Gadis yang Selalu Patah Hati

Farina Amelia
Karya Farina Amelia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Gadis yang Selalu Patah Hati

Loncat kayaknya keren nih. Kaki kiri patah. Tangan kanan patah. Sekujur badan lecet. Leher patah. Lalu jatuh ke sungai dan tenggelam. Cara bunuh diri yang mengesankan!” entah setan dari mana bersuara di kepalaku, memberi usul agar aku meloncat dari tebing Bukit Langara ini. Memandang ke bawah saja nafasku terasa sesak dan kakiku langsung gemetar, apalagi meloncat.
Mumpung tidak ada yang memperhatikan. Paling nanti kamu dikira terpeleset. Loncat saja. Jaminan mati kalau loncat dari sini!” sekali lagi setan itu bersuara kepadaku. Ah, seandainya mati bisa menghilangkan gundah gulanaku. Tahu aja si setan kalau aku habis patah hati, untuk kesekian kali.
Sekali lagi aku memandang ke bawah. Terlihat hamparan perbukitan dan aliran sungai Amandit mengalir di bawahnya. Pemandangan yang begitu asri dan menenangkan.
Tempat yang sempurna untuk mengakhiri hidup,” Lagi-lagi setan itu bersuara di kepalaku.
“Woi, jangan bilang kamu lagi berpikir untuk meloncat dari sini, ya. Mau mati konyol gara-gara patah hati? Baru tahu kalau sahabatku otaknya cuma sampai dengkul,” Ollie membuyarkan suara-suara yang ada di kepalaku.
“Bikin kaget aja. Aku bisa jatuh tadi gara-gara kamu kagetin.”
“Takut mati juga kamu ternyata. Syukur deh kalau gitu. Aku pikir kamu beneran mau bunuh diri disini. Berkali-kali aku liat kamu ambil ancang-ancang mau loncat gitu.”
“Masa sih? Perasaan kamu aja kali. Aku lihatin pemandangan di bawah saja, kok,” Aku berusaha menghapus suara-suara yang sebenarnya memang menyuruhku untuk meloncat. Bunuh diri. Gara-gara patah hati.
“Turun, yuk! Balik ke penginapan. Ngeri aku kelamaan disini. Lama-lama aku malah yang kepikiran buat loncat,” aku mengiyakan ajakan Ollie sebelum akhirnya kami berdua berniat untuk sama-sama meloncat di tempat ini.
------------------------
Malam yang cerah untuk jiwa yang sepi
Kerlip milyaran bintang pun tak bermakna
Hanya dapat dipandangi, tak dapat diajak berbincang
“Berbincang sama bintang. Aku kamu anggap apa?” aku mengintip untaian puisi yang ditulis Ollie di buku hariannya.
“Sepi ya, Dis. Gak ada yang nanya lagi ngapain, sudah makan belum, jangan tidur larut malam ya. Aku kangen diperhatiin,” tanpa dapat ditahan air mata mengalir dari kelopak mata Ollie yang sipit tapi memiliki bulu mata yang panjang.
“Trus kita pergi kemana dong biar gak merasa kesepian kayak ini? Pergi ke pub buat clubbing sampai pagi? Nyium bau rokok aja langsung susah nafas,” ucapku berusaha menghibur Ollie. Bukannya berusaha menghapus air matanya, aku pun ikut larut dalam tangis.
Kami merebahkan diri di teras kamar tempat kami menginap sambil menatap milky way dengan milyaran bintang-bintangnya. Sesekali menangis bersama. Lalu tertawa bersama. Menangis lagi. Tertawa lagi. Sungguh malam liburan yang absurd bagi kami.
Aku dan Ollie menjadi sahabat sudah sejak lama. Oleh karena itu, kami sudah melewati banyak hal bersama. Tertawa bersama, menangis bersama. Berbagi kisah saat jatuh cinta. Berbagi gundah saat patah hati menerpa. Seakan cupid tak pernah mau berlama-lama di dekat kami. Entah apa sebabnya.
Ollie baru ditinggal kekasihnya menikah dengan perempuan lain. Selama enam bulan berpacaran, ternyata Ollie hanyalah selingkuhan. Hal ini kami ketahui sebulan yang lalu. Hari ini tadi adalah hari dimana mantan kekasihnya itu melakukan akad nikah. Sedih? Ollie masuk rumah sakit dan harus diopname selama 3 hari akibat patah hatinya ini. Rekor patah hati paling mengenaskan yang dialami Ollie. Hikmah kejadian ini, berat badannya turun 5 kilogram, hal yang sulit Ollie dapat karena diet adalah hal berat baginya yang amat suka makan gorengan.
Sedangkan aku? Tidak semengenaskan Ollie sih. Jangankan selingkuhan, kekasih pun aku tak punya. Lama menjombloku saja sudah mencapai usia 10 tahun. Lalu ngapain saja aku selama 10 tahun itu? Jawabnya, aku selalu saja di-PHP laki-laki. Entah kenapa berkali-kali patah hati tidak membuat orientasi seksualku berubah menjadi penyuka perempuan saja. Bagiku laki-laki tetap makhluk paling menarik di dunia ini. Menarik untuk dipandang, didekati, juga dicintai. Namun entah mengapa sejauh ini tidak ada yang singgah lama di hatiku. Aku seakan hanya tempat transit sebelum mereka sampai di pelabuhan.
------------------------
Gadis…
Oiii…
Malam ini aku kencan!
????!!
Ada matchesku yang ngajak ketemuan. Semoga cocok ya. Wish me luck!
Lalu chat Ollie kembali menunjukkan tanda busy.
Belum juga aku nanya banyak anak itu sudah kembali larut dengan pekerjaannya. Ntar habis kencan paling dia cerita. Tunggu aja. Ah, tapi kenapa matchesku masih kosong? Selama 4 bulan join di situs perjodohan belum satu pun aku dapat matches yang klik. Ada yang oke tapi jauh lah. Ada yang dekat tapi bikin ilfil. Lah, Ollie baru mendaftar dua minggu sudah ada yang ngajak kencan. Aku iri. Hikss…
Kalau ada yang bilang aku dan Ollie amat pemilih dalam menentukan pasangan hidup, sini kami balik tanya. Apa saat kalian menentukan pasangan hidup juga gak pakai acara milih? Langsung nemu di jalan tanpa banyak pedekate atau proses taaruf langsung diajak nikah? Pasti nyari yang cocok dan nyaman dulu kan? Bedanya pilihan kalian tidak sesulit kami. Sudah ada di hadapan. Sudah kalian pacari. Sedangkan kami? Boro-boro dipacari, baru pedekate saja sudah ditinggal pergi. Alasannya: ketuaan lah (dekat sama brondong), terlalu mandiri lah (karena kami wanita karir), tukang ngelayap lah (kami sama-sama hobi travelling), dan entah alasan apa lagi yang kadang tak diucap karena pergi begitu saja tanpa penjelasan.
Kalau kami pemilih, tidak akan kami memelas minta bantuan teman untuk dikenalkan dengan temannya yang juga masih single. Tidak akan juga kami join di situs perjodohan. Teman kami banyak kok. Tapi ternyata tidak menjamin kami lekas mendapatkan pasangan hidup. Kenyataan yang memang mengenaskan.
Aku dan Ollie kadang berpikir, apa kami kurang menarik? Apa kami terlalu pasif atau mungkin terlalu agresif sebagai perempuan? Ada orang jahat yang mengirim sihir ke kami sehingga sulit mendapat jodoh? Atau memang belum waktunya saja?
Jodoh takkan lari! Jalan saja pelan, pantaskan diri. Nanti pemiliknya yang Maha Pengasih yang akan mengantarkannya padamu.**
Tunggulah cinta dengan ketaatan maka orang yang taat akan menjemputmu dengan cinta.**
Jodoh pasti bertemu. Bahkan lebih. Dia akan datang mengalahkan jarak yang jauh, tak peduli seberapa hartanya, tinggi rendah jabatan sama saja. Status sosial tak jadi soal. Karena jarak, harta, jabatan dan status sosial bukanlah yang mengatur jodoh. Jodoh itu Allah yang mengatur. Meskipun kita juga harus berusaha. Tapi yakinlah, jarak, harta, jabatan dan status sosial tidak akan berlaku ketika Allah berkata: “Dia Jodohmu.”**
Gadis…
Oiii…
Weekend kamu gak ada kegiatan kan?
Hibernasi di kamar aja.
Nyalon yuk…
Kamu gak ada jadwal kencan kah?
Orangnya nyebelin. Belum apa-apa udah mau main pegang. Pegang tangan lah. Pegang pundak lah. Risih banget!
Hahahahahahahaaa…
Aku jemput! Awas kalau kamu menghilang terus besoknya dengan muka memelas bilang lupa atau gak tega nolak saat ada yang jemput buat ngajak kemping.
Ok, darling!
Nanti, kalau aku dan Ollie sudah mendapatkan pasangan hidup akan kulanjutkan cerita ini.
 
 
 
**kata-kata ini bukan aku yang bikin (hasil copas)

  • view 241