Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 5 Mei 2018   01:27 WIB
Keterpaksaan Mampu Merusak Generasi

Sekolah adalah panggung pendidikan yang kokoh. Hanya terdapat siswa dan siswi berilmu, berakhlak, dan berprestasi. Jika di dalam suatu sekolah terdapat lebih dari satu orang murid yang nakal, ia tak mampu menyerap hampir seluruh ajaran dari gurunya, hal ini menandakan panggung yang dibangun pada sekolah tersebut belum cukup kokoh. 

Panggung yang saya maksud disini adalah metode pengajaran yang diciptakan oleh para tenaga didik yang berperan penting dalam pembentukan karakter, pola pikir, dan pula tingkah laku seorang murid.

Semakin berperan guru di sekolah, artinya semakin kokoh panggung pendidikan itu. Dan semakin kokoh panggung pendidikan itu, akan semakin menjebolkan murid-murid berprestasi. Kurang lebih seperti itu seharusnya siklus pendidikan yang terbentuk pada tiap sekolah. Ini juga berlaku untuk jenjang Universitas.

Pemilihan sekolah menjadi tugas utama orangtua. Dengan embel-embel label angka pada sekolah negeri dan label nama pada sekolah swasta, para orangtua secepat kilat menyimpulkan pilihannya. Suatu kesalahan dalam memilih yaitu menggenggam informasi singkat mengenai sekolah terbaik versi orangtua yang berlandaskan IKUT-IKUTAN tanpa menanyakan metode pengajaran internal sekolah yang terpilih sampai pada kelulusan. Tak jarang seorang anak ikut andil dalam memilih karena teman sebayanya. Kemudian orangtua pun menyetujui.

Orangtua dengan tingkat ekonomi menengah keatas akan berusaha memberikan pendidikan yang layak untuk anak mereka. Selain dimasukkan pada sekolah unggulan, seorang anak disuguhi beraneka macam kursus dalam satu minggu penuh demi nilai akademik yang memadai. Orangtua dengan tingkat ekonomi ini rela mengeluarkan banyak biaya demi pendidikan terbaik tanpa mempedulikan minat dan bakat seorang anak.

Dengan terlalu banyak mengikuti kursus, pada akhirnya ilmu tersebut bersurai dikarenakan ketidakseimbangan kerja otak dalam menyerap seluruh ilmu yang masuk. Selain itu, waktu untuk belajar telah dihabiskan dengan kesibukan mengikuti kursus dan tak sempat mereview kembali pelajaran di sekolah.

Lain halnya dengan orangtua tingkat ekonomi menengah ke bawah, orangtua ini akan memberikan pendidikan sesuai dengan kemampuan finansial. Mereka memilih menyekolahkan anak di sekolah biasa dengan pengajaran seadanya, dan biasanya sepulang dari sekolah anak mereka diwajibkan untuk membantu berjualan agar mendapat uang sangu tambahan. Alhasil, pelajaran di sekolah pun tak dapat dipelajari kembali. Dilihat dari perbedaan fasilitas ini jelas menunjukkan keegoisan orangtua. Orangtua berekonomi menengah ke atas sibuk bekerja, orangtua berekonomi menengah ke bawah tak peka. Seorang anak menjadi korban dalam keterpaksaan pilihan orangtua.

Sebagian orangtua tak menyadari bahwa setiap anak memiliki bakat yang belum berani ia tunjukkan atau sudah berusaha ia tunjukkan, namun orangtua yang menghiraukan. Seorang anak menyerah memperjuangkan keinginan dan memilih menyetujui pilihan orangtua dengan keterpaksaan, mulai belajar tak lagi serius, perlahan muncul goresan tinta warna merah mencolok di raport bulanan, dan minat belajar lama kelamaan hilang seperti buih yang disirami tumpahan air. Bakat yang tertutupi sudah tak ingin lagi ditekuni, peta impian terasa digunting perjalanannya. Semua hilang diikat keterpaksaan. Semua sirna ditelan penolakan.

Secara tak sadar para orangtua berhasil mengubur impian besar seorang anak.

Secara tak sadar keterpaksaan telah merusak sebagian generasi. Generasi yang seharusnya sudah mempersiapkan tujuan di masa depan. Generasi yang semestinya telah menyusun kerangka mimpi pada pertambahan usia emasnya.

Menyikapi permasalahan serius seperti ini tak bisa direda oleh ego yang menggebu. Tumpahan ego melalui perkataan yang menyilet tak akan bisa dirembes telinga dengan saksama. Jangan beri ancaman pada harapan yang sedang diam-diam dibingkai tegak. Jangan sodorkan api apabila kepala sedang ingin meledak. Perlakuan ini tak baik sebab membuat seorang anak cenderung melawan untuk mendongak.

Tuhan telah memberi karunia kelebihan pada tiap insan untuk disadari keberadaannya. Kelebihan dapat diamati melalui kesukaan dalam mengerjai sesuatu yang bermanfaat. Orangtua wajib menumbuhkan ketangkasan tanggap pada tiap minat yang dilakukan oleh seorang anak. Intensitas memperhatikan mulai ditingkatkan agar tak salah mendaratkan kesimpulan. Maka, seorang anak akan lebih leluasa dalam menerbangkan sinyal minatnya.

Kelebihan dapat diukur pula melalui bakat sejak dini, terkadang seorang anak sudah menunjukkan keistimewaan sejak masih berusia dibawah tiga tahun. Semakin matang fisik dan emosi seorang anak akan semakin mampu mematangkan bakatnya. Sinyal bakat dapat berupa tingkah laku yang terlihat berbeda dari anak-anak seusianya.

Ini salah satu contoh yang memperlihatkan kekuatan bakat ketika telah diasah dengan sebaik-baiknya dapat mengungguli kegagalan.

Kemarin saya bertemu dengan seorang ibu, dan ternyata beliau adalah teman dari ibu saya. Ia mulai bercerita mengenai anak perempuan bungsunya bernama Izzy yang telah sukses menjadi seorang desainer busana dan banyak menghabiskan waktu dalam peragaan busana buatannya di negara Eropa. Ia bercerita semasa anaknya masih duduk di bangku SMK, teman-teman Izzy sempat meremehkan bakatnya itu. Ada yang mengatakan Izzy nanti akan memiliki profesi sebagai tukang jahit. Dan itu adalah komentar paling menyakitkan bagi teman ibu saya ini. Saya menangkap dari cara bicara beliau bahwa beliau berhasil melupakan rasa sakit itu dan telah bangga mendapati anaknya yang telah sukses menjadi seorang desainer busana ternama dan disegani. Ini salah satu bukti dukungan, kesadaran akan bakat, dan doa dari seorang ibu mampu memenangkan impian seorang anak.

Lalu, bagaimana seharusnya orangtua membelalakan kesadaran terhadap minat dan bakat yang lama terkubur pada diri seorang anak?

Mungkin sebagian sudah pernah mendengar atau membaca mengenai tes STIFIn yang dilakukan dengan scanning menggunakan sepuluh sidik jari tangan untuk mengidentifikasi lapisan otak bagian mana yang lebih mendominasi pada diri seseorang. Jika sudah pernah membaca atau mendengar akan lebih mudah untuk memahami mengapa tes ini berkaitan erat dengan minat dan bakat.
Minat dan bakat seseorang dapat ditelusuri dengan mengetahui jenis kecerdasan genetiknya. Melalui konsep STIFIn kecerdasan genetik dapat dikelompokkan dalam lima mesin kecerdasan dan sembilan personaliti kecerdasan. Berbeda mesin kecerdasan dan personaliti genetik, berbeda pula minat dan bakat pada seseorang. Tes ini dapat diikuti oleh siapa saja dalam waktu singkat dan penjelasan yang sederhana namun lengkap. Tes ini juga dapat dilakukan oleh seorang penyandang disabilitas.

Dengan mengetahui minat dan bakat yang ada pada diri seorang anak dapat membuat orangtua lebih peka terhadap potensi yang dimiliki anaknya. Tidak semua orang tua mampu menyadari bakat terpendam itu, maka salah satu metode mengetahuinya adalah dengan melakukan tes STIFIn.

Mulailah menjadi orangtua yang peduli dengan bakat terpendam seorang anak, mulailah mengaktifkan kepekaan agar mimpi anak tak melebur bersama keterpaksaan.




Fanni Zati Hulwany

Karya : Fanni Zati Hulwany