Warung (jual) kejujuran

Farrah Hanum
Karya Farrah Hanum Kategori Renungan
dipublikasikan 09 November 2016
Warung (jual) kejujuran

Selamat pagiiii. Eh, udah siang yaaa? Hihihi.

Pernah dengar istilah warung kejujuran kan kan kaaan?

Di sini aku tinggal di ibu kota sebuah perfecture bernama Gifu. Kota ini dikenal dengan hasil kebun-kebunnya, mungkin karena daerah gunung jadi iklimnya cocok untuk pertanian. Salah satu perkebunan yang terkenal di sini adalah buah kaki. Kalau di Indonesia biasanya kita kenal dengan buah kesemek atau persimmon.

Nah, sebenernya cerita warung kejujuran ini bukan hanya untuk buah ini saja, selalu ada di setiap musim dan yang dijual pun beragam. Tetapi, bulan ini lagi musim ini dan aku sempat mengambil gambarnya.

Warung kejujuran. Di sini kita menyebutnya demikian. Jadi, penduduk-penduduk yang punya kebun kecil di sekitar rumahnya bisa membuat pondok kecil untuk menaruh dan menjual hasil kebun kecilnya dengan azas kepercayaan pada pembeli. Jadi penjual menaruh dagangannya, mengelompokkannya, dan menuliskan harganya kemudian pembeli tinggal menaruh uang sesuai yang tertera, masukkan ke plastik sendiri terus pulaang deeh.

Jadi kepikiraan, mereka yang ga kenal Tuhan, mereka yang mulai bingung bedain mana yang agama dan mana yang culture, tapi hampir dari keseluruhan mereka yang pernah aku temui, di daerah yang pernah aku singgahi, mereka bisa jaga kejujuran, bisa menghargai mana yang hak dan mana yang kewajiban, bisa tahu dan memahami batasan: ini milik aku dan ini milik kamu. Aku takjub.

Aku berasal dari sebuah kota di Pulau Sumatera dan dari kecil telah dikenalkan dengan azas "adat basandi syara', syara' basandi kitabullah" artinya adat yang bersendi kan agama, dan agama yang bersandikan pada kitab Allah.

Aku juga seorang warga dari sebuah negara yang semenjak masuk sekolah, setiap senin pagi selalu membaca kalimat-kalimat indah ini: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka seharusnya aku lebih baik dari mereka. Iya, seharusnya kita bisa lebih baik dan lebih keren dari mereka.

Dari beberapa teman, aku dengar di kantor mereka juga ada yang mengadakan warung kejujuran. Jualan kacang goreng, keripik pisang, gorengan dan lainnya. Semoga masih banyak juga di tempat lain. Semoga pemuda dan pemudi Indonesia yang kece-kece saat ini semakin banyak yang menginspirasi sekitarnya dengan jutaan kegiatan positif dan tidak tertarik untuk ikutan saling menyalahkan atas pelbagai keadaan yang tidak mengenakkan.

Yang telah terjadi, mari kita jadikan pelajaran. Dimulai dari hal kecil, dimulai dari sekitar kita. Mari kita jangan pernah kalah dan tidak pesimis bahwa kita masih punya banyak hal dan banyak alasan untuk menjadi lebih baik di hari besok, di tahun selanjutnya, di masa depan.

Semangat berbagi kebaikan. ☺️☺️☺️

  • view 242