Kita yang pelupa.

Farrah Hanum
Karya Farrah Hanum Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 September 2016
Kita yang pelupa.

Sore tadi, hujan dan sambil menikmati segelas cappuccino, aku berbincang dengan seorang adik. 

-----

Perempuan ini susah ditebak ya, kak. Begitu celetuknya.

Nah, kamu juga termasuk di dalamnya ya dek? 

Iya, kak. Tidak salah lagi. 

Hahahaha. Jadi, ada cerita apa?

Kak, berjuang di jalan yang benar itu susah yaa. Aku menikmati hari tanpa komunikasi ini dengannya. Seperti niatku untuk memulai ini dengan cara yang benar. Namun, melihatnya dari kejauhan, kenapa aku malah marah dan kesal tak menentu. 

Kenapa? 

Aku kesal seolah dia tak pernah mengenal aku. Aku cemburu ketika seorang lain terlihat mendekatinya. Dan masih banyak lagi rasa tak menentu yang hadir, padahal aku tau ini hanya ke-baper-an tak beralasan.

Itu setan lagi menjalankan tugasnya, dek.  Mereka ga suka lihat kita di jalan yang baik. Lawan ya, dek. Enak aja kita bisa kalah secepat ini. 

Kaaaak. Ga boleh ngelucu. 

Kakak, ga ngelucu dek. Ngelawak aja.

ihhh.

Dek, percaya kan kalau kisah kita ini sudah dituliskan? Percaya juga kan kalau apapun yang kita usahakan akan mendapatkan hasil yang setimpal. Janji Allah itu, dek. 

Iya. Timbangan dan perhitunganNya adalah yang paling adil ya kak. 

Benar. Sekarang, kita lanjutkan saja perjuangan ini. Perjuangan ini bukan untuknya. Ini untuk diri kita sendiri. Siapapun yang akan kita temui nanti di akhir cerita, dia adalah hasil dari usaha terbaik kita. 

Terima kasih, kak. Ini hal biasa sekali ya. Semua kita sudah tau. Tapi, ada saat kita perlu mendengarkan ini lagi dari mulut orang lain. Untuk diingatkan. 

Ingatkan kakak juga ya nanti. 

-----

Aku meneguk tetes-tetes cappuccino terakhir di gelasku sambil bergumam dalam hati, "peringatan tadi tak lebih adalah nasihatku untuk diri sendiri".

Beginilah seharusnya kita manusia, ada untuk saling mengingatkan karena kita lebih sering lupa.   

  • view 209