Surat Untuk Ibu(-ku)

Farah Awaliyah
Karya Farah Awaliyah Kategori Puisi
dipublikasikan 27 Januari 2016
Surat Untuk Ibu(-ku)

Memang tak mudah meyakinkanmu, Bu. Aku tahu itu.

Bagiku, tujuh tahun penuh cerita belum cukup untukku bawa bukti dengan sekedar berucap bahwa aku mencintai puteramu.

?

Mungkin aku memang bukan perempuan luar biasa, Bu.?Aku hanyalah gadis biasa yang ditakdirkan-Nya bertemu dengan sosok pangeran berkuda nan tampan lagi sederhana. Puteramu.?Cantik-ku, pandai-ku, hanyalah bait-bait kata yang diucap puteramu sebagai canda.?Kesempurnaanku, hanyalah gurauan kecil yang dilontarkan puteramu saat aku merajuk manja.?Aku bahkan jauh dari itu, Bu. Sangat-sangat jauh.

Bu, bukankah terkadang wajar bila (calon) anak perempuan merasa takut pada Ibu (calon) mertuanya? Kupikir kekuranganku hanya ada pada kecantikan, Bu. Tapi ternyata lebih dari itu.?Aku bahkan tak pandai memasak, tak pintar menjahit, tak cekatan dalam membersihkan rumah..?Ah Ibu, apa mungkin salah pilihan puteramu?

Ketika aku berfikir banyak hal tentang kekurangan-kekurangan itu, aku jadi memikirkanmu, Bu. Bila orang berkata ?anak perempuan sampai menikah adalah milik bapaknya, sedangkan anak lelaki sampai mati adalah milik ibunya,? pernahkah Ibu terbayang suatu saat nanti bukan lagi Ibu yang membuatkannya makan, menyuruhnya mandi, bahkan mematikan lampu kamarnya disaat ia terlelap tidur? Perempuan seperti apa yang kelak Ibu harapkan bisa sesaat kau titipi puteramu untuk makan, mandi, dan tidur, Bu?

Pernah suatu saat aku merasa memiliki puteramu. Dan pernah pula suatu saat aku merasa akan membawanya pergi jauh darimu. Tapi ternyata aku salah, Bu. Baginya, Ibu tetaplah seorang ratu.?Singgahsana-nya adalah dirimu. Mahkotanya pun terukir namamu. Bahkan kedudukannya ada karena ada Ibu.

Sejatinya itu pernah menyebabkan terbersitnya rasa takut kelak kekuranganku akan disandingkan dengan kesempurnaanmu.. Dan mungkin demikian juga denganmu, Bu. Aku memahami betapa sulitnya melepas anak lelaki yang kelak kan bersanding dengan perempuan yang belum tentu bisa sepertimu. Mengerti makanan kesukannya, menggosok punggungnya dikala mandi, bahkan menidurkannya seperti biasa kau lakukan waktunya belum beristri dulu.

Pun dari puteramu aku belajar memahami dua hal itu, Bu. Memangkas habis keegoisanku untuk memiliki waktunya selalu, dan menumbuhkan ingin untukku mengenal Ibu lebih jauh.?Aku bahkan ingat, Bu. Selalu ada namamu dalam ujaran-ujaran rencana masa depan kami. Selalu ada Ibu di setiap apa yang ia galaukan. Dan selalu ada Ibu di setiap apa yang ingin ia kejar dan sempurnakan.

Aku bahkan luar biasa salut, Bu. Kau tau? Puteramu adalah lelaki paling bertanggung jawab yang pernah aku temu, Bu. Lebih dari bapakku.?Puteramu adalah sosok penuh kehangatan, yang dalam gagahnya ia tak enggan dan tak malu menitikkan air mata.

Pernah suatu saat ia datang padaku membawa lima buah aksesoris wanita, Bu. Bukan karena dia romantis. Bukan pula karena aku memintanya untuk itu. Tetapi karena puteramu terlalu melankolis. Membeli habis dagangan bapak-bapak di halte bis.

Dan pernah pula suatu saat kami berjalan di tengah malam berdua, Bu. Tangannya menenteng bungkusan untukku sarapan esok pagi. Namun kau tahu, Bu? Puteramu membelokkan langkahnya hanya untuk memberikan itu pada sepasang suami istri dan seorang anak kecil yang sedang beristirahat di samping gerobaknya di pinggir jalan. Bercengkrama cukup lama, sedang aku hanya bisa melihatnya dari ujung sana. Tak tega.

Bukankah puteramu sungguh luar biasa, Bu??

Bu, mungkin Ibu ingat, sebulan yang lalu, di minggu ulang tahunmu. Sepaket hadiah datang dengan isi yang mungkin Ibu tak pernah duga. Itu memang bungkusan tanganku. Bahkan tulisan ucapannya pun tulisanku. Karena kesibukkannya kala itu, puteramu hanya menitipkan uang dan berpesan untuk membelikanmu barang-barang itu. Memintaku menyertakan sepucuk surat yang isinya sudah ia tulis di sebuah pesan singkat, berharap tulisan tanganku sampaikan itu padamu. Tapi Ibu harus tahu, Bu. Seminggu sebelum itu, puteramu menangis mengeluhkan banyak hal padaku. Ia mendadak mulai sadar akan tanggung jawabnya sebagai lelaki. Terhadapmu. Terhadap adik perempuannya. Terhadap kelak istri dan anak-anak perempuannya. Ia bahkan menuturkan satu hal, Bu, bahwa kelak liburan nanti ia ingin pulang dan mengaji bersamamu. Bagaimana aku tak menangis haru, Bu?

Bu, aku tak tahu bagaimana cara terbaik untukku mengenal Ibu. Dan pun aku tak tahu kapan waktu yang tepat untukku datang mengatakan banyak hal padamu. Hanyalah dua-tiga lembar surat ini yang mampu utarakan isi hatiku, Bu. Lebih dari ini, aku (juga) ingin jadi anakmu? :?)

?

Agar kita bisa memadukan rasa, bertukar mimpi, dan bercerita ria?

  • view 131