Kartini dan Emansipasi Wanita

JURNAL FASE
Karya JURNAL FASE Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Mei 2016
Kartini dan Emansipasi Wanita

JAWABAN ATAS GUGATAN TERHADAP RA KARTINI

(Muhammad Hamsah, S.Pd.I)

Banyak yang menggugat RA Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia dan dinilai sebagai tokoh emansipasi wanita. Berbagai sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa penilaian semacam itu kurang tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Diantaranya Dewi Sartika di Bandung, Rohana Kudus di Padang, Aisyah pun seperti itu, beliaulah yg mencoba memotivasi masyarakat untuk menerjemahkan Kitab I La Galigo dan salah satu karya yang dimaksud adalah terjemahan Kitab I Lagaligo di Universitas Leiden. Dalam persaingan memunculkan tokoh, pahlawan nasional, atau peringatan hari nasional dari hasil budaya tertentu, sekurang-kurangnya ada 4 faktor penentu:

1. Politis

Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu. Hanya Kartini diekspos karyax oleh bangsa Belanda, keluarga Snouck Hurgonje. Sehingga kemudian Kartini lebih dikenal oleh orang Indonesia sebagai perintis emansipasi wanita. Banyak yang menilai bahwa ada unsur politis dibalik nama besar Kartini.

2. Keragaman

Penetapan seseorang menjadi tokoh nasional, tentu dengan proses yang sangat panjang. Pendahulu bangsa Indonesia menetapkan RA Kartini sebagai tokoh nasional Indonesia. Dalam pandangan saya bahwa, Kartini sosok tokoh yang netral yang bisa mewakili keragaman kebangsaan Indonesia. Ketika tokoh yang kuat perjuangan Islamnya, tidak diberi ruang yang cukup untuk dipopulerkan secara abadi oleh pemerintah di awal kemerdekaan, supaya tidak ada yang memonopoli, mayoritas dan minoritas bisa rukun bersama. Maka Kartini sebagai tokoh wanita yang tepat mewakili keberagaman Indonesia, sehingga masyarakat dari latar belakang budaya dan agama apapun, bisa menerima Kartini.

3. Ekonomi

Memperingati hari yang berkesan di Indonesia, tidak bisa dipandang hanya dari segi ego budaya. Tetapi faktor ekonomi juga memiliki perang penting. Mislanya banyak meggugat kenapa ada hari batik nasional, yang diidentikkan hasil karya suku Jawa. Bukankah di Indonesia bukan hanya Jawa, tetapi banyak suku dan daerah. Setiap daerah juga memiliki ciri kebuyaan dan karya yang khas, tetapi tidak diperingati. Sehingga sering kita dengar ungkapan, “kalau ada hari batik nasional, kenapa tidak ada hari koteka nasional?”. Koteka pakaian khas papua. Di sini kita tidak bisa hanya memandang dari segi budaya, tetapi banyak faktor lain. Misalnya batik, nilai ekonomis yang sangat tinggi, sampai di berbagai negara peminatnya sangat tinggi, sehingga ketika ada peringatan hari batik, bisa mendobrak nilai jual dan kepopuleran batik. Bandingkan dengan nilai ekonomis koteka khas Papua. Siapa orang dari daerah lain yang berminat membeli dan memasarkannya?. Juga pakaian yang sangat terbuka dan orang lain banyak malu untuk memakainya, atau tanpa uang pun orang bisa buat koteka dengan memanfaatkan SDA yang ada. Begitu pun dengan dipilihnya Kartini sebagai tokoh perempuan yang popular, dengan karyanya bisa diterima bukan hanya umat Islam saja, tetapi berbagai agama dan dari latar belakang manapun, karena dinilai netral. Atau ada maksud lain dari pihak Belanda yang merasa di untungkan ketika Kartini yang dipopulerkan sebagai tokoh wanita yang mewakili zamannya. Tentu hal demikian juga dipandang bersifat ekonomis. Maka kita sebagai pembaca dan generasi yang baik, harus kritis dan tajam menganalisa setiap persoalan. Setiap orang berhak menilai dan menginterpretasi, namun yang terpenting bahwa kita harus lebih banyak melihat dari segi positifnya, sebagai semangat untuk berkarya juga.

4. Kultur

Kultur merupakan gerakan yang bersifat keilmuan dan cenderung lebih mementingkan proses dan karya. Seseorang dikenal ketika mewariskan karya. Sehebat apa pun tanpa karya, tidak akan dikenang abadi pada generasi setelahnya. Karya banyak ragamnya, namun karya tulis bersifat abadi. Karena hasil pikiran dan hati tersampaikan dengan bahasa tulisan. Itu yg membuat Kartini selangkah lebih unggul, meski pendahulunya lebih banyak tokoh-tokoh hebat daripada dirinya. Kartini dalam pandanganku bukan tokoh emansipasi wanita. Tapi tokoh yang mendorong semangat perempuan untuk berkarya, berjuang penuh semangat. Tokoh emansipasi wanita sudah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Banyak sekali hadis nabi yg memuliakan dan mengangkat derajat perempuan. Kartini menjewantahkan warisan rasulullah ini dengan semangat perjuangan dan kebangkitan kaum perempuan atas terpinggirkannya selama berabad-abad yang menyebabkan peradaban tidak terwujud, sebab peradaban terwujud jika dilahirkan dan dididik oleh perempuan hebat. Maka Kartini punya impian supaya perempuan bisa berpendidikan tinggi, punya cita-cita masa depan, berbudi luhur, dan berpikir terbuka.

  • view 222