[Book Review] Seribu Malam untuk Muhammad

Farichatur Royyana
Karya Farichatur Royyana Kategori Buku
dipublikasikan 28 Agustus 2016
[Book Review] Seribu Malam untuk Muhammad

"Ada seorang anak, saat dia masih dalam kandungan, Ayah tercintanya pergi selama-lamanya. Yatimlah dia. Aduh, bagaimana beratnya perasaan Ibunya, sedang kepayahan hamil, suami meninggal. Dan bukan itu saja, suaminya meninggal di kota lain saat melakukan perjalanan perdagangan. Jaman itu, orang-orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain hanya mengandalkan kaki, kuda dan hewan ternak lainnya. Jadi jarak ratusan kilometer, harus ditempuh hitungan hari bahkan minggu. Maka sang suami dimakamkan di kota lain itu, jauh dari orang-orang yang dicintainya. Tidak sempat menatap wajah untuk terakhir kalinya, tidak sempat menyentuh pusara merahnya.
 
Beberapa bulan berlalu, lahirlah si kecil yatim ini. Betapa bahagianya Ibunya. Tidak terbilang rasa bahagia itu meski dengan segala keterbatasan yang ada, meski dengan segala kesusahan. Dibesarkannyalah anaknya dengan kasih sayang, hingga usia enam tahun, saat si kecil sudah bisa diajak berpergian, diajaklah si kecil ke kota lain tersebut, melihat pusara Ayahnya. Seseorang yang tidak pernah dilihatnya. Jaman itu, tidak ada kamera, tidak ada foto. Penting sekali mengajak anaknya yang enam tahun melihat pusara Ayahnya.
 
Usai menjenguk pusara Ayahnya, Ibu dan anak kecil ini kembali ke kota mereka. Tapi takdir berkata lain, Ibunya jatuh sakit saat dalam perjalanan. Itu sungguh perjalanan jauh, melelahkan, melintasi medan berat dan bisa membuat orang jatuh sakit. Ibunya yang jatuh sakit ternyata meninggal. Si kecil yang baru berusia enam tahun menjadi yatim piatu. Tidak punya Ayah, tidak punya Ibu, dia terpaksa sendirian pulang ke kota kelahirannya. Meninggalkan pusara Ibunya yang masih hangat, persis saat dia baru saja diajak melihat pusara Ayahnya. Lihatlah, dia menumpang rombongan lain untuk pulang.
 
Malang nian nasib anak kecil ini, bukan? Dia akhirnya dibesarkan oleh kakeknya. Dia harus bekerja keras sedari kecil. Menjadi penggembala di padang rumput meranggas, dengan matahari terik menyiram sejauh mata memandang. Tapi sungguh, apakah memang malang nasibnya? Yatim piatu? Menyaksikan kepergian Ibunya? Tidak pernah mengenal Ayahnya?
 
Tidak. Ukuran malang dan tidak versi manusia sungguh berbeda dengan versi langit. Maka, jika kau tidak paham juga, apa beda versi kemalangan ini, silahkan baca ulang kisah ini dari awal. Baca dari paragraf pertama, dari kalimat pertama, tapi sekarang ganti anak kecil itu dengan sebuah nama dari seseorang yang amat mulia, nama seseorang yang bahkan saat saya mengetikkan cerita ini, membuat berkaca-kaca kelopak mata, itulah kisahmu Rasul, Nabi Muhammad. Kisah seorang anak yatim piatu."
 
 
...
 
"Azalea, tak ada perjalanan yang mudah, tak ada temuan yang sempurna, seperti tak pernah ada keputusan yang sempurna"
 
Sekitar dua tahun lalu, saya mengenal Fahd Djibran lewat social media. Postingan-postingannya yang sarat makna memberikan motivasi positif bagi pembaca. Alih-alih mengabaikannya, saya menjadi penasaran dan menemukan sebuah project yang ia garap bersama adiknya. Ia membuat musikalisasi dari buku yang ia tulis, serta membuat video inspiratif yang kemudian diunggahnya di Youtube. Pada suatu malam yang kepagian, saya terjebak di sana dan lupa jalan pulang :p
 
Setelah kejadian tersebut, saya mulai mencari karya-karya mas Fahd, begitu saya biasa memanggilnya, ini sok akrab saja sih. Hehe. Dan di salah satu video yang dia unggah, saya terhenyak dengan salah satu video yang berjudul "Menatap Punggung Muhammad". Mas Fahd membacakan puisi tersebut dengan sangat indah, terlebih didukung oleh backsound yang sangat pas. Hati saya berdesir, dan mata saya mulai berkaca-kaca. Perasaan yang entah.
 
Sekitar 2015 awal lalu, saya baru menemukan buku ini. Dan sungguh merasa beruntung karena berkesempatan membacanya. Buku ini sebenarnya adalah kumpulan surat yang dibukukan. Bukan tentang kisah hidup Rasulullah SAW, akan tetapi tentang perjalanan seorang lelaki non-muslim yang meninggalkan kekasihnya, Azalea, untuk mencari tahu perihal kebenaran mimpinya.
 
Fahd Djibran menuliskan buku ini dengan baik, walaupun pada akhir cerita saya sempat mengerutkan dahi apakah buku ini murni karangannya atau seperti yang ia paparkan di halaman terakhir, bahwa buku ini awalnya adalah kumpulan surat yang ia dapat dari seorang wanita yang datang menemuinya dan pada akhirnya ia mendedikasikannya menjadi sebuah buku.
 
"Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?"
 
Pertanyaan itulah yang menjadi awal mula bagaimaan seorang pemuda non-muslim memulai sebuah pencarian, tentang Nabi kita, Muhammad SAW. Hatinya bergetar, rasa penasaran yang besar muncul dalam dirinya. Bagaimana bisa seorang non-muslim seperti dia dijumpai (yang ia rasa itu adalah) Rasululllah. Semakin ia ingin melupakan mimpi itu, yang terjadi malah sebaliknya. Kemudian ia memutuskan untuk berhijrah, melakukan perjalanan, dan itu berarti ia harus meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya, Azalea. Perasaannya ia redam meski sedikit berat, karena ia percaya bahwa keputusan yang ia ambil adalah tepat, bahwa mimpi yang ia alami adalah benar, meski ia harus meninggalkan Azalea. Meski ia harus melipat rindu dengan kekasihnya. Demi perasaan lebih dekat dengan Kekasih yang sejati, keyakinannya kepada Kekasih Allah, Muhammad.
Barangkali memang begitu, seseorang bisa saja menebalkan kaki untuk melangkah pergi lebih dulu karena alasan yang menurutnya benar. Meski di sisi lain, ada orang yang diam-diam menangisi kepergiannya. Ia tahu itu, tapi tetap saja tak goyah. Jika ia cinta dengan Tuhannya, maka biarkan saja jalan cerita menentukan sendiri alurnya. 
 
Buku ini kental sekali dengan nuansa spiritual. Banyak yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Kamu akan tahu bagaimana menjadi seorang muslim yang lebih baik dibanding sekarang. Dengan Ihsan yang kau bangun melalui orang-orang yang ada disekitarmu, juga dalam dirimu sendiri.
Kebaikan adalah pembuktian keimanan yang sanggup melampaui keimanan itu sendiri. Melampaui batas-batas agama. Saat kau menjadi orang beriman, kau akan memiliki identitas tersendiri-kita tahu bahwa ada seseorang dengan keimanan yang berbeda. Tetapi saat kita berniat baik, kita tak perlu melihat identitas-keimanan orang lain-sebab kebaikan sesungguhnya selalu melampaui iman. itulah sebabnya menyingkirkan duri dari jalanan merupakan pembuktian keimanan yang dianjurkan oleh Muhammad. Hal ini mengingatkan saya bagaimana kebaikan kecil yang kita lakukan sehari-hari, walaupun menurut kita tidak terlalu penting, sesungguhnya memiliki dampak yang (mungkin) besar untuk hayat hidup orang lain. Hubungan sebab akibat. Karena kita semua, manusia, sesungguhnya terhubung satu sama lain. Bahwa apa yang kita kerjakan akan kembali kepada kita lagi, entah pada level yang keberapa.
 
Diungkapkan juga dalam buku ini, bahwa iman hanya akan berdampak bagi diri sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat-bagi-semesta-alam. Muhammad menyebutnya, rahmatan lil 'alamin. Aku, kata Muhammad, sesungguhnya diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta. Melakukan kebaikan kepada orang lain lebih dari seperti melakukan kebaikan kepada diri sendiri. Pemaknaan yang kerap dijadikan rujukan oleh sejumlah tarekat, kelompok spiritual dalam Islam. 
 
"Teruslah memberikan kebahagiaan kepada orang lain lebih dari apa yang membahagiakanmu"
 
Tiba-tiba hati menjadi biru. Sedih. Malu. Sebagai seorang muslimah sepertinya saya masih belum sepenuhnya meneladani apa yang Rasulullah ajarkan.
Kapan akan ambil bagian?
Menjadi manfaat bagi orang-orang disekitar?
 
Melalui pemuda yang menjadi tokoh utama dalam buku ini, saya bisa belajar. Juga disentil. Bahwa banyak yang belum saya tahu tentang Rasulullah. Tak sedikit umat muslim yang saking ingin bertemunya dengan Rasul, seseorang sampai berupaya melakukan ritual tertentu. Tetapi, Rasulullah memilih hadir dalam mimpi seorang pemuda non-muslim.

Lagi-lagi mata menjadi sendu.
Tak terukur kiranya jarak yang kita lipat.
Salam rinduku padamu ya Rasul.
 
 
***
 
 
“Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?”

Aku masih mengingat kata-kata itu, Azalea. Aku masih mengingat wajahnya : Muhammad, dengan senyum yang tulus.

“Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”