Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 24 Agustus 2017   07:48 WIB
USPS - #1

A Useless Apologies - Bagian 1

 

Ferdi Saputro. Name tag yang tersemat di jas putih dokter itu nampak jelas sekali. Di malam hari, dokter tampan itu sedang meminum segelas kopi panas di sebuah kafe yang ramah pengunjung. Tidak seperti para pelanggan yang meminum kopi paduan susu, dia hanya meminum kopi hitam plus gula, dan rasa gelisah yang ada dalam dirinya.

Ya, dia ingin menghabiskan malamnya di kafe yang hening dengan alunan musik piano yang mengena di hati. Namun alunan musik instrumen piano itu tidak sesuai dengan perasaan yang dialami oleh Ferdi. Harusnya manajer kafe memutar lagu yang bikin menyesakkan, agar suasananya bisa pas seperti yang ia rasakan. Dan kopi hitam mewakili perasaannya saat ini.

Apa yang membuatnya menjadi sangat gelisah?

Saat itu ia teringat akan sesuatu. Kejadian dua minggu yang lalu.

* * *

"Apa yang terjadi pada pasien?" Ferdi langsung masuk ke kamar Mawar No. 7 ketika seorang pasien mengalami kondisi yang gawat.

"Tidak tahu, dok. Sejak pasien ini dioperasi lima jam lalu, aku tidak tahu kenapa dia bisa kejang-kejang begini." Rekan kerja Ferdi berbicara dengan tempo cepat sambil menangani pasien yang kejang-kejang itu.

"Kau tadi kasih obat apa?"

"Hah? Bukannya Anda yang memberikan obat itu?"

"Obat apa, ya?" Ferdi berpikir sebentar, dan ia mulai mengingatnya. "Aku harusnya memberikan dia obat antibiotik profilaksis. Tapi kenapa pasien ini tiba-tiba mengalami kejang-kejang?"

"Apa Anda memberi obat yang salah?"

"Tidak, sungguh aku memberinya obat itu sebelum melakukan pembedahan. Mana mungkin dia sampai kejang-kejang begini!" Ferdi berusaha membuka baju rumah sakit yang dipakai pasien itu untuk memberinya pertolongan pertama.

Ferdi dan rekan kerjanya itu sedang berusaha menangani pasien itu. Namun sayang keadaan malah makin gawat. Pasien mengalami sesak napas akut. Bahkan tempo napasnya juga cepat.

Ferdi masih berusaha mengobati pasien itu. Ya, pasien yang bernama Pak Dirnobudi itu adalah pasien yang dioperasi oleh dokter bedah Ferdi. Namun usaha demi usaha sudah Ferdi lakukan, namun belum kunjung reda juga.

Dan hingga pada puncaknya, sesak napas pasien itu berhenti. Alih-alih lega, Ferdi malah melihat posisi kepala itu sudah dimiringkan ke samping.

"Apa dia sudah mati?" Ferdi mencoba mendekatkan jari telunjuknya pada hidung Pak Dirno. Namun ia tidak merasakan udara keluar di hidung pasien. Itu berarti pasien itu dinyatakan meninggal.

"Dia--dia sudah mati? Dokter Ferdi, Anda juga menyadari itu?"

Ferdi malah duduk lemas di lantai, menyaksikan kejadian yang tak pernah ia alami sebelumnya. Padahal ia dipercaya sebagai dokter bedah terbaik di RS Prima Medika. Namun sayang karirnya harus hancur gara-gara ini. Terlebih lagi pasien itu adalah ayah dari Raihan, sahabat karibnya yang juga adalah seorang dokter.

"Jangan sampai Raihan tahu tentang ini. Kalau Raihan tahu, dia pasti akan marah padaku."

Ferdi cepat-cepat pergi dari kamar itu tanpa peduli akan apa pun.

"Dok... Dokter Ferdi! Mau ke mana?"

Ia tak peduli seruan temannya dan malah lari dari tempat itu. Ia tak ingin Raihan tahu akan hal ini. Namun tidak ada lagi usahanya untuk menutupinya, karena Raihan juga bekerja di RS Prima Medika. Jadi Raihan pasti tahu siapa yang mengoperasi ayahnya.

"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?" Ferdi mengucap kata-kata itu berulang kali. Sambil minum air di sebuah ruangan.

* * *

 

Karya : Ari Usman