Perjalanan

Fanni Zati Hulwany
Karya Fanni Zati Hulwany Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2018
Perjalanan


Berpindah dari satu kota ke kota lainnya adalah bagian dari hidup yang amat saya syukuri. 
Saya suka berada di tengah kota dengan kuantitas penduduknya ramai.
Berdesak-desakan kalau harus menggunakan transportasi umum, perjalanan yang jauh dari rumah untuk ke tempat tujuan, merasakan padatnya jalanan walau sesekali berucap keluh. 
Ini bagian hidup yang saya senangi.
Dibalik sulitnya berinteraksi, saya memilih tidak untuk diam di kota; tanah rumah saya dibangun.
Kota Jakarta selalu membuat saya ingin kembali. Seni yang hadir di tengah kota padat ini membuat saya ingin berbalik untuk datang lagi.
Sebagian akan mengatakan tidak perlu bersusah hidup di kota orang. Namun, saya memandang dari kacamata yang berbeda.
Bagi saya perjalanan selalu mengajari pelajaran penting. Tiap individu akan merasakan indahnya pelajaran yang diawali oleh perjalanan.
Menelusuri kota dalam negeri maupun luar negeri akan ada pelajaran yang sama-sama berharga. 
Ilmu didapat darimana saja. 
Dari siapa saja orang yang akan kita temui. 
Dan dari waktu-waktu yang kita habiskan untuk memulai obrolan dengan siapapun. 
Kita akan disadarkan bahwa meniti setapak demi setapak untuk mencapai pelajaran, seluruhnya memang berawal dari perjalanan.
Mulailah mendengar cerita dari berbagai kalangan, selami pengalaman mereka, dengarkan cerita hidup mereka, siapapun orangnya, dengarkan. 
Perjalanan tidak akan ada makna jika hanya menangisi kisah hidup kita sendiri.
Mulailah untuk membuka mata dan telinga selebar mungkin, kisah hidup kita tidak lebih menyedihkan dan pula tidak lebih menyenangkan dari oranglain.
Cobalah bersikap lebih netral pada siapapun orang yang ada pada kehidupan ini.
Tidak lagi melihat orang lain dari sisi buruknya saja atau tidak terlalu memuji untuk sisi baiknya pula.
Setiap kita membopong kisah hidup masing-masing baik buruknya karena suatu alasan. Miskin kaya juga berbanding lurus dari persetujuan Tuhan.
Mulailah untuk tidak lagi memandang orang lain dari tinggi atau rendahnya jabatan, ilmu, kekayaan, kecerdasan. Kita semua sama dimataNya. Jika Allah mengizinkan semua yang dianggap sebagai kelebihan itu dihilangkan, maka semua akan lenyap sekejap mata.


                                                                                                                                                                                                                                                Fanni Zati Hulwany


  • view 89