Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 11 Mei 2018   00:59 WIB
Salah Paham Penerima Feedback

Malam kemarin, saya membahas salah satu topik mengenai 'pentingnya mempersiapkan segala sesuatu sebelum menampilkan sebuah karya' bersama seorang teman. Saya meminta dua teman saya bersama bandnya untuk turut serta dalam menampilkan performa pada lamaran kakak sepupu saya yang atas seizin Allah akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juli nanti.

Saya memiliki dua teman yang pandai dalam bermain gitar dan bernyanyi. Beberapa kali saya pernah mendengar mereka memainkan lantunan melodi dengan suara yang sangat indah di telinga. Karena kepiawaian dalam bermain musik dan bernyanyi itulah saya meminta mereka untuk memeriahkan acara lamaran nanti. Namun, dibalik kepiawaian itu ada sesuatu yang mengganjal di hati saya.

Mereka memang piawai sekali, namun sulit jika dilakukan dengan improvisasi on the spot alias mengulik nada pada sebuah lagu secara langsung di tempat. Nampak raut kebingungan di wajah mereka ketika salah satu pengunjung di Cafe meminta mereka untuk menyanyikan sebuah lagu. Saya melihatnya sangat jelas sekali. Karena saat itu saya memang berada tepat di dekat mereka. Teman saya bersama anggota bandnya saling tunjuk untuk memberi tahu kunci nada yang tepat pada lagu itu. Saya sebagai orang awam sedikit terkejut dan bingung pula.


Pertanyaan muncul di dalam hati saya, "Mengapa mereka tidak mempersiapkan dengan latihan sebelum hari H penampilan? Mengapa mereka tidak mencoba membuat rentetan daftar lagu yang sekiranya akan dimintai oleh pengunjung?".


Saya tahu bukan hanya satu kali mereka tampil membawakan beragam lagu di depan banyak orang. Dan request lagu yang mereka dapatkan adalah lagu yang memiliki genre serupa dengan lagu yang mereka bawakan sebelumnya. Sejujurnya saya melihat kejanggalan ini sebelum ada yang merequest lagu. Artinya, mereka bukan kagok karena diminta untuk menyanyikan sebuah lagu yang mereka belum ketahui sebelumnya, tetapi memang mereka yang kurang latihan saja.


Saya menyayangkan hal ini terjadi sebab kalau terus dilakukan akan berakibat fatal. Dan dapat mencoret profesionalitas pekerja seni. 
Mungkin saya memang seorang awam yang tidak mengetahui alasan mengapa mereka tidak latihan sebelumnya.


Kemudian, saya mencoba memberi saran pada salah satu teman, saya mengatakan kalau bisa sebelum tampil di lamaran kakak sepupu saya, mereka harus latihan terlebih dahulu. Selain itu, saya juga sudah memberikan daftar lagu yang harus mereka nyanyikan karena lagu tersebut adalah lagu kesukaan kakak sepupu saya dan calon suaminya.


Saya sengaja memberitahu pada jauh hari karena saya tidak ingin mereka terlihat kagok seperti yang saya lihat di cafe waktu itu. Tak lama, saran saya ditepis cepat oleh teman saya itu. Ia terlihat sangat tersinggung dengan perkataan saya. Saya yang berniat baik dengan memberikan saran justru dianggap sebagai orang yang menggurui dan merendahkan kemampuan mereka. Nada bicara teman saya juga pelan-pelan meninggi.


Saya mulai menyadari ada kesalahpahaman disini. Saya mulai diam dan merasa perkataan saya tidak dipahami secara lekat. Kami mulai saling tak mengacuhkan pandangan. Kesalahpahaman ini berbahaya jika melulu kita tanamkan di dalam kalimat oranglain yang belum tentu sesuai dengan yang kita pikirkan.


Kesalahpahaman ini tentunya dapat menciptakan permusuhan secara nyata. Silaturahmi yang sebaiknya dijaga, sudah diabaikan pengertiannya. Perkataan yang lembut nyatanya masih dapat membuat oranglain terluka. Mempersiapkan segala hal bukan perlakuan buruk yang harus dilupakan maknanya. Ini guna untuk menjaga profesionalitas seorang penyaji karya. 

"Bagaimana seorang penikmat dapat mengundang kembali jika kita menunjukkan performa dengan cara memperlihatkan kelemahan secara terang-terangan?".

Poin dari cerita ini adalah menanggapi kesalahpahaman dengan keadaan pikiran yang tertutup akan menyebabkan kebencian. Tidak mungkin seorang teman akan memberikan saran yang buruk bagi temannya sendiri apalagi ini menyangkut undangan turut serta keluarganya. 

Sebaik-baiknya hati adalah yang menerima apapun masukan. Sebaik-baiknya performa adalah melalui feedback yang membuat kita merasa sangat gagal.

Saya merasakan sendiri dampak feedback yang sangat buruk terhadap tulisan-tulisan saya membuat hati saya merasa terluka. Namun, setelah itu saya berusaha bangkit untuk mengobati hati dengan mempersembahkan karya kedua.

 

 

 Fanni Zati Hulwany

Karya : Fanni Zati Hulwany