Aku Adalah Jawaban #2

Fajar Arsyil Rahman
Karya Fajar Arsyil Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Maret 2016
Aku Adalah Jawaban #2

?

Gadis itu berdiri di beranda rumah, mendesah pelan, tersenyum tipis saat cahaya mentari menyibak embun pagi, menghangatkan bumi.

"Lelah... Aku lelah dengan semua ini. Omong kosong jika mereka menganggap aku baik-baik saja. Hanya sunrise yang mampu membuatku tersenyum tulus, sedikit membuatku tersadar betapa indahnya dunia ini, betapa indahnya... Ah tidak, bagiku kehidupan membosankan. Sama sekali tidak ada bagian yang sungguh menyenangkan."

Gadis itu bercakap dengan pikirannya. 5 menit kemudian sosok yang ia tunggu datang. Gadis itu tersenyum tipis menyambut kedatangan seseorang yang ia tunggu sejak 15 menit lalu.

"Sudah lama menunggu, Key?" Ucap lelaki itu membuka helmnya.

Gadis itu menggeleng, "Belum, Zian. Sebenarnya kita mau kemana sepagi ini?"

Zian tersenyum, "Rahasia dong, Tuan Puteri... Mari kita mulai perjalanan ini. Perjalanan mencari jawaban."

Key mengerutkan dahi. "Maksudmu?"

"Sudahlah, ayo naik. Kemarin aku sudah minta izin bapakmu, mau membawamu jalan-jalan. Semacam refreshing."

Key akhirnya mengalah demi mendengar pernyataan Zian yang telah mendapat izin dari bapaknya.

?Kau tahu, Key. Setiap orang memang memiliki pertanyaan dalam hidupnya. Sebagian bisa dengan mudah mendapatkan jawaban, entah itu melalui penjelasan atau berbagai kejadian. Sementara sebagian lain yang kurang beruntung, begitu sulit mendapatkan jawaban hanya bisa menunggu hingga menemukan.?? Zian terus melesat bersama sepeda motornya. Di belakang, Key mendengar dengan seksama setiap perkataan Zian.

?Aku juga sepertimu, Key. Memiliki banyak pertanyaan dalam hidupku. Pertanyaan yang tidak mudah mencari jawabannya, tapi aku selalu yakin Key. Setiap pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Entah esok, lusa atau kapanpun, aku yakin akan menemukan jawabannya.? Zian melanjutkan. Key hanya diam, matanya mulai mengembun.

= = = = =

"Kau baik-baik saja, Key?" Zian betanya pelan, saat Key menatap sosok Nenek renta yang berjualan kacang rebus di sebuah perempatan, tepat saat lampu merah.

Nenek itu duduk di atas trotoar beralas kardus, hanya bakul berukuran sedang sebagai tempat kacang rebus, dan kaleng bekas roti yang nenek itu bawa untuk menyimpan uang. Wajah keriputnya mengukir gambaran kehidupan yang berliku, tapi senyum tulus saat menawarkan dagangan membuat samar kisah hidup berlikunya.

"Kau tahu, Key. Nenek itu tidak punya siapa-siapa di dunia ini." Zian sudah menghentikan motornya di depan sebuah ruko, turun, sekejap kemudian sudah mendekati nenek penjual kacang rebus, jongkok, memungut dua biji kacang rebus. Nenek itu tersenyum melihat sosok pemuda yang sering mengunjunginya. Key hanya bisa mengikuti Zian tanpa sepatah kata apapun.

"Apa kabar, Nek? Eh, kenalin, Nek, ini Key, teman saya." Zian mengenalkan Key pada Nenek itu.

"Kabar, baik, Nak Zian. Maksudnya gadis ini kekasihmu?" Nenek itu terkekeh, bersalaman dengan Key.

"Eh, bukan... bukan Nek." Zian salah tingkah, sambil mengunyah kacang rebus.

= = =

Satu jam Key berbincang dengan Nenek itu tentang kehidupannya. Mata Key bahkan sembab karena aliran airmata. Zian mengajak Key menuju sebuah jembatan sungai yang terkenal di kota, jembatan besar dengan panjang 200 meter bercat warna pelangi yang menjadi ikon pariwisata kota ini. Disanalah, Zian menghentikan perjalanannya, membiarkan Key melanjutkan tangisannya.

"Kau baik-baik saja, Key?" Zian menyentuh pundak Key di sebelahnya.

"Zian, Aku malu dengan Nenek itu. Sungguh, aku malu." Tangisan Key buncah, meski tidak bersuara.

?Begitulah kehidupan, Key. Kadang kita menyadari sebuah keberuntungan saat melihat kebawah, melihat orang-orang yang kurang beruntung. Meski kita lebih sering mendongak, menatap orang-orang sukses, cemburu, iri, bahkan tak jarang menyalahkan Tuhan atas takdir-Nya yang menurut kita tidak adil ini.? Ucap? Zian, matanya tak lepas memandang sampan yang melaju membawa muatan pasir sungai.

?Aku mengajakmu, Key. Agar kau merasa beruntung atas pekerjaanmu, beruntung atas kehidupanmu, lantas kau mulai mensyukuri setiap nikmat yang telah Tuhan berikan padamu. Kau sudah besar, Key, bukan lagi remaja labil. Seharusnya kau tahu, di luar sana masih ada lebih banyak lagi orang yang kurang beruntung, belum memiliki pekerjaan, di tolak perusahaan, bahkan sebagian ada yang tidak pernah bisa memiliki pekerjaan, karena keterbatasan fisik.? Kalimat Zian terhenti saat serombongan remaja putri melewatinya dengan kaki telanjang, beberapa meter kemudian rombongan itu sudah duduk di jembatan pelangi, berfoto.

?Aku.. aku malu sekali dengan Nenek itu, hidup sebatang kara, di tinggal mati suaminya, sudah tua, tapi Nenek itu tetap bekerja, meski dengan penghasilan yang sedikit saja.? Key menatap kosong ke arah sungai, kedua pipinya juga terdapat sungai airmata.

?Apakah Nenek itu bahagia? Dia tetap bahagia dengan hidupnya, Key. Kau tahu, bahagia itu sederhana, Key. Orang-orang yang membuatnya jadi tidak sederhana, ribet, banyak alasan untuk menyangkal bahwa hidup itu memang sederhana, bahagia itu memang sederhana. Nah, bagi Nenek itu bahagia lebih sederhana lagi, Key. Bekerja apa saja semampunya, dan tidak merepotkan orang lain, sudah menjadi sebuah kebahagiaan hidupnya sendiri.? Lanjut Zian.

?Kau bijak sekali, Zian. Sudah seperti orang dewasa saja.? Key tetap memandang hamparan sungai, tanpa menoleh Zian.

Zian tersenyum tipis, ?Key, semua orang bisa menjadi Bijak. Bukan umur yang menjadi tolak ukur seseorang itu bijak atau tidak. Di dunia ini ada anak kecil yang memiliki sifat bijak. Pun banyak orang dewasa yang tidak bisa bijak dalam menyikapi hidupnya. Jadi, bukan umur yang menjadi sebuah tanda kebijakan, melainkan kejadian hidup yang akan mengubah seseorang menjadi bijak atau sebaliknya.?

Key menoleh wajah lelaki di sampingnya, tersenyum tipis, tersindir. Zian juga ikut menoleh demi melihat Key tersenyum.

?Perjalanan kita masih berlanjut, Key.? Bisik Zian.

= = = = =

Key kembali menangis, kali ini berada di sebuah lembah yang di tumbuhi pohon strawberry. Key duduk di sebuah gubuk, di depannya hamparan buah strawberry ranum merayu siapa saja yang melihatnya untuk memetik.

?Kau baik-baik saja, Key?? untuk ketiga kalinya Zian bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Tiga puluh menit lalu, Zian membawa Key mengunjungi seorang anak berusia 10 tahun, merawat adiknya berusia 6 tahun yang sedang sakit. Ibu mereka sudah meninggal 4 tahun silam, akibat wabah demam berdarah. Sementara Ayahnya menjadi pemulung sampah.

Yang membuat Key menangis adalah ketika anak 10 tahun itu bercerita kegiatan kesehariannya. Bayangkan saja, di usia ke 10 tahun anak lelaki itu sudah mengemban begitu banyak tanggung jawab. Pagi, membantu Ayah memasak, di lanjutkan mencuci peralatan dapur, mencuci pakaian adiknya, untuk kemudian bersekolah bersama adiknya yang baru kelas 1 SD. Siang membantu Ayah memulung sampah plastik di Tempat Pembuangan Sampah akhir, di dekat rumahnya. Dan saat adiknya sakit, sempurna seharian hanya untuk menjaga dan merawat adiknya dengan kasih sayang, mengorbankan banyak hal. Tapi tidak dengan pendidikan, beruntung guru anak lelaki berusia 10 tahun itu adalah tetangganya, yang bersedia membantu anak itu belajar di malam hari, agar tidak tertinggal pelajarannya.

= = =

?Sudah ku bilang, Key. Di dunia ini ada seseorang yang masih disebut anak-anak, namun sudah memiliki kebijakan dalam dirinya, kebijakan dalam menyikapi hidup, kebijakan yang terlahir dari keadaan, bukan karena sudah dewasa.? Zian beranjak duduk di samping Key, menatap hamparan kebun strawberry di hadapannya.

?Maaf, Key. Jika perjalanan ini justru malah membuatmu sedih, menangis.? Zian menengok gadis di sebelahnya.

?Aku memang sedih, Zian. Sedih melihat diriku yang menyedihkan. Kufur atas nikmat yang telah Tuhan berikan. Lihatlah, betapa menyedihkannya diriku, Zian. Bahkan Nenek yang berjualan kacang rebus seharian di pinggir jalan, tidak peduli panas dan hujan tetap tersenyum penuh kedamaian, ketulusan, tetap bekerja di usia senja. Dan, anak lelaki itu, yang baru berusia 10 tahun. Hiks..? Key tidak tahan dengan endapan airmatanya yang kini tumpah, meluber di kedua pipinya.

?Syukur dan Ikhlas. Itulah kunci sebenarnya agar kita bahagia, Key. Kebahagiaan bukan milik mereka orang-orang kaya, juga belum tentu milik mereka orang-orang yang tidak punya. Tapi kebahagiaan ada pada mereka, orang-orang yang bersyukur dan ikhlas atas takdir hidupnya. Karena di dunia ini, ada banyak orang-orang kaya yang begitu rakus, tidak puas dengan apa yang dimilikinya, selalu kurang. Juga ada orang-orang miskin yang terlalu banyak bermimpi, tidak ada tindakan untuk mengubah mimpi. Hingga membuat suatu keadaan yang seharusnya di syukuri malah di kufuri. Hilanglah kebahagiaan dalam hidup orang-orang itu. Hanya orang yang memiliki rasa syukur dan ikhlaslah yang akan merasakan kebahagiaan sejati, dalam keadaan apapun.?

?Bersyukurlah, Key. Kau masih memiliki pekerjaan, meski berangkat pagi sampai larut malam. Bersyukurlah, karena ada banyak sekali orang-orang yang justru membutuhkan pekerjaan, ada banyak sekali orang-orang yang justru jenuh dengan tidak adanya pekerjaan. Pun ada banyak sekali orang-orang yang bahkan setia dengan pekerjaannya yang meski hanya digaji kecil, habis untuk kebutuhan makan. Tapi percayalah, Key. Semua rezeki itu sudah ada yang mengatur, sesuai dengan porsi kebutuhan hidup masing-masing orang.?

Key menyeringai tipis, mengusap airmatanya.?

?Terimakasih, Zian. Untuk perjalanan hebat ini.? Key berkata datar.

Sehari lalu, gadis itu bercerita banyak hal pada Zian, teman lelakinya yang paling dekat. Tempat bercerita sehari-hari, temasuk tentang pekerjaannya yang kian membosankan, berangkat pagi, pulang malam, gaji hanya cukup untuk makan. Tapi hari ini, hatinya dibuat tenang, oleh Zian, hatinya semakin dibuat nyaman dengan sosok lelaki di sampingnya itu.

?Apa kau masih menganggap kehidupanmu membosankan, Key??

Gadis itu menggeleng, tersenyum tipis, mengusap airmatanya sekali lagi.

?Bahkan aku baru sadar, bukan hanya Sunrise yang membuatku merasa masih ada hal indah di dunia ini, tapi kehadiranmu, Zian. Yang membuatku yakin, dunia ini memang dipenuhi hal indah.? Gadis itu berkata lembut, suaranya hanyut diujung kalimat, bersamaan dengan semilir angin lembah strawberry yang menyejukkan. Mereka berdua kemudian asyik memetik buah strawberry, canda tawanya disaksikan oleh para petani buah strawberry. Sayang, setengah jam kemudian hujan turun. Membuat mereka berdua kembali berteduh di gubuk, petani strawberry berlarian meneduh.

?Kau tahu, Key? Apa persamaan aku dengan hujan?? Zian tersenyum menatap Key yang asyik menangkap tetes air hujan. Key menggeleng.

?Sama-sama jatuh. Bedanya, hujan jatuh ke tanah. Sementara aku, jatuh ke hatimu.? Key mencipratkan air hujan di tangannya tepat di muka Zian, tertawa.

= = =

-Purbalingga, 03 Maret 2016-

???????????

?

?

?

?


?

  • view 147