Aku, kamu dan kita yang pernah ada

Farrah Hanum
Karya Farrah Hanum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
Aku, kamu dan kita yang pernah ada

Sore, hujan, dan perjalanan. Sebuah scene yang begitu pas untuk membuat serangkaian memori tentang  kamu kembali menari di ingatan. 

Sepulang dari stasiun sore itu, sendiri aku menaiki bus menuju kampus. Bus sore itu cukup ramai, aku memilih duduk di kursi yang dekat jendela supaya bisa melihat sore yang sudah dibasahi hujan.

Aku teringat pesanmu beberapa  hari lalu. Kamu bilang, kamu sedang di sebuah kafe dan sekarang sebuah lagu kesukaanku sedang diputarkan di sana. 

Sungguh, pesanmu berhasil mengejutkan aku.

Lama aku berpikir sebelum membuka pesan itu.

Aku berpikir, cukup panjang,  sambil menetralkan kembali rasa yang aku sedang tak ingin kembali mengingatnya.

 Apakah maksud dan tujuanmu mengirimkan aku pesan itu? Tidak tahukah kamu bagaimana usaha yang sudah aku lakukan untuk mencoba menahan laju rasa ingin tahu  aku selama ini tentang kamu? Tidak tahukah kamu seberapa besar aku berusaha untuk sama sekali tidak peduli dengan perasaan kamu? 

Kembali sebuah  rasa yang sulit untuk aku deskripsikan ini datang menjalari hatiku, dan aku juga kembali harus mencari sejuta alasan untuk kembali ke posisi amanku sebelum kamu mengejutkan aku dengan pesan siang itu.

Kamu, lihatlah betapa kamu masih mampu menggoyahkan pertahanan ini.

Tapi lihatlah aku yang sekarang, aku bisa lebih kuat. Aku punya Dia tempat aku mengeluhkan segalanya. Aku semakin belajar memberikan seluruh percayaku padaNya. Iya, Dia yang tak akan melukai hatiku.

Dengan jujur aku mengatakan, aku terluka, karena aku pernah  terlalu bahagia. Dengan kamu.

Masih kuat diingatan perasaanku, bagaimana aku gugup saat hanya melihatmu dari kejauhan, bagaimana aku terkejut saat kamu menyapaku untuk pertama kalinya, bagaimana aku menikmati bercanda dengan kamu meski hanya lewat cuitan di dunia maya, juga betapa bahagia saat kamu mulai mengajak aku berjumpa. Semuanya. Kamu, masih ingat?

Semuanya, aku tak akan bisa lupakan. Namun, bukan berarti pula aku masih menyimpan harap. Aku hanya memilih untuk tidak melupakan apa yang tidak mungkin aku lupakan. Semoga dengan demikian aku bisa menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Kamu juga ya.

Entah apa dan bagaimana yang akan terjadi nanti, aku akan menjalani apa yang sudah aku Allah pilihkan untukku saat ini. 

Percayalah, aku tak menyesali bahwa aku dan kamu pernah menjadi kita. 

Supir bus sudah menyebutkan nama halte bus di kampusku. Saatnya aku turun dan menyudahi cengkrama dengan memori tentang kamu. Baik-baik kamu di sana. 

 

 

 

 

Dilihat 110