Sakit Sebagai Ujian

Sakit Sebagai Ujian

farhah hadi
Karya farhah hadi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2016
Sakit Sebagai Ujian

Tubuhku mulai hangat, kepalapun tak kalah pusing. Beberapa hari yang lalu aku berfirasat "sepertinya besok aku deman". Ternyata aku tidak begitu pintar meramal, nyatanya pagi itu aku masih segar. Tak ada yang mengganggu kecuali gerimis yang dengan lihai memcoba membuatku yakin sekali lagi "kau akan segera sakit" ia mengguyur sepanjang jalan saat aku pulang mengajar.

Esoknya, ternyata gerimis juga tak sehebat kukira, tubuhku yang basah kemarin siang tidak mengganggu pagiku hari itu. Aku jadi sedikit girang, berpikir " sepertinya aku tidak mendapat  jadwal sakit tahun ini".

Entahlah, pagi ini suhu tubuhku masih normal, hanya sedikit leher dan tangan yang terasa pegal saat pagi. Tak berfikir buruk, aku pergi mengajar, di kelas suaraku mulai parau . Aku tak sesemangat biasanya. Pulang mengajar, aku menyempatkan diri melayat kerumah teman yang buyutnya berpulang jam 2 malam tadi. Masih tak menyangka, belum setengah perjalanan kami diguyur hujan, kali ini ia kejam, membuat kami harus berteduh beberapa saat. Sorenya, tubuhku antara panas dan dingin? Aku tak melepas jilbab sejak pulang karena dingin, juga tak sanggup bersetuhan dengan lantai karena dingin.

Satu jam sebelum iftar, ibu memeriksa tubuhku, "pergilah berobat ke bidan desa". Masih merasa sanggup mengendarai kereta, namun tak pernah selambat ini. Aku menggigil di jalanan. Tiba di tempat, rumah bidannya kosong. Memang sudah nasib.

Sekarang aku menulis ini, meyakinkan diri akan bagun dengan segar kembali esok dan berangkat mengajar seperti biasa.

Sakit adalah ujian, kadang kita yang mengundangnya dengan firasat dan pikiran negatif seperti saya. Kadang juga rasa ujub karena tak pernah terbaring sakit. Kadangpun merupakan ujian spesial dari yang kuasa semoga kita lebih bersyukur. Apapun sebabnya, tetap jalani dengan sabar dan energi positif. Karena sakit bukan sekedar darah yang mengalir pada lukamu, tangis yang memecah hening ataupun kulitmu yang terbelah dioprasi. Sakit tak sesederhana itu. Ia adalah sarana pelipur dosa dan terkadang pulangnya suasana yang hangat bagi siapapun yang ditinggal. Untuk itu, berdoalah semoga kita menjadi hamba yang lebih tangguh seusai sakit.

Teramat spesial bagi siapapun yang kadang marah ketika sakit, semoga tulisan ini menjadi bagian dari sembuhnya dirimu.

Salam beserta doa, Farhah yang sedang diuji.

  • view 271