Sajian bahagia

Farrah Hanum
Karya Farrah Hanum Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 Maret 2016
Sajian bahagia

Aku pernah mendengar sebuah cerita yang menggelitik hati, yang akan selalu teringat ketika hati begitu berat ingin berbagi sesuatu hal yang amat kita senangi. Mari aku ceritakan kembali.

Pada suatu ketika, sebuah keluarga sedang akan menikmati hidangan makan bersama. Makanan yang tersaji di hadapan adalah makanan yang sudah lama diidamkan, begitu menggunggah selera. Tau kan rasanya bahagia seperti apa yang ada ketika makanan yang begitu ingin dimakan tersedia di depan mata dan akan disantap bersama orang-orang tercinta? Bahagia.

Sesaat sebelum akan makan, datanglah seseorang mengetuk pintu. Sang ayah meminta anaknya untuk melihat siapakah yang datang. Ternyata, seorang peminta yang sedang kelaparan yang sepertinya juga tidak mengerti tentang dirinya siapa. Lalu sang ayah mendekati si anak seraya mengajak si tamu tadi masuk dan mencicipi hidangan. Lalu apa yang terjadi?

Mungkin karena terlalu lapar. Dan karena kondisi kejiwaan yang tidak normal lagi. Si tamu tadi langsung menyerbu semua hidangan seakan lupa pada tuan rumah. Lenyaplah makanan di atas meja tadi dalam seketika. Setelah itu, si tamu langsung meninggalkan rumah tadi.

Si anak melirik sang ayah dengan tatapan sedikit merungut lalu bertanya, "ayah, mengapa engkau membiarkan orang itu begitu saja? Aku tau kita diajarkan untuk berbagi. Tapi dia keterlaluan sekali. Tidak mengucapkan terima kasih sama sekali."

Dengan lembut sang ayah menjawab, "duhai anakku, lihatlah dia sudah tak mengerti apa-apa. Tidakkah kau lihat wajah puasnya setelah menikmati hidangan tadi? Iya, kita tak mendapatkan sepenggal kata terima kasih darinya. Tapi ketahuilah, walaupun hidangan tadi berlalu hanya untuk seorang tidak waras dan tanpa sebuah terima kasih, Allah Maha Mengetahui seberapa besar "nilai" hidangan tadi untuk kita. Dan ketika kita belajar merelakannya karena Allah. Percayalah, Allah Maha Adil atas segala sesuatu."

Begitulah kurang lebih. Semenjak mendengar cerita ini. Setiap kali aku merasa berat untuk merelakan segala sesuatu yang aku senangi, maka aku akan mengingat bahwa Allah maha mengetahui seberapa besar harga sesuatu tersebut bagiku. Sehingga aku tak harus merasa kehilangan, tak perlu merasa sedih karena aku percaya, Allah punya sesuatu yang lebih baik.

  • view 60