Jemari Lembut Tuhan

Fanni Zati Hulwany
Karya Fanni Zati Hulwany Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2018
Jemari Lembut Tuhan

Jakarta, 7 Februari 2018

Mulai hari ini saya benar-benar menyadari bahwa keharusan menjadi cerdas agar mencapai bintang kesuksesan adalah ungkapan dari sebagian orang tua dan terbukti bias. 

Mulai hari ini saya membenarkan sebagian pernyataan bahwa kecerdasan memang dibangun oleh akal karena rentetan pengalaman yang telah dijalani.

Hari ini, saya mulai menyadarinya. Beberapa pekan yang lalu mungkin saya tidak begitu merasakan dampaknya pengalaman yang telah saya lalui karena barangkali saya tak bersyukur atas jemari lembut Tuhan pada hidup ini.

Tanpa kita sadari hidup ini begitu berarti karena kegagalan kecil maupun besar, kegagalan-kegagalan yang dengan mudah membuat hati merasa lelah, sedih, dan menyerah.

Liku perasaan seperti itu tak lain diakibatkan karena kurangnya mengucap syukur pada pemilik semesta, dan pula kurangnya merasa diri ini begitu berharga daripada hanya sekadar dikatai  bodoh.

Manusia sulit melakukan perubahan dalam hidup.

Termasuk sulit memutar kebenaran dari kutipan lama oleh tokoh yang hanya terdengar nama.

Kecerdasan seseorang tidak berbanding lurus dengan mudahnya Ia mengerjakan soal di sekolah, kecerdasan pula tidak ditentukan dari warna tinta yang tertera di raport bulanan,

Kecerdasan bukan hanya sekadar nilai.

Kecerdasan menjadi tak bernilai jika hanya dibangun dari kepercayaan nilai.

Bukankah nilai mampu direkayasa dengan nilai lainnya dengan nominal lebih besar?

Cerdas tak selamanya diukur dari bilangan bulat diatas 7.

Angka tak semestinya dijadikan ukuran perbandingan kecerdasan seseorang.

Menjadi seorang yang tak cerdas bukan berarti saya meragukan kecerdasan dari angka yang tertera dari seorang cerdas hanya karena pendapat saya mengenai kecerdasan berbanding terbalik dengan kutipan yang telah lama ada.

Saya hanya tak cerdas, bukan tak jujur akan apa yang saya lihat dari perubahan diri saya sendiri maupun oranglain.

Saya melihat betul apa yang terjadi karena pengalaman yang telah saya lalui mengubah hidup saya jauh lebih baik, jauh lebih ada pelajaran yang dapat dikutip.

Berkutat dengan pekerjaan diluar bidang penjurusan kuliah, membuat saya tekun belajar.

Dua kali.

Dua kali ditemukan dengan pekerjaan yang tak linear belum membuat saya jengah.

Walau saya tahu ini sulit untuk saya jalani.

Sulit jika harus membuka kembali buku dari sampul yang tak pernah saya lihat sebelumnya, belum lagi memahami isi dari nol.

Diharuskan untuk memahami segalanya dalam kurun waktu yang tak lama oleh atasan. Ini bagian tersulit.

Dikejar target penyelesaian dan masih ada beberapa kesulitan lain yang hadir setiap hari.

Sepertinya Tuhan memberi pelajaran dari hal yang paling sulit untuk dijalani, benar, kan?

Kekurangan diciptakan ada untuk tiap insan agar Tuhan dapat mengulurkan kesulitan yang sebenarnya untuk perbaikan.

Contoh kecilnya adalah saya merupakan orang yang sulit berbicara di depan orang banyak, dan pekerjaan awal yang diberikan olehNya adalah menjadi seorang marketing staff.

Marketing staff yang menyibukkan hari Sabtu untuk menjadi seorang pembicara di seminar beasiswa.

Seorang yang introvert dan juga pemalu ini memulai untuk keluar dari zona nyamannya.

Ini pelajaran penting. Pengalaman yang tidak boleh dihiraukan.

Dan jika mengingat kembali awal karir saya dulu, saya hanya dapat mengucap rasa syukur.

Selama ini yang saya keluhkan adalah bagian yang mengubah hidup saya.

Jauh lebih baik,

Jauh lebih baik.

Dan ini salah satu bukti yang terbaik datangnya memang dariNya. Atas segala pilihan-pilihanNya.

Fanni Zati Hulwany

 

  • view 112