Menelisik Makam Patuan Bolatan; Raja Rantauprapat

Fajar Dame Harahap
Karya Fajar Dame Harahap Kategori Sejarah
dipublikasikan 06 Februari 2016
Menelisik Makam Patuan Bolatan; Raja Rantauprapat

Ada sebuah kuburan tua di Pekan Lama, Kecamatan Rantau Utara, Labuhanbatu. Kuburan ini disebut-sebut sebagai salah satu kuburan Raja Rantauprapat.

Lokasinya berada di dataran tinggi dan tak jauh dari pemukiman dan Komplek Perumahan Puri. Ketika berziarah ke lokasi pekuburan tua itu, saya beruntung dapat menyaksikan langsung fisik makam itu.

Kuburan ini memiliki tujuh anak tangga sebagai simbol makam para raja. Semak menutupi sekeliling makam. Dinding-dinding makam berselimut lumut.

Dedaunan yang jatuh dari pepohonan menutupi permukaannya. Persisnya kuburan ini berada di tengah-tengah perkebunan karet milik warga.

Sedikit mengalami perawatan dengan adanya pembangunan lantai dan jalan semen, serta rajinnya warga?paragat (para pembuat nira dari pohon aren) berkunjung ke lokasi itu sedikit memberikan nuansa baru pada kuburan ini.

Di makam itu, bersemayamlah sisa tulang belulang seorang raja lokal yang pada masa hidupnya pernah melakukan perlawanan terhadap Sultan Bilah, penguasa yang bekerja sama dengan Belanda.

Namanya Patuan Bolatan. ?Bolatan? artinya adalah perbatasan. Sepak Terjang Sang Raja Tidak suka dengan kebijakan Belanda dan kaki tangannya, Raja yang bergelar Patuan Bolatan ini memilih melawan.

Dengan kekuasaan monarkinya yang mampu mengatur kerajaan-kerajaan di sepanjang Sungai Bilah, dia mengerahkan rakyat untuk membelokkan alur sungai terpanjang di kawasan Kabupaten Labuhanbatu tersebut. Rakyat dikerahkan menggali tanah.

Dampaknya, arus sungai berpindah. Kebijakan ini menyebabkan pasokan air ke hilir Sungai Bilah menyusut drastis. Wilayah Kesultanan Bilah di bagian hilir Sungai Bilah pun mengalami kekurangan air.

Menurut sejarah lokal, Raja Patuan Bolatan merupakan anak Raja Taromar, dan cucu Patuan Munthe. Pada saat ia berkuasa, Kolonial Belanda telah menghunjuk dan melantik Sultan Bilah sebagai penguasa di wilayah yang didomisili delapan kerajaan di kawasan sepanjang Sungai Bilah, Labuhanbatu, berikut dua kerajaan lagi di hulu yaitu Kerajaan Marbau dan NA IX-X (sekarang wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara). ?Ya, Patuan Bolatan memang melakukan perlawanan terhadap kebijakan yang dikeluarkan pihak Kolonial Belanda ketika itu,? ungkap Arifin Munthe, salah seorang keturunan Raja itu.

Menurutnya, perlawanan moyangnya tersebut didasari keberatan terhadap penunjukan dan penobatan Belanda terhadap Sultan Bilah sebagai penguasa di wilayah itu.

Patuan Bolatan menilai kebijakan itu merupakan kesalahan fatal yang dilakukan pihak Belanda. Sebab, sultan yang berdomisili di sepanjang bantaran Sei Bilah bukanlah keturunan para raja. ?Itu wanprestasi yang sudah dilakukan pihak Belanda ketika itu. Raja-raja yang tinggal di bantaran Sungai Bilah tidak pernah mau tunduk ke Sultan Bilah di Negeri Lama. Karena dia bukan keturunan raja,? katanya.

Perlawanan terhadap Kesultanan Bilah itu berlangsung terus menerus dan diikuti para penerus Patuan Bolatan. Tapi sikap kerasnya itu berujung pada ?penculikan? salah seorang cucunya.

Akibatnya, Raja Lembang yang merupakan cucu Patuan Bolatan hilang tanpa diketahui rimbanya. Namun demikian, sikap tegasnya itu tak pelak telah membuat lemah pihak Kesultanan.

Tidak memilih banyak perlawanan, pihak Sultan justru mencari cara melakukan perdamaian. Salah satunya yang paling ampuh adalah melakukan ikatan perkawinan politik.

Sultan menjodohkan salah seorang putrinya, Tengku Maharani, ke cucu Raja Patuan Bolatan. Pendekatan ini berhasil. Cucu Patuan Bolatan, yaitu Mangaraja Lela Setia Muda pun mengawini Maharani.

Dan?islah kedua kekuatan ini seterusnya menghasilkan kesepakatan untuk menjadikan Mangaraja Lela Setia Muda sebagai penguasa dan raja. Api kemarahan Patuan Bolatan akhirnya padam.

Keberadaan kerajaan-kerajaan di bantaran Sungai Bilah sendiri sebenarnya memiliki hubungan erat dengan kerajaan di daerah Toba.

Patuan Munthe, salah seorang raja yang berasal dari Toba, memiliki beberapa orang anak. Salah seorang di antaranya adalah Raja Taromar. Dia memilih merantau ke daerah Labuhanbatu. Raja Taromar kemudian membangun kekuasaan di Labuan Jurung, yakni daratan di bantaran Sungai Bilah yang kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Rantau Utara, Labuhanbatu.

Ia memilih Labuan Jurung sebagai lokasi kekuasaan karena banyaknya ketersediaan pangan, khususnya ikan jenis jurung yang ada di sungai itu.

Raja Taromar membangun wilayah kekuasaannya sekitar tahun 1790 hingga awal tahun 1800-an. Dari silsilah Raja Taromar ini, kemudian muncul cerita tentang Raja Patuan Bolatan, yang merupakan pendiri cikal bakal berdirinya Kota Rantauprapat.

Raja Patuan Bolatan memiliki dua orang putra, masing-masing Raja Muda dan Raja Dunia. Raja Muda memiliki kekuasaan di wilayah Sibuaya. Sedangkan Raja Dunia memiliki kekuasaan di Desa Tebing Linggahara.

Raja Muda sendiri memiliki beberapa orang putra dan putri, di antaranya Raja Sonja boru Munthe, Raja Maisyah boru Munthe, Raja Lembang, Mangaraja Lela Setia Muda, dan Raja Bendahara Lelawangsa. Selapan (delapan) kerajaan yang berdiri waktu itu meliputi Kerajaan Gunung Maria yang merupakan kekuasaan Raja bermarga Nasution bergelar Tuanku Ali Panjang Jenggot (memiliki hubungan pernikahan dengan putri Raja Muda yakni Raja Sonja), Kerajaan Gunung Tinggi yang merupakan kekuasaan Raja Patuan Nalobi bermarga Ritonga, Kerajaan Janji yang menjadi kekuasaan raja bermarga Nasution, Kerajaan Ringo-ringo, Kerajaan Rantauprapat, Kerajaan Bandar Kumbul, Kerajaan Pinarik, dan Kerajaan Padang Laut.

Sedangkan anak kedua Raja Taromar yang merantau ke wilayah Kualuh (sekarang bagian wilayah Labuhanbatu Utara), memiliki garis keturunan pendirian dua kerajaan, yakni Kerajaan NA IX-X dan Kerajaan Marbau.

Kini Patuan Bolatan tinggal menjadi kenangan yang kabur. Bersama dua makam istrinya, makam Sang Patuan harus menanggung risiko rawan tergusur lahan, dan tergerus zaman.

Dibutuhkan kepedulian pemerintah dalam melestarikannya. Bahkan kalau perlu, makam ini dapat ditetapkan sebagai cagar budaya. Agar Kota Rantauprapat ini dapat memeluk sejarahnya kembali.



  • view 1.2 K