Satu Pria dan Empat Wanita

Farah Awaliyah
Karya Farah Awaliyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2016
Satu Pria dan Empat Wanita

Suatu malam pernah saya duduk di halte. Bukan menunggu angkutan datang, melainkan menikmati kebersamaan yang hari itu hampir saja berakhir. Membicarakan (baca : mengeluhkan) satu demi satu masalah. Mengingat satu demi satu fase kehidupan yang kian berlalu. ?Harusnya aku sadar dari dulu, bahwa dia tak bisa memberikan apapun,? ujarnya dengan gamblang. Saya tak berkomentar banyak. Tak menyangkal, juga tak menyulut. Saya hanya mengangguk, mengelus punggung tangannya. Lantas kami sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama. Kulihat ia menatap seberang jalan dengan tajam, namun pandangnya kosong. Tentu saya faham betapa hakikat hidup yang satu demi satu terkuak lantas memberinya secercah harapan baru. Membuatnya rindu akan belai tangan Ilahi, yang tentu diharapnya hadir juga pada hati malaikat penaungnya dari bayi. Kemudian saya berucap, ?bukankah sudah jadi tanggung jawabmu untuk membawanya dekat pada Ilahi Rabbi? Bila kelak tak ada kau sebagai pengingat mati, lantas siapa pantas disalahkan-Nya? Bukankah satu dari empat wanita yang kau tanggung baik-buruknya adalah ibumu??

?dariku, satu dari empat wanita itu (segera?)

  • view 152