#Tuhan Telah Dipenjara

JURNAL FASE
Karya JURNAL FASE Kategori Filsafat
dipublikasikan 02 Mei 2016
#Tuhan Telah Dipenjara

Tuhan Telah Di Penjara

Taufik Hidayat

Pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan yang suci dan sempurna, dengan adanya indra yang lengkap dan akal (rasio) sebagai alat mereka untuk memperoleh pengetahuan mengantarkannya cenderung pada kebenaran namun dalam perjalanan hidupnya mereka dipengaruhi dengan segala persoalan baik dari keluarga maupun dalam kehidupan sosialnya, ada yang tetap mampu mengimbangi pengaruh itu dengan bersandar kepada nalar rasionya ada pula yang sudah terpengaruh dan pengaruh itu sepenuhnya menjadi dogma dalam dirinya.

 

Pengaruh-pengaruh tersebut berupa pengetahuan tentang Tuhan,agama,etika dll. sebenarnya dimasa kecil, kita selalu mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat subtansial, menurut hemat saya kita ini sedang berfilsafat artinya mencari kebenaran, namun hal itu semakin hari semakin menghilang karena adanya pengaruh-pengaruh tersebut yang bersifat dogma yang tidak boleh dibantah lagi. Dogma itu biasanya kita dapatkan dari keluarga,guru dan teman sepermainan, contohnya kita sering mendengar fatwa yang mengatakan “apabila kamu berbuat seperti ini maka kamu akan berdosa dan kamu akan masuk neraka, neraka itu adalah alam dimana orang-orang berdosa disiksa oleh tuhan dengan api yang sangat luar bisa panasnya” padahal pernyataan seperti itu sebelumnya kita tidak mengetahui konsepnya hanya langsung pada penilaian, kita hanya dipaksa berimajinasi yang hubungannya di pisahkan dengan alam realitas dan ini tidak boleh dibantah karena takut  dikatakan kafir atau meragukan Tuhan, dan masih banyak lagi doktrin-doktrin yang tidak jelas konsepsinya yang dijadikan sebagai kriteria kebenaran yang menyebabkan terbatasnya aktiftas berpikir manusia, lagi-lagi saya katakan karena takut dikatakan sebagai orang kafir,ini membuat kita seakan-akan bertuhan itu sangat rumit.

 

Seiring berjalannya waktu, dogma seperti ini semakin menyebar dikalangan banyak agama,teruma pada agama islam. Sebagian banyak orang tetap mempertahankan doktrin seperti itu sebagian pula mencoba keluar dari doktrin itu, disini saya hanya akan membahas banyak tentang pengaruh doktrin-doktirn ini di kehidupan sosial. Pertama pertanyaan saya terhadap doktrin ini bagaimana bisa kebanyakan manusia mampu bertahan dengan mengingkari kinerja rasionya? Jika doktrin itu sendiri yang mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh tuhan kenapa ciptaan tuhan itu sendiri kita  mencoba mengingkari kinerjanya (rasio) karena doktrin seperti ini jelas-jelas sangat tidak rasional? Bagaimana penjelasan konsepnya doktrin yang seperti ini, dimana doktrin seperti ini bersandar? Sebelum itu mari kita lihat teori-teori berikut ini.

 

Dalam teori (konsep) Platon pengetahuan niscaya manusia berada pada alam ide (arketipe) dan pengetahuan niscaya itu hanya bisa diketahui apabila menyaksikan hal-hal partikular di alam realitas ini melalui persepsi indrawi seperti pengetahuan tentang kebaikan, pengetahuan tentang kebaikan ini adalah pengetahuan yang niscaya yang sudah ada dari alam arketipe yang kita dapatkan melalui proses persepsi indrawi(stimulus) terhadap perilaku partikular-partikular manusia, mengapa demikian karena kebaikan yang ada pada partikular-partikular manusia itu tidak niscaya artinya alam realitas ini selalu berubah-ubah dan kebaikan pertikular-partikular itu yang dipersepsi oleh indrawi berbeda-beda pada partikular-partikularnya, tapi jiwa secara independen merasakan dan mengetahui kebaikan itu sebagai pengetahuan yang niscaya dari alam arketipe walaupun realitas alam ini tidak menetap. Artinya jiwa  terpisah dengan tubuh, jiwa telah ada secara independen di alam arketipe dan ketika jiwa bersatu dengan tubuh di alam realitas ini maka jiwa akan kehilangan pengetahuan-pengetahuannya yang niscaya kemudian pengetahuan niscaya itu diperoleh kembali di alam realitas ini melalui proses stimulus menggunakan persepsi indrawi (tubuh).  

 

Teori (konsep) Empiris, sebagaimana yang kita kenal tokoh teori ini yaitu Jhon Locke, teori empiris mengatakan bahwa pada awalnya manusia sama sekali tidak memiliki pengetahuan, manusia nantinya mendapatkan pengetahuan apabila mereka mencerap lansung hal-hal yang bersifat material di alam melalui persepsi indrawi, jadi pengetahuan yang dimaksud dalam teori ini hanya didapatkan melalui pengalamannya saja secara empirikal, manusia memiliki konsep tentang sesuatu apabila telah mencerap materi itu secara indrawi, jadi segala sesuatu yang tidak mampu dicerap oleh indra itu bukanlah pengetahuan, dalam struktur teori ini berpijak pada alam sebagai sumber utama pengetahuan namun didalam strukturnya pula kita melihat terbatas oleh alam ,teori ini tidak mengakui kriteria rasional sebagai neraca kebenaran, fungsi rasio hanya mengingat, mengkonsepsi dan menangkap hal-hal materi yang telah disaksikan oleh indra dari berbagai pengalamannya.

 

Teori (konsep) disposesi, teori inilah yang pada umumnya dipakai oleh filsuf islam, teori ini secara struktur berbeda dengan teori Platon dan teori empiris ,dalam teori disposesi konsep dibagi menjadi dua, konsepsi primer dan konsepsi sekunder, pengetahuan manusia berpijak pada alam realitas yang disaksikan langsung oleh persepsi indrawi yang membangun konsep-konsep primer sebagai fondasi konseptual awal manusia, dari konsepsi primer ini sebagaimana halnya kita menyaksikan hubungan sebab akibat di alam realitas secara otomatis membangun konsepsi baru di rasio secara mandiri, artinya dari hubungan sebab akibat di alam realitas hadir sebab akibat yang mandiri di rasio yang sifatnya niscaya, dari sinilah konsepsi sekunder hadir dalam hal ini sebab akibat yang dipahami rasio secara mandiri terlepas dari sebab akibat di alam realitas, munculnya ide mandiri ini tidak terlepas dari proses konsepsi primer yang terjadi di alam namun ide mandiri mampu melepaskan dirinya dari proses konsepsi yang terjadi di alam,hubungan kausalitas di alam dalam hal ini air yang mendidih ketika dipanaskan, di alam realitas hubungan air dan panas tidak bisa diafirmasi artinya mendidih disini itu tidak niscaya namun hubungan kausalitas yang dipahami oleh ide itu sifatnya niscaya. Disinilah kita melihat hubungan yang begitu solid antara konsepsi primer dan konsepsi sekunder yg nantinya akan bertumpu pada konsepsi teoritis. Dari sini kita melihat teori sama sekali tidak pernah memisahkan jiwa dan tubuh dan teori ini pula tidak menolak alam sebagai pijakan pengetahuan namun teori ini tidak dibatasi oleh persepsi alam sebagaimana halnya pada teori empiris.

 

 Pada ketiga teori yang ada diatas doktrinnya tentang tuhan berbeda, Platon mengakatakan tuhan itu berada di alam arketipe dimana pengetahuan niscaya itu berada, dimana jiwa itu berasal. Teori Empiris ketika mengikuti strukturnya, dalam doktrinnya seharusnya dia tidak mengenal tuhan dan jelas bagi saya tidak ada pertanyaan tentang bagaimana itu tuhan terhadap kaum empiris ketika mengacuh pada strukturnya, karena dalam strukturnya tuhan sudah ditolak dari awal. Teori disposesi pada pengamatan saya selama mengikuti materi falsatuna Baqir Shadr, dalam doktrinnya tuhan tidak pernah terpisah dengan manusia dan alam, melihat strukturnya bagaimana muncul rasio mandiri(niscaya) itu tidak terlepas dari alam dan ide manusia sendiri. Dapat disimpulkan bahwa dari teori-teori tersebut semuanya memiliki penjelasan konsep tentang tuhan.

 

Ada persamaan dari ketiga teori ini yaitu semuanya mengakui bahwa alam sebagai pijakan konsepsi. Kembali kepada pembahasan yang pertama diatas, dimana letak pijakan konsepsinya sehingga mampu membuat sebuah doktrin seperti itu, apakah alam, arketipe atau sebagainya? Tidak mungkin, bahkan doktrin seperti itu sama sekali tidak memiliki pijakan konsepsi. Namun nyatanya bagaimana bisa doktrin yang seperti itu yang sering kita hadapi sekarang kebanyakan dijadikan sebagai neraca kebenaran sedangkan doktrin itu sendiri tidak memiliki konsep, bahkan di alam realitas tidak ada kesesuaian konsep dengan doktrin seperti ini, dan lucunya konsep seperti ini digunakan untuk mengkafirkan ketuhanan orang lain. Bahkan ketiga doktrin  yang saya jelaskan sebelumnya Platon,empiris dan disposesi jelas-jelas memiliki konsep yang dapat dipahami tapi tidak pernah saling menyalahkan karena dengan mengetahui konsepnya yang murni sebagai pijakan doktrinnya dapat saling memahami bahwa murni pemikiran manusia walaupun dari beberapa konsep itu mungkin memiliki banyak kekeliruan.

Kita lihat sekarang banyak golongan-golongan tertentu penganut doktrin yang saya sebut doktrin gila ini menyalahkan orang lain seakan-akan dirinyalah yang paling benar, segala pemahaman-pemahaman yang berbeda dengan pemahamannya maka itu adalah pemahaman yang sesat, pemikiran-pemikiran murni manusia yang mana saya jelaskan tadi bahwa akan cenderung pada kebenaran dibatasi oleh doktrin-doktrin seperti ini. Dimana keadilan tuhan, dimana kebijaksanaan tuhan, dimana sifat pemurah tuhan, dimana sifat pemaaf tuhan, dimana kebesaran tuhan, dimana, dimana, dimana dan dimana segala sifat tuhan itu yang ada pada doktrinnya sendiri ketika doktrin itu sendiri engkau jadikan sebagai neraca kebenaran untuk menyalahkan konsepsi-konsepsi yang berbeda dengan doktrinnya. Apakah agama hadir untuk membuat perselisihan? apakah agama selalu memandang perbedaan? Apa apakah tuhan hanya milik orang-orang tertentu? Dengan seenaknya dijadikan keyakinan yang tanpa sandaran konsepsi itu untuk menyalahkan konsep-konsep lainnya yang jelas-jelas memiliki dasar konsepsi, bahkan perlakuan anarkis telah ditempu untuk memaksa menyakini doktrin itu, saya pikir agama tidak serendah itu bung, tuhan tidak sekeji itu bung. Tuhan dan agama yang sesungguhnya adalah milik semua manusia dan makhlukNYA, tapi kenapa masih banyak yang memenjarakan tuhan pada golongan-golongan tertentu dan memusuhi golongan lain, padahal bukankah kita lahir dalam kondisi yang berbeda, bukankah itu kehendak tuhan, omong kosong jika tuhan hanya milik golongan-golongan tertentu. SAYA RASA TUHAN TELAH DIPENJARA.

  

  • view 113