Si Pengajak Sholat

fakhru along
Karya fakhru along Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2018
Si Pengajak Sholat

Subuh lalu, "Sholatlah, sebelum kau disholati", ujarnya manis di depan kami. Ada yang terbangun seraya mengangguk, pura-pura tuli sambil menggaruk-garuk pura-pura gatal, dan juga ada yang mengigau dilanda kantuk. 
"Sholat saja sendiri!".

***

Dzuhur kemudian, "Sholat itu hukum waaaajibb". Tuturnya, fasih. Empasan angin kecil keluar dari mulutnya. Ada yang langsung beranjak sholat, menunggu jarum jam berpindah ke angka selanjutnya, dan ada pula menyahut, 
"Ah, nanti saja!"
  
***

Ashar pun datang, "Hal pertama yang ditanyakan kelak saat kalian wafat adalah sholat". Kali ini kalimatnya bernada menakut-nakuti, raut wajahnya pun gelisah. Tampaknya salah satu di antara mereka bergegas sholat, meski dengan berat hati. Sebagian lagi malah menjauh dan mengoceh pedas seakan mulutnya menyemburkan api. 
"Sok tahu, kayak pernah mati saja!".

***

Maghrib pun menjenguk, "Orang yang tidak sholat halal untuk dibunuh" ujarnya, lantang. Tapi hanya menggema dalam ruangan. Yang mendengar pun terkejut, seketika mengajak sholat berjamaah. Yang merasa takut, sibuk mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan yang lain mundur pelan-pelan bak dimakan kabut.

***

Dan pada akhirnya isyak menyusul. "Sholat isyak dan subuh itu berat bagi orang munafik", lagi-lagi ia berujar. Lalu mereka mencerna kalimat itu baik-baik sebelum memulai takbir. Sedangkan seseorang di dekatnya berujar, 
"Aku dalam keadaan ber-hadast, sholat nanti saja, sekalian sholat tahajjud". 
"Udah ambil wudhu sana, alasan saja kamu!", ketus salah satu meraka yang tiba-tiba muncul. Entah dari tadi ke mana.
 
Si pengingat; pengajak sholat pun tersenyum, ia terlentang di atas kasur empuk di dalam sebuah ruangan bersih; sepertinya malaikat langit sering mampir di situ. 
Si pengingat dari tadi subuh hingga isyak mengingatkan dan mengajak sholat. Sedangkan ia sendiri terlentang, sakit. Katanya, ia sedang terkena penyakit yang rentan di usia tua.

***

Tepatnya, di sepertiga malam merayu, si pengingat kedatangan tamu mendadak. Kemudian tamu itu mengajaknya untuk meninggalkan ruangan, dan tak usah kembali. Sepertinya itu menjadi tanda, jika si pengingat akan sembuh dari sakitnya, bisa jadi juga ia tidak akan pernah sakit lagi. Ia tak bisa menolak dan akhirnya ikut dengan mata terbelalak. 

"Innalillahi Wa Innaa Ilaihi Raaji'un", ucap mereka -diingatkan sholat- bersamaan.
 

Ditulis ~ 12 Oktober 2014, minggu pagi. 

  • view 25