Si Bodoh Pemutar Roda Kehidupan

Fanni Zati Hulwany
Karya Fanni Zati Hulwany Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Mei 2018
Si Bodoh Pemutar Roda Kehidupan

"Orang yang mampu mengubah dunia, bisa saja dari kalangan orang yang dulunya sempat dikatakan bodoh oleh pengajar akademiknya sendiri. Berhenti menyepelekan kemampuan setiap individu. Karena bisa saja ketika orang tersebut berusaha dan berdoa, ia seketika menjadi sangat berbahaya dalam setiap kelemahannya. Membalut segala ketidaktahuan menjadi perhiasan bagi orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui." Ini adalah sepenggal tulisan berdasarkan pengalaman pribadi yang berani saya publikasikan di salah satu sosial media. Karena anggukan dalam diri yang semakin menggebu. Akhirnya saya kembali menuliskannya beberapa bulan yang lalu.


Saya menuliskan sepenggal tulisan ini pada sticky notes yang kemudian saya tempelkan pada sisi-sisi komputer di kantor. Saat menuliskan kalimat ini, saya berasa kembali pada keadaan beberapa tahun silam. Keadaan yang saya harap dapat mengubah jalan hidup saya kala itu. Tangisan yang saya doakan dapat membeli paling tidak secuil rasa bahagia.

Tidak ada yang tahu sebelumnya, saya pernah dikatai bodoh semasa duduk di bangku kuliah. Yang lebih menyakitkan perkataan kasar ini ditumpahkan oleh salah satu pengajar akademik yang saya pilih untuk membimbing selama penelitian. Sakit sekali rasanya. Terlebih ia tak mengetahui betapa berusahanya saya merajut ilmu ini di dalam kepala. Sampai di rumah saya menangis sejadi-jadinya. Keterpurukan paling dahsyat yang saya rasakan waktu itu sukses membuat saya semakin keras memacu diri.

Dulu, saya tidak menceritakan pada siapapun karena rasa malu yang saya rasakan jauh lebih besar dari keinginan membela diri. Belum lagi perasaan sedih ketika melihat ibu saya yang akan mati-matian menyembunyikan rasa marahnya karena anaknya diperlakukan seperti itu. Ibu saya adalah saksi yang diam-diam memperhatikan ketika saya sedang berusaha sekuat tenaga mempertahankan ilmu ini. Ia adalah saksi yang hampir setiap hari menyaksikan anak perempuannya tidur larut malam karena berusaha dalam menyempurnakan teori.

Ketika hampir seluruh materi mampu saya hafalkan di luar kepala, pengajar akademik saya tak memberikan apresiasi apapun, melihat saya saja matanya tajam sekali. Sungguh ini adalah keadaan yang semakin menyulitkan karena perasaan takut hampir penuh menyelimuti siang hari tepat di balik meja beralaskan kain hijau pada waktu itu.

Dan waktu semakin tepat menunjukkan waktu diumumkannya hasil kerja keras selama kurang lebih 3 bulan. Ketika seorang Dekan memanggil nama saya dan menyebutkan sebuah nilai, saya sempatkan menoleh ke arah pengajar akademik, terlihat sunggingan senyum di bibirnya. Perasaan lega dan bahagia beriringan menghampiri saya.

Memang usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya. Mungkin kalian sudah bosan sekali membaca kalimat ini, tapi inilah yang terjadi pada roda hidup saya beberapa tahun yang lalu.

Saya menempelkan tulisan ini bertujuan agar para Office Boy yang bertugas membersihkan meja saya setiap hari dapat membaca dan menyadari bahwa pekerjaan mereka  bukan pekerjaan yang rendah. Apalagi hina. Tidak ada tingkatan rendah atau tinggi jabatan di dunia ini, kita semua sama. Tidak ada yang harus 'lebih' dihormati. Karena kita semua patut dihormati. Apapun pekerjaan tak ada yang pantas direndahi. Bukan berarti pekerjaan dengan gaji terbawah menandakan kalian pantas dikatai bodoh oleh pekerja lain yang menerima gaji diatas puncak.


Saya sengaja menuliskan dan menempelkan tulisan itu dan berdoa agar mereka percaya bahwa hinaan dari orang lain dapat mengubah jalan hidupnya. Dapat memutar roda kehidupannya. Dan saya selalu menanamkan keyakinan dalam diri bahwa si bodoh akan terus menaiki tangganya untuk memenangkan kategori 'seorang pengubah dunia bagi diri sendiri dan siapapun orang yang akan ia temui'.


Sempat diperlakukan tak enak, saya berusaha untuk menyemangati siapapun orang yang akan saya temui. Dan ini prinsip hidup yang merekat erat pada nadi saya. Saya tak menginginkan ada yang berani menyakiti sesama hanya karena ketidakmampuan. Ketidakmampuan bukan untuk dihina, apalagi untuk ditertawai.

Saya beberapa kali menyaksikan seseorang dibuang dan diperlakukan tidak hormat hanya karena dua patah kata ''tak tahu''.
Saya beberapa kali melihat seseorang dijauhi dan tidak ditemani hanya karena dua patah kata "tak punya".
Saya beberapa kali memperhatikan seseorang diremehi dan dimusuhi hanya karena dua patah kata ''tak bisa".
Dan ini yang seharusnya kita hilangkan. 
Karena dampaknya sangat besar bagi orang-orang yang tak punya pengharapan. Sesekali koreksi kembali perkataan yang barangkali pernah menyayat di hati oranglain. Mungkin orang itu berada di sekitarmu, bahkan mungkin berada tepat disampingmu.

Seseorang yang sempat kau katai bodoh bisa saja menduluimu melewati garis yang tak pernah kau sangka atau bisa saja perjalanannya mencapai garis finish lebih lamban dari perjalananmu, namun Allah menggariskan kau jatuh ketika hampir sampai di garis finish, dan ia akhirnya memenangkan pertandingan melewatimu dengan bangga.
Dan hidup ini hanya terdapat dua pilihan, menyerah atau berusaha. Maka, pilihlah berusaha agar teka-teki hidupmu segera terjawab. Agar roda kehidupanmu berputar sangat hebat sesuai doa dan kerja keras.




Fanni Zati Hulwany













  • view 109