Aku Adalah Jawaban

Fajar Arsyil Rahman
Karya Fajar Arsyil Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Februari 2016
Aku Adalah Jawaban

?

Aku memandang langit biru, awan putih melaju dengan tenang seiring hembusan angin menyejukkan. Di depanku, hamparan padi berusia sebulan membuat hijau pandangan.

Aku mendesah perlahan. Bergumam dalam sunyi waktu Dhuha.

"Ya Allah. Jika saja kesabaran ada batasnya. Sudahkah aku melampaui batas itu?"

Pertanyaan yang sama setiap kali menyaksikan teman-teman yang selalu terlihat bahagia dengan hidupnya. Seolah tiada beban memberatkan pikirannya.

Awan putih semakin cepat melaju seiring hembusan angin yang kencang. Aku berdiri, melihat gumpalan awan hitam yang mendekat cepat. Aku beranjak dari tempat duduk di sebuah gubuk bambu. Berjalan pulang.

Gemuruh halilintar mulai terdengar. Semakin lama semakin keras terdengar. Aku berlari sekuat tenaga. Awan hitam itu sudah menguasai langit biru, menutupi gagahnya matahari. Seketika hujan turun deras. Aku masih jauh dari rumah, memutuskan berteduh di bawah pohon.

"jdarrrr..." Aku hilang kesadaran.

= = = = =

"Dimana ini?" aku bertanya dalam sepi. Hanya terang cahaya yang menyilaukan sepanjang mata memandang. "Hallo.. Apa ada orang.." Hanya pantulan suaraku yang terdengar.

"Tentu saja ada." Aku kaget, mundur beberapa langkah demi mendengar kalimat itu.

"Siapa kamu? Ini dimana? Aku ada dimana?" Ucapku pada sosok itu. Lelaki yang memunggungiku dengan celana panjang putih dan hem lengan panjang putih. Dari suaranya lelaki itu masih muda.

"Kau terlalu banyak tanya." Jawab lelaki itu yang masih memunggungiku. "Aku adalah jawaban. Hanya orang-orang yang beruntung yang bisa berkesempatan mendapat jawaban."

Aku mengernyitkan dahi. Tidak mengerti.

"Zian."

Aku menelan ludah. Darimana lelaki itu tahu namaku.

"Sudah ku bilang, aku adalah jawaban. Yang bosan dengan pertanyaanmu tentang rasa sabar. Ah, sekarang malah kau tambah lagi dengan bertanya, dari mana aku tahu namamu."

Lelaki itu masih memunggungiku, seolah tahu benar apa yang sedang aku pikirkan.?Aku mulai cemas, sedikit ngeri membayangkan siapa sebenarnya orang di hadapanku ini.

"Kau tidak usah takut. Tidak perlu cemas. Aku hanyalah jawaban. Bukankah kau membutuhkan jawaban? Jawaban atas pertanyaanmu. 'jika sabar ada batasnya apakah aku sudah melampaui rasa sabar itu?' Demikian pertanyaanmu, bukan?"

Aku perlahan mengangguk. Lelaki itu masih tetap pada posisinya. Berdiri memunggungiku.

"Sayang sekali, Zian. Sabar itu tidak ada batasnya, tidak pernah ada batasnya. Hanya orang-orang bodoh yang berkata, sabar itu ada batasnya. Orang-orang yang tidak pernah memahami hakikat sabar."

Aku pelan mengangguk. Setuju dengan pendapat orang didepanku.

"Kau tahu, Zian. Sabar itu adalah nafas kehidupan. Jika kamu sudah tidak bernafas, apakah lantas bisa dibilang kehidupan?"

Aku menggeleng perlahan. Lelaki itu tetap tidak menengokku sebagai lawan bicaranya. Atau, jangan-jangan memang tidak perlu menengok.

"Tidak, Zian. Jika kita sudah tidak bernafas itu bukan lagi kehidupan, tidak lagi merasakan hidup. Juga dengan rasa sabar, Zian. Sabar itu tidak pernah berbatas. Jikapun kau menganggap sabar ada batasnya, itu berarti sudah bukan lagi sabar namanya."

Aku tersenyum tipis, memandang lelaki yang memunggungiku.

"Yang kedua adalah tentang kebahagiaan mereka, kebahagiaan teman-temanmu yang seolah tidak pernah memiliki beban kehidupan, beban pikiran."

Aku kembali menunduk.

"Kau sepertinya belum mengerti arti kebahagiaan sesungguhnya, Zian."

Aku mengangguk tipis, mataku kembali memandang sosok yang masih berdiri memunggungiku.

"Aku tahu, kamu berfikir mereka itu kaya, dan mereka bahagia karena memiliki segalanya, Iya kan?"

Sekali lagi aku mengangguk.

"Sayang sekali, Zian. Apa yang kau pikirkan itu sama sekali tidak ada benarnya. Di dunia ini ada banyak sekali orang kaya, memiliki semuanya, bisa mewujudkan apa saja yang dia inginkan. Ada banyak sekali orang seperti itu di bumi ini, Zian. Tapi hanya sedikit yang sungguh bahagia dengan kekayaannya. Sebagian besar dari mereka justru diliputi rasa takut, takut kehilangan harta benda mereka, takut ada yang meminjam, sebagian lagi takut diminta orang lain. Mereka tidak akan pernah merasakan hakikat bahagia, Zian. Mereka kehilangan rasa syukur, hingga sesuatu yang seharusnya adalah kebahagiaan berubah menjadi rasa cemas, rasa takut."

"Pun sebaliknya, Zian. Di dunia ini juga ada banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tidur di emperan, makan kalau ada recehan. Bayangkan kehidupan mereka denganmu, Zian. Kau sungguh lebih beruntung dari orang-orang ini. Tapi sayang sekali, Zian. Terkadang orang-orang seperti ini jauh lebih bersyukur dibandingkan orang-orang sepertimu."

"Itulah jawabanku, Zian. Bersyukur. Mereka kaya tapi di liputi ketakutan, takut kehilangan, takut ada yang meminjam, takut diminta orang lain, tapi si kaya ini sejatinya tidak pernah bahagia karena kehilangan rasa syukur. Sebaliknya, si miskin yang hidup di emperan, makan jika ada uang recehan, sudah cukup bahagia karena selalu bersyukur."

"Bersyukurlah, Zian. Kau tidak di ciptakan seperti kedua golongan orang-orang ini. Bersyukurlah, kau tidak cemas atas apa yang kau miliki. Bersyukurlah, atas kehidupanmu ini."

Aku menghembuskan nafas. "Tapi, teman-temanku seperti tidak memiliki beban kehidupan. Aku iri dengan mereka, aku ingin seperti mereka, menikmati hidup yang sesungguhnya."?

"Astaga, Zian. Kau bertanya lagi? Baiklah, aku adalah jawaban, dan ini adalah pertanyaan terahir darimu yang akan ku jawab."

Lelaki itu masih dengan posisi yang sama, memunggungiku tanpa perlu sedikitpun menoleh.

"Zian, catat kalimatku ini. Tidak ada kehidupan yang sebenarnya di dunia. Tidak ada kehidupan yang sesungguhnya di dunia, karena dunia akan hancur lebur di masanya nanti. Kehidupan abadi adalah di akhirat, di surga yang Allah siapkan untuk orang-orang beruntung, bukan di dunia, Zian."

Aku mengangguk, paham dengan kalimat lelaki di depanku.

"Dan tentang perasaan mereka, teman-temanmu. Kau tahu, Zian. Perasaan seseorang bisa jadi seperti celana dalam yang mereka pakai. Hanya mereka yang tahu persis apa warna celana dalam yang di kenakan. Kita tidak akan pernah tahu persisnya warna celana dalam mereka."

Aku tersenyum dengan perumpamaan orang di depanku.

"Begitupun perasaan, Zian. Hanya orang yang mengalamilah yang tahu persis perasaan apa itu. Bisa jadi mereka bahagia dibalik kesedihan yang tersimpan. Bisa jadi mereka menangis, terlihat sedih, nyatanya justru tangisan haru oleh kebahagiaan."

"Terahir, jangan coba kau cari kebahagiaan, Zian. Karena kebahagiaan bukanlah barang yang hilang, jadi buat apa di cari. Pun jangan mengejar kebahagiaan, Zian. Kebahagiaan bukanlah piala untuk diperebutkan, bukan mangsa yang harus dikejar agar didapatkan. Tapi ciptakanlah kebahagiaanmu sendiri, Zian. Kebahagiaan itu di ciptakan, bukan di cari, apalagi di kejar."

"Mulai sekarang, Zian. Saat kau terbangun, ciptakanlah kebahagiaanmu sendiri. Ketahulaih, kebahagiaan terbaik adalah kebahagiaan yang bisa membuat orang lain bahagia. Dan tentunya kebahagiaan ini harus dimulai dari diri sendiri, Zian."

= = = = =

Aku membuka mataku, cahaya menyilaukan membuatku refleks memejamkan mata lagi. Lamat-lamat ku dengar suara sosok perempuan.

"Zian,, nak.. puteraku.. Zian..." Ibu menyentuh lembut pipiku, tangan halusnya menyadarkanku satu hal.

"Di.. dimana ini, Bu..." ucapku serak, membuka mata perlahan.

"Kita ada di puskesmas, Nak. Alhamdulillah, kau akhirnya sadar. Ibu khawatir sekali." ucap Ibu dengan sisa airmata di kedua matanya.

"Kau, sudah bangun, Zian. Wah, anak bapak kok bisa tidur siang sampai 5 jam lebih." Suara Ayah yang mendekat, tersenyum, berdiri di sisi Ibu. Aku juga tersenyum.?

Apa yang terjadi denganku? Ternyata ada seorang petani yang melihat kejadian saat aku tersambar petir, seketika membawaku ke Puskesmas terdekat. Untung saja, petani itu adalah tetanggaku. Dengan sigap membawaku ke Puskesmas, mengabarkan keadaanku pada kedua orangtuaku.

Lantas siapa lelaki itu? entahlah, yang pasti aku sudah mendapat jawaban atas pertanyaanku. Apa kata lelaki itu? Ah, iya. Sabar yang tidak pernah ada batasnya, Bersyukur atas banyak hal, agar hidup senantiasa berbahagia, terahir adalah kebahagiaan yang di ciptakan sendiri, kebahagiaan yang bisa membuat orang lain juga merasa bahagia.

Siapa lelaki itu, yang hingga aku terbangun bahkan tidak pernah selintaspun melihat wajahnya? Entahlah, yang pasti lelaki itu mengenalkan diri dengan kalimat "Aku adalah Jawaban.?

?