Peran Wanita Sesungguhnya

Peran Wanita Sesungguhnya

Fanni Zati Hulwany
Karya Fanni Zati Hulwany Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Februari 2018
Peran Wanita Sesungguhnya

 

Sudah lama aku tak menulis. Mungkin inspirasiku sedang tipis. Pikiran buruk sering merasa ‘sendirian’ berulangkali ingin ku tangkis habis. Entah mengapa jika tak ada tempat berlabuh selain Tuhan, aku memilih menulis agar beban tak berat ku rasa sendirian. Seperti siang ini, aku lebih memilih menulis setelah ku ceritakan kejadian kemarin pada Tuhan. Dan selalu ku minta padanya agar Ia tak pernah bosan mendengarkan.

Sore ini hujan, gemercik airnya sungguh memberi keteduhan. Aku tetap memerhatikan tiap bulir yang mengalir basah di kaca jendela kamar. Walau suara airnya terdengar samar-samar. Harum khas dari hujan mampu masuk menembus ke  kedalaman rongga paling dalam.

Aku sudah tak lagi tinggal serumah dengan orangtuaku sebab usiaku ini adalah usia penjelajah karir.

Aku tinggal di Jakarta; jarak yang cukup jauh dari rumah orangtuaku.

Disini segalanya ku coba pikirkan sendiri sebelum mulai bertanya, sedih ku rasa bahwa berjalan memegang tangan sendiri adalah hal yang paling sulit aku terima.

Kuakui tak  ada pilihan melainkan menerima kenyataan, disinilah perjalanan baru dimulai.

Ini adalah pilihan yang ku tunjuk dengan jari telunjukku sendiri. 

Menjadi wanita pantang untuk berkeluh kesah.

Menjadi wanita harus mampu menembus kerasnya karang kehidupan.

Kesulitan yang dihadapi harus mampu dilibas walau dengan keberanian yang terbatas, walau tak ada ruang bergerak menghirup udara ketenangan, dengan menggunakan perasaan, wanita harus mampu mengendalikan gemuruh yang perlahan rusuh.

Tetaplah menjadi wanita pemeluk derasnya hujan.

Tetaplah menjadi wanita pereda segala kegaduhan orang-orang disekitar sana.

Menjadi wanita harus tegar, tahan banting, dan rendah kasih sayang.

Jangan melawan jika tersudut dengan berkoar-koar dalam memberikan aspirasi.

Wanita tak seharusnya seperti itu. 

Paham Feminisme yang sedang merasuki wanita lemah lembut kini membuatnya mulai kesetanan.

Berteriak-teriak dalam memberikan pendapat yang entah benar atau salah, membesar-besarkan suara seolah-olah merasa paling tertindas dengan perlakuan para pria.

Ia lupa bahwa suaminya adalah juga berjenis kelamin pria. Ayahnya pun juga demikian.

Sakit hati karena perbedaan memang menyakitkan. Peraturan bagi kaum wanita pun memang terasa menyudutkan.

Tetapi berjalan lambat di belakang bukan tak mungkin akan menempuh jalan kemenangan.

Maka, berhentilah membesar-besarkan suara demi menuntut paham Feminisme yang membutakan.

Sejujurnya saya juga tak paham betul mengapa dibuatkan paham seperti ini, paham macam apa yang membuat wanita lemah lembut mulai mendongakkan kepala layaknya seorang pemberani yang sebenarnya hanya menutupi bahwa ia adalah seorang penakut.

Memang perlu membela diri, membela hak para wanita.

Namun, kesetaraan gender ini berlebihan diartikan oleh sebagian wanita.

Dengan adanya paham ini bukan berarti wanita diharuskan untuk memimpin segala divisi, segala lingkup organisasi, dan sebagainya.

Menepilah sedikit untuk melihat sebuah kesempatan menjadi seorang pemimpin di area khusus untuk sesama wanita.

Mengapa harus pergi menanjak ke area mereka, sementara di bawah sana, ada sekumpulan wanita yang belum siap untuk memimpin sebuah organisasi yang baru saja dirintis. Dan pada akhirnya organisasi tersebut tak berjalan sesuai keinginan para pencetus idenya.

Paham Feminisme dibuatkan seharusnya bukan untuk membalaskan dendam yang sudah lama mendarah daging. Sebab tak dapat dipungkiri selama puluhan tahun bahkan lebih wanita selalu berdiri dibelakang; dipunggungi para pria.

Bela lah diri jika tubuhmu dinodai.

Dilecehkan. Dipukuli tanpa sebab oleh kaum pria. Bela lah dirimu sendiri jika itu terjadi padamu. Hal ini jauh lebih penting dari sekadar memimpin para pria karena mereka telah mampu memimpin segalanya sejak Ia diputuskan lahir ke bumi oleh Tuhan.

Mari kembali menjadi wanita peneduh segala cuaca kekacauan.

Mari kembali menjadi wanita penengadah derasnya amarah.

Mari kembali menjadi wanita lemah lembut yang mampu memimpin diri sendiri.

Mari kembali menjadi peran wanita sesungguhnya.

 

 

 

 by: Fanni Zati Hulwany

 

 

  • view 150