[Book Review] Perahu Kertas

Farichatur Royyana
Karya Farichatur Royyana Kategori Buku
dipublikasikan 04 Februari 2016
[Book Review] Perahu Kertas

"Maybe that's all that we need is to meet in the middle of impossibilities. Standing at opposite poles, equal partners in a mystery".

Ini sebenarnya hanya resensi suka-suka, saya menuliskannya kembali karena sedang bangun hati (lagi) dengan karya Dee, Perahu Kertas.

Tak heran jika novel ini jamak disukai banyak kalangan, karna memang manis alur dan konflik yang disajikan, serta perjalanan tokoh-tokohnya dalam menemukan jati diri dan memperjuangkan mimpi mereka. Terlebih proses dibalik layar dalam penggarapan buku ini yang dipaparkan pada bab akhir "Melajulah Perahu Kertasku.." Saya kira ini menarik karena menyajikan point of view lain sehingga saya mendapatkan klimaks yang cukup memikat.

Menurut saya, buku ini layak mendapat lima bintang penuh karena menginspirasi, juga mengandung nilai-nilai positif yang bisa diambil pelajarannya. Seperti ketika Dee membahas 'Reality Bites' serta menceritakan perjalanan karirnya sebagai penulis, terlebih saat menulis buku ini.

"Reality Bites mengisahkan tentang sarjana-sarjana kemarin sore yang harus menghadapi realitas hidup antara mencari kerja demi eksistensi dan mempertahankan mimpi demi idealisme. Barangkali timing yang tepat karena pada saat itu pun saya sedang jadi mahasiswa. Saya merasa terketuk dengan isi film itu. Setiap dari kita mempunyai mimpi, punya hobi, dan punya kata hati, tapi tak semua dari kita menjadikannya profesi". Ungkapnya.

Potongan kalimat Dee yang terakhir di atas membuat saya menyadari beberapa hal, saat ini, di sekitar saya masih tak banyak yang berani mengambil langkah besar untuk percaya pada apa yang menjadi mimpi-mimpinya. Merealisasikannya. Bekerja menurut passion, kata hatinya. Terjebak ditengah-tengah dan tak berani menanggung resiko seumur hidup. Karena memang, berjalan dari nol nyatanya tak semenyenangkan gaji yang di dapatkan oleh pegawai di luaran sana. Tapi, saya yakin siapa saja yang pernah berjalan sendiri dalam sunyi, percaya pada mimpinya, kepuasan hati yang didapatkannya setelah itu tak bisa dibayar dengan apapun. Sebagai seseorang yang masih mengenyam bangku sekolah hingga saat ini, berada dalam titik dimana rasanya berat sekali jalan untuk mendapatkan gelar profesi dari institusi, akan tetapi juga bertahan mempertahankan idealisme pribadi untuk berkarya menurut kata hati sendiri, rasanya memang benar-benar luar biasa. Tapi setidaknya apa yang sedang saya selesaikan saat ini akan menunjang mimpi yang ingin berwujud pasti suatu hari kelak; Bekerja bukan untuk mengutamakan uang, tapi bekerja bersama teman-teman untuk bahagia yang kau bawa sampai mati, juga bermanfaat untuk banyak orang.
Salah mengambil keputusan tak selalu buruk, setidaknya ada kesempatan belajar untuk lebih mengenali diri sendiri. Ya, semoga kita semua bisa. Belajar dan menguat bersama.

"Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan. Ujung-ujungnya kita juga tahu, mana yang diri kita yang sebenarnya, mana yang bukan diri kita, dan kita juga tahu apa yang mau kita jalani". - Keenan

Apakah kita harus jadi orang lain dulu kemudian jadi diri sendiri?

***

Proses perjuangan Dee ketika menyelesaikan buku ini juga patut diacungi dua jempol. Kweren. Sebab memang, meyakinkan orang lain atas apa yang kita hasilkan memang tak semua mampu menerimanya. Perjuangan untuk mendapatkan sebuah apresiasi memang jalannya tak sebentar, kudu kuat kudu mau kebanting-banting, kudu lapang dilihat sebelah mata. Saya pun jadi tergelitik dengan usahanya untuk memotivasi diri sendiri dengan membuat sebuah project bunuh diri, namanya. Yakni menulis novel sepanjang 75.000 kata dalam waktu 55 hari. Apa yang Dee lakukan membuat saya sedikit resah. Hal itu lagi-lagi mengingatkan saya bahwa dalam menyelesaikan sesuatu memang sepatutnya dengan totalitas. Menchallange diri sendiri untuk hasil yang maksimal. Sebab akhir-akhir ini saya merasa kurang optimal dengan apa yang sedang saya selesaikan.

Mudah-mudahan buku ini juga menginspirasi berjuta orang diluar sana yang juga sudah mengatamkannya.

Pada akhirnya, lebih baik terlambat tahu mau berjalan kamana daripada tidak mencarinya sama sekali.

Sruput teh panas~

Selamat pagi, hujan. Jadi rindu...
Sama kamu ????

Oh ya lupa.. I must be surprised karna Dee ternyata suka juga sama Indigo Girlnya Watershed haha :D Apeu lah mbak

Dilihat 263