Mencintaimu dalam lamun I

Imam Fajrul f
Karya Imam Fajrul f Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2017
Mencintaimu dalam lamun I

Fafa: Mencintai dalam lamun

Tidur itu misteri, 365 hari di kali usiamu dan Tuhan selalu konsisten memberikan bunga mimpi pada 5 milyar penduduk di bumi. Aku suka bermimpi, karena di dalam mimpi kita masih bersama. Kita yang selalu percaya kebersamaan akan menguatkan dan menua bersama menjadi sebuah pilihan. Kenapa harus dihadapkan dengan berbagai pilihan yang akhirnya kita sendiri yang akan menyesalinya dengan penuh tangis harap. Di dalam mimpi aku memilih untuk mencintaimu lagi karena tak ada yang melebihi keindahan selain kesetiaan. Kau sering menyelinap ke dalam kelopakku. Kau biarkan aku menemukanmu ketika membuka mata, bahkan saat memejamkan mata. Tapi di mana kamu?.

----

“Kukuruyuk kukuruyuk” Suara ayam yang tiba-tiba membangunkanku dari serentetan mimpi itu. Lagi-lagi aku bermimpi tentang kamu. Aku bergegas untuk shalat shubuh karena pagi sudah mulai berlabuh. Kebiasaan di pagi hariku setelah shalat shubuh yaitu jalan-jalan pagi keluar rumah cuma dengan satu alasan, berharap tiba-tiba bertemu kamu di jalan atau entah di mana. Fani sebuah nama yang dulu menjadikanku bergantung akan cintanya. Sosok yang santun, lemah lembut yang membuat aku lemah tak berdaya. Senyum simpul dan lesung pipitnya menjadi pemanis gadis berdarah sunda itu. Pagi ini seperti biasanya aku berangkat ke kantor dengan motor automatic yang kubeli sendiri hasil dari bekerja kurang dari satu tahun dengan cash, Alhamdulillah. Suara klakson terdengar. Lampu lalu lintas menunjukan warna hijau. Sial, beberapa hari ini aku terus melamun, mengenang hal-hal yang tidak perlu aku ingat. Kendaraanku melintasi jalanan kota  Pekalongan. Melewati rumah makan yang menjadi awal dinner kita dulu. Ah, ketergantunganku selalu membikin cinta menguasai logikaku. Melelahkan rasanya hidup seperti ini. Terasing dengan perasaan sendiri dan yang ada mati secara perlahan dibunuh rindu yang mendalam. Jarak dari rumah ke kantor Cuma 15 menit jadi lumayanlah nggak perlu tergesa-gesa.

“Fa!” Gus-Gusman nama panjangnya mengejutkanku seperti biasa. Dia tertawa sambil melepas headshet yang terpasang di telinganya. Pria menyebalkan ini adalah teman baikku. Dia suka ikut campur urusan orang lain apalagi urusan hati. Jagonya ngrecokin dunia asmara orang.

“Masih pagi kok bengong. Ada apa nih?”. Tanya Gusman.

“Aku sedang mikirin idiom-idiom apa lagi yang mau di pake syahrini tahun ini gus”.

“Aelaaah, maju mundur cantik maju mundur cantik sambil menirukan gaya syahrini yang belakangan lagi ngehitz. Kami berdua tertawa.

Benar. Aku harus maju apa mundur. Bukan karena aku sudah terlalu lama menitipkan hati denganya  tapi ada beberapa hal yang 'dipaksa' disederhanakan karena terlalu sulit dijelaskan. Cinta pertama misalnya. Sebenarnya tak ada tentangmu yang kubenci,hanya satu. Bahwa tak ada kepastian yg kugenggam bahwa kau takan pergi suatu saat nanti. Aku sekarang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Pariwisata khususnya MICE (Meeting,incentive,converence,exhibition). Jabatanku di perusahaan ini membuatku sedikit bisa melupakanmu karena banyaknya tanggungan pekerjaan meskipun terkadang jiwaku disini namun ragaku berhasil memelukmu. Aku tidak pernah lelah menunggumu, itu membuatku punya cukup banyak waktu untuk mengingat pentingnya kehadiranmu.

Sebuah pesan singkat masuk. Kukira Gusman, ternyata...

Apa kabar, Fa?

Alhamdulillah baik, kamu gimana?

Fani masih menyimpan nomor teleponku setelah sekian tahun. Tidak sia-sia  aku mempertahankan nomor ini meskipun dulu pernah habis masa aktifnya terus aku bawa ke gallery salah satu provider untuk  mengaktifkan nomor ini lagi. Gusman bahkan mengatakan untuk membuang nomor teleponku ini karena kebanyakan di sms modus penipuan “mama minta pulsa”. Hanya karena fani lah aku tidak ingin menggantinya.

                                Sekarang tinggal dimana? Masih di rumah yang dulu?

Iya masih kok fan, kamu di rumah?

Iya fa hehe

Pesan singkat dari fani cukup membuatku tersenyum. Aku langsung bergegas ke kantin memesan sesendok resah dituangkan ke dalam secangkir rindu, lalu setetes harap dilarutkan ke dalamnya. Sebagian orang mencari tulang rusuknya. Hanya aku yg diam dan menunggu tulang rusuk itu kembali.

“woi!” teriak Gusman, aku pun terkejut.

“Bos nyuruh kita meeting sama client nih”

“Oke ayok” Lagi lagi pria menyebalkan ini membuyarkan kebahagiaanku siang ini.

Aku bersama Gusman berada di Matahari Mall. Salah satu mal terbesar di kota ini untuk meeting bersama client guna membahas pameran mobil yang akan di selenggarakan akhir bulan ini. Terlihat banyak orang yang berada di mal ini dan entah kenapa rasanya aku ingin bertemu dengan fani sekarang di mal ini. Seingatku Fani suka jalan-jalan ke mal dengan mamahnya untuk menyegarkan pikiran, berbeda denganku yang sebetulnya tidak menyukai keramaian mal. Lebih suka menjelajah curug ataupun menyusuri pantai yang belum terekspose dan kemudian menamai pantai itu saat aku meng-upload ke social media. Saat sedang meeting dengan client kuperhatikan ada sosok yang tak asing bagiku.Iya itu fani. Aku kembali memusatkan pandanganku takutnya salah orang, tetapi benar itu benar fani. Nyatanya, aku tidak bisa melepaskan pandangan dari fani sedikitpun.

 

“Fa, itu Fani kan?” tanya Gusman.

“Iya, gimana ini?”

“Selesaiin meeting ini dulu aja fa”.

“Oke deh Gus”. Jawabku dengan suara terbata.

Fani dengan langkah yang pasti melewati Restaurant yang sedang aku pakai buat meeting. Seperti biasa tiba-tiba nyali ini menciut. Melihat matamu yang berbinar tapi tak kulihat senyum simpulmu itu. Seperti orang yang tak saling kenal, kita saling tatap dengan tajam seakan mata kita berbicara. Kelak saat telah hilang kata, yg tinggal di rongga dada hanyalah cinta, sebab saat itu: nafasku tak butuh lagi udara. Aku melewatkanmu begitu saja tak seperti di dalam mimipi. Kita yang saling sapa, saling sayang dan saling menguatkan meskipun kita terpisah jarak beribu-ribu mil. Manakala kita terpisah dari kebohongan yang hakiki , maka kejujuruan menjadi hal yang tak mungkin. Kau yang selalu datang sesukamu, pergi semaumu, dan bertahan sebisaku.

Ya aku melewatkanmu lagi, aku ingin segera tidur lalu bermimpi. Bertemu kamu dan merayakan perjumpaan kita lagi. Meskipun sesaat dan Cuma mimpi.

Usai meeting aku langsung bergegas mencari dirimu yang ada hanya jejakmu yang membekas. Siang ini cuacanya panas sekali, jadi pingin nikahin hujan. Dan di mataku hujan itu kamu. Aku melewatkan Fani begitu saja. Aku takut dia berpikir yang aneh-aneh. Pasti banyak pertanyaan yang menghantam pikiranya. Dulu predikat playboy telah melekat di diriku hanya karena aku anak band. Padahal tidak semua anak band mempunyai sifat playboy. Apalagi aku, hanya seorang yang suka bermusik. Menghiburmu kurasa sudahkan yang belum itu mengkhitbah kamu fan.

Aku pernah membuat skenario indah tentang kita di dalam mimpi. Aku seorang ayah yang selalu bisa membuat anak kita tersenyum, dan kamu ibu yang luar biasa membuat anak kita patuh terhadap Tuhannya. Mungkinkah akan menjadi nyata? Di dalam mimpipun aku pernah membuat kita kecewa. Aku sebagai profesional wedding organizer dan ternyata kamu sebagai clientku. Aku mengerjakan tender ini dengan hati yang goyah. Jika kamu adalah matanya, aku adalah air yang menumpahkanya. Deras, sangat deras dan tak terlihat. Kuberikan konsep wedding yang terbaik karena aku merancang ini sudah 4 tahun yang lalu saat aku membayangkan pernikahan kita kelak. Percampuran adat sunda dan jawa. Sayangnya orang jawa itu bukan aku. Aku hanya bisa melihat kamu bahagia dari kejauhan. Mungkinkah akan menjadi nyata?

Ternyata sudah malam dan aku ketiduran di rumah gusman. Seingatku tadi aku masih memandangimu di mal.

“Udah bangun fa, kelihatanya capek banget kamu hari ini?” tanya Gusman.

“Iya Gus gatau hari yang melelahkan, sekalian pamit gus mau pulang”. Sambil merapikan kasur.

“Yaudah Fa siap”. Jawab Gusman yang sedang mainan gadget.

Hari ini aku merasakan perasaan aneh itu lagi. Perasaan yang tidak biasa. Apakah aku masih diperbolehkan jatuh cinta dengan orang yang sama. Meskipun aku yakin kamu mungkin udah tertambat hati dengan pria lain diluar sana tapi aku yakin masih ada ruang untuk menjebol pertahanan cintamu lagi. Kali ini berbeda dengan yang dulu. Kali ini cinta bukan hanya antar individu dengan individu tetapi sudang berkembang antar individu dan komoditasnya. Meskipun aku percaya bisa menaklukan hatimu tetapi aku ragu menaklukan kedua hati orang tuamu. Mencintaimu sekarang berati menikahimu. Terima kasih Tuhan sudah mempertemukanku dengan dia sehingga nafsuku bukan yang menguasaiku justru ketakutan berbuat yang tidak-tidak yang membayangiku. Beruntung kita masih satu iman.

Cinta hakikinya tentang ridho bukan rindu, menahan cinta pula merupakan bentuk keridhoaan bukan kerinduan. Aku mencintaimu seutuhnya tetapi kita berada dalam sistem yang membatasi cinta untuk berekspresi. Mencintaimu dalam lamun kiranya bentuk ketidakmampuaanku dalam menahan nafsu. Maafkan aku tapi izinkanlah aku mengurung kenangan yang berhasil kita ciptakan. Berdosakah bila aku tidak mewujudkan segala mimpiku untuk terus mencintaimu, kali ini dalam kehdiupan nyata. Bukan lamunan semata.

  • view 158