampang biasa-biasa saja tetap selalu mengundang histeris dan ekspresi senang berlebih gadis-gadis itu saat membicarakan tentang orang ini. “Memang ngak terlalu ganteng, tapi dia punya kharisma yang buat dia jadi keren abis, itu tuh yang namanya cowok”, kata Senja dengan menggebu-gebu saat bercerita padaku.

Keesokan harinya. “Eh..eh.. tau ngak tadi mas ketua DPB itu senyum lho ke aku... Senyumnya manis banget lagi” kata Senja kepada teman-teman miba saat memasuki barisan. “Iya po?? Hhmm...beruntungnya.” celetuk iri salah seorang dari mereka. Aku mengigat kejadian sebelum tiba di barisan, tapi perasaan sejak tadi senja selalu bersamaku, satu-satunya saat mas itu muncul ketika kami baru saja memasuki gerbang dan ia tidak tersenyum melainkan nyengir kuda dengan sinisnya memandang ke arah kaos kaki Senja yang lain sebelah. Dan setelah itu, dia tidak pernah muncul lagi, hanya ada aku yang menukar kaos kaki Senja sebelum dia dihukum karena aku tau kalau dia tidak akan sanggup menerima bentakan bertubi-tubi langsung diwajahnya, sedangkan aku sudah biasa dengan itu semua.

Ospek hari terakhir ini benar-benar melelahkan, begitu banyak kegiatan dan terik matahari yang membakar kulit turut andil dalam menguras energi kami. Setengah hari terasa berhari-hari, tapi setidaknya istirahat makan siang sedikit membantu memulihkan energi kami. Maba-miba diposisikan oleh para Waljamnya masing-masing. Jamaah kami diposisikan oleh Waljam kami di pelataran Masjid, selain karena tempat itu memang nyaman kami juga dekat untuk melaksanakan sholat. Maklum, Waljam kami orang yang alim, sholat yang selalu utama baginya, jadi wajar saja jika wajahnya sangat bersih bercahaya dan sangat meneduhkan. Itu salah satu sosok keren lain yang ada diospek ini. Tapi, sosok kharismatik ketua DPB masih sangat populer apalagi di dunia Senja. Lagi-lagi dia bercerita tentang orang ini disela-sela makan siang kami. Aku dan Senja makan agak terpisah dipojokan, kami memang sudah sangat akrab, bagaimana tidak kami sekelas sejak kelas 1 SMA. Senja adalah gadis manis yang manja tapi ramah dan sangat pandai bergaul, dia pandai membuat aku tertawa, sedangkan aku selalu menjadi tempat curhatnya dan selalu siap berbagi kesedihan yang ia rasakan. Kami saling melengkapi satu sama lain, itulah alasan mengapa kami terbilang tidak pernah bertengkar, bahkan yang ada kami selalu saling membutuhkan. Sampai pada siang hari ini. “Kamu tau, tadi aku berpapasan sama mas ketua DPB lho..” celetuk senja disela-sela makan kami. “So?” sambungku singkat. “Iiihh kamu, asal kamu tau ya! Dia tau namaku.. Senja ya?? Adiknya Bintang?? Katanya, aku cuman bisa ngangguk. Trus dia bilang, Semangat ya dek! setengah hari lagi sambil senyum. Aduhh..melting.. dia ramah banget ke aku.. atau jangan-jangan dia..” jelas Senja dengan menggebu-gebu dan wajah yang memerah. “Husstt..” aku membuyarkan lamunannya. “Jangan kepedean kamu.. dia gitu karena tau kamu adik sahabatnya, ngak kurang ngak lebih.” Sambungku ketus. “Iiihh... males ah ngomong sama kamu! Jawabnya ngak enakin banget, ngak bisa liat orang seneng aja..huu..” kata Senja membuang muka sembari beranjak pergi.

 Aku yang juga sedikit marah membiarkannya berlalu begitu saja. Aku tidak tau mengapa setiap kali Senja bercerita tentang kedekatannya dengan kakak itu muncul perasaan marah dihatiku. Apa mungkin aku.... “Dek.. Ayo baris” suara waljam kami membuyarkanku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan bergabung dengan barisan. Rangkaian akhir ospek ini sebenarnya runtutan acara yang menarik, para panitia memperkenalkan diri dan penampilan-penampilan dari UKM-UKM kampus, semuanya acara yang ditunggu-tunggu. Tapi, disini aku hanya bisa tenggelam dalam duniaku sendiri, berfikir tentang banyak hal, dan yang jelas aku merasa sepi ditengah keramaian semarak ospek ini. Aku hanya terdiam, menyaksikan pertunjukan yang sebenarnya tidak aku saksikan, mendengarkan lantunan musik pengiring yang sebenarnya yang aku dengar hanya keheningan. Aku berada ditengah-tengah barisan ini tapi sebenarnya aku berada di negeri antah beranta. Hingga akhirya..“tutt..tutt..” getaran HP mengembalikanku ke dunia nyata. Dan ternyata sms dari Senja.

Nt aq plgnya g sm km ya. Aq plg bareng mas DPB :D

Jgn jealous ya.. Aku dpt duluan!!! Hahaha.... :P

 Kembali beku, dan seketika aku mendapatkan lanjutan kalimatku tadi. Jealous!!! Yaa... aku memang jealous. Tapi, ini bukan seperti yang Senja bayangkan. Bukan karena ia berhasil mendapatkan gebetan duluan daripada aku, seperti perjanjian kami sebelum masuk universitas. Tapi, ini karena perasaanku yang tidak seharusnya. Kembali tenggelam dalam lamunanku yang kedua kalinya ini membuatku seolah benar-benar menghilang. Aku tersadar saat keramaian ini bubar dan aku seolah terombang-ambing ditengah lautan manusia. Saat tiba di tepi keramaian ini, dibenakku hanya satu yaitu mencari Senja sahabatku. Dan disaat mataku menemukannya, ia telah bertengger manis diboncengan kakak itu. Kami sempat bertemu mata, lalu ia tersenyum lebar dan menjulurkan lidah mengejekku sembari melambaikan tangan dan berlalu seiring hembusan angin yang menerpaku. Saat itulah, aku benar-benar tersadar bahwa aku, Fajar Adi Wijaya memang tidak seharusnya memendam perasaan ini kepada sahabatku sendiri. Senja hanya menganggapku sahabat, tidak lebih dan tidak kurang. Fajar dan Senja hanya akan menjadi sahabat selamanya. Layaknya Fajar dan Senja yang akan terus bekerjasama mewarnai hari, tetapi mereka tidak akan muncul bersama. Kau tidak akan mendapatkan Fajar dikala Senja, dan begitu pula sebaliknya.

 

  • view 176