Mari membuat "jarak"

Farrah Hanum
Karya Farrah Hanum Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 April 2016
Mari membuat

Ini tulisan saya posting di Januari lalu di saat sedang pusing-pusingnya dengan deadline thesis.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya sedang berkuliah di salah satu perguruan tinggi di salah satu negeri empat musim ini. Sore itu, udara cukup dingin, sebelum maghrib, saya keluar lab sejenak untuk refresh-in mata dari komputer. Sambil lihat sesuatu juga sih. Hahaha.

Hari ini tu seharusnya nyelesaiin perbaikan presentasi yang diminta ama senpai kemaren buat besok dipresentasikan ke senpai. Ide-ide perbaikan dan apa yang mau ditulis itu rasanya udah ada numpuk dalam kepala. Tapi karena numpuk gitu, jadi bingung dan malas. Entah bingung mau mulai dari mana, entah malas karena apa. Yang jelas, ini harus segera dituntaskan. Hiuuh.

Barusan, sambil chattingan terus curhat kalo lagi malas dan stuck, tetiba kepikiran tentang tumpukan perkakas yang harus dibersihkan di gudang belakang rumah waktu liburan kemarin. Rasanya, menyelesaikan hal yang menumpuk di dalam kepala itu sama hal nya dengan menyelesaikan tumpukan perkakas tersebut. Kalau cuma dilihat aja, ya itu perkakas ga akan kemana-mana. Ga akan bersih sendiri. Ga bakalan rapi sendiri juga. Iyakan iyakan?

Nah, langkah pertama yang harus diambil adalah isi amunisi. Kamu bakal butuh energi yang banyak bukan. Baik untuk mikir atau pun untuk kerja. Hahaha. Lalu, melangkahlah. Dekati dan mulai rapikan satu sudut. Karena kamu butuh ?space? untuk mulai menata mereka. Ketika ?space? tersebut terisi akan ada "space" lain yang tercipta untuk menempatkan bagian selanjutnya. Begitu seterusnya, hingga tidak terasa semua yang tertumpuk tadi tertata satu persatu.?

Begitu juga hal yang menumpuk di kepala ini. Mulailah. Selesaikan satu poin agar ia tidak berserakan diantara yang menumpuk, sehingga menciptakan ruang baru untuk menata poin lain.

Benar juga apa kata mbak Dee. Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi. Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?

So? Mari melanjutkan perjuangan. Tetap semangaaat yaaaa!!!

  • view 114