Kisah Tenang Aku Dan Kamu

Fajar Arsyil Rahman
Karya Fajar Arsyil Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Desember 2016
Kisah Tenang Aku Dan Kamu

Prolog.

Aku berjalan menelusuri setiap jengkal jalan setapak yang pernah di lalui bersamanya. Satu-dua langkah aku berhenti demi menatap lebih dekat pepohonan di kanan-kiri, mendongak, menyapu pandangan, melihat satu persatu pepohonan yang kian meninggi.

Lebih dari sepuluh tahun berlalu. Tentu ada banyak sekali perubahan di tempat ini. Pepohonan yang semakin tinggi, membuat siang semakin terasa gelap, cahaya matahari tidak sampai di tanah. Dahulu tempat ini amat lengang, sepuluh tahun berlalu tetap saja lengang. Hanya ada orang-orang yang sedang sibuk memanen getah damar. Saking sibuknya, tidak ada waktu untuk berbincang.

Aku terus melangkah di temani semilir angin yang menyejukkan, di temani suara-suara serangga siang, di temani dedaunan yang menari-nari. Mataku jatuh pada rumah pohon yang menjulang tinggi di antara pohon-pohon damar. Ada ukiran di salah satu batang pohon damar yang mengapit rumah pohon. kupu-kupu yang sedang mengepakan sayapnya, di sayapnya itulah terdapat huruf kapital tak beraturan, "KISAH TENTANG AKU DAN KAMU" Aku tersenyum demi melihat jelas tulisan itu. Langkahku semakin tegap mendekati pohon tersebut, menyibak rerumputan setinggi lutut.

Lebih dari sepuluh tahun berlalu. Kamu yang pergi, aku juga telah meninggalkan, tetapi pohon ini masih menyimpan kenangan kisah tentang aku dan kamu, kisah tentang kita berlima. 

Aku akan mengubah tempat ini, aku akan mengundang banyak kisah aku dan kamu lainnya.

***

(Gadis itu Rinai)

Sudah jam 7 pagi. Kabut tebal masih mengambang. Sebenarnya kabut di desaku tidak mengenal musim, hanya saja saat musim kemarau, kabut di pagi hari lebih tebal di banding musim penghujan. Jarak pandang hanya terhitung beberapa meter saja.

Pagi itu aku semangat sekali bersekolah. Hari pertama kelas 8 di sekolah menengah pertama. Tidak ada anak sekolah yang bersepeda di desaku. Ayolah, siapa yang sanggup mengayuh sepeda dengan tanjakan sepanjang perjalanan berangkat sekolah. Sekalipun siswa desa tetangga bersepeda saat berangkat sekolah karena perjalanannya menurun, pastilah giliran pulang sekolah mereka berjalan kaki dengan gandengan mesranya (sepeda).

Maka tidak heran jika aku dan beberapa temanku selalu antusias saat melihat beberapa kali komunitas sepeda dari kota Kabupaten melewati jalanan menanjak di depan sekolahku. Satu-dua pesepeda itu ada yang masih bisa bertahan dengan nafas tersengal demi menaklukkan tanjakan abadi, sebagian besar memutuskan turun dan menuntun sepedanya, seperti nama komunitasnya, TTB (Tanjakan Tuntun Bae).

Aku berlari di lorong-lorong sekolah yang sudah sepi, jam 7 lebih 15 menit. Sial, terlalu antusias membuatku tidak bisa tidur semalaman, baru bisa memejamkan mata tepat setelah beribadah Sholat Subuh dan baru bangun jam 06.30 pagi. Tidak peduli dengan omelan mamak, aku bergegas ke kamar mandi, kurang dari limabelas menit aku sudah selesai mandi, lantas sarapan beberapa sendok nasi dengan telur dadar, sebagaimanapun terlambatnya bangun tidur, dirumah ini sarapan adalah hal wajib, atau mamak sama sekali tidak akan memasak untuk makan siang dan malamnya.

Aku tiba di depan kelas dengan pintu yang sudah tertutup. Lantas aku mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Pak guru Wahyudi, yang ternyata menjadi wali kelasku, mempersilahkan masuk. Kurasakan aura aneh ketika teman-teman sekelas kompak memandangku. Aku bergegas melangkah ke belakang, mataku menyapu ruang kelas, mencari bangku kosong. Hei.. Siapa dia? Dan hanya itu bangku kosong yang tersisa. Ayolah, apa aku harus duduk bersebelahan dengan seorang gadis? Dan siapa gadis itu? Gadis itu terlalu asing, aku belum pernah melihatnya tahun lalu?

"Apa yang kau tunggu? Duduk." Pak Wahyudi sudah menyuruhku duduk setelah hampir 20 detik aku berdiri, menatap bangku kosong dan gadis di sebelahnya.

Ragu-ragu, namun akhirnya aku mengalah, duduk di sebelah gadis itu yang tersenyum indah. Entah perasaan apa saat itu yang menggerayangi hatiku. Di luar itu, teman-teman lain menertawaiku tanpa suara, kembali menatap wajah garang Pak Guru Wahyudi.

"Aku juga terlambat, sepuluh menit sebelum kamu masuk." Gadis di sebelahku bersuara, amat nyaring, lebih sejuk mendengar suara gadis di sebelahku di banding kabut di luar.

Aku hanya mengangguk, kembali menatap Pak Guru Wahyudi yang entah mengapa seperti terus-menerus menatapku.

"Baiklah anak-anak, mungkin kalian semua sudah saling mengenal, tapi sepertinya kita memiliki wajah baru yang kebetulan berada di kelas ini. Silahkan, Nak, perkenalkan dirimu."

Gadis di sebelahku berdiri demi perintah Pak Guru Wahyudi. Lantas melangkah ke depan, memperkenalkan diri.

"Namaku Rinai Lestari. Panggil saja Rinai. Aku baru sebulan lalu pindah di desa ini bersama kedua orangtuaku yang sudah bosan dengan suasana Ibu kota. Aku anak tunggal."

Rinai tersenyum manis, matanya menyapu seluruh ruangan, lantas mengangguk tipis. Melangkah, kembali ke kursi. Dia juga tersenyum padaku sebelum benar-benar duduk.

"Aku, Takim. Mustakim." Giliranku menyodorkan tangan, bersalaman. Rinai menyambutnya dengan senyum riang.

"Senang berkenalan denganmu." Ucapku. Dia hanya tersenyum dan kembali mendengarkan petuah dari Pak guru Wahyudi.

Pak Wahyudi ini guru bahasa inggris. Ada tiga guru bahasa inggris di sekolah ini, tapi kenapa harus Pak Wahyudi lagi yang mengajarkan bahasa inggris di kelas 8, dan sialnya kenapa harus menjadi wali kelasku? Aku sejak kelas 7 sudah tidak suka dengan Pak Wahyudi. Selain menjadi guru di sekolahku, dia juga adalah tetanggaku, itulah yang membuatku tidak suka, karena beliau seringkali mengadu tentang nilai-nilai dan kelakuanku di sekolah pada mamak.

"Baiklah, seperti yang sudah Pak guru katakan, siapa yang paling terakhir berangkat, dia yang menjadi ketua kelas. Takim, selamat kau menjadi presiden di kelas ini."

Pak Wahyudi setengah mengejek manatapku. Di sambut tawa ringan teman-teman.

Aku tersentak, kaget bukan kepalang, aku yang baru duduk di kelas beberapa menit lalu, harus dibuat tidak nyaman oleh dua hal sekaligus. Pertama, harus duduk dengan gadis bernama Rinai. Kedua, ayolah, aku sama sekali tidak pernah menjadi apapun dalam struktur organisasi sebelumnya, sekalinya jadi sesuatu, masa iya langsung jadi ketua kelas?

Aku tidak bisa menolak. Tapi ada satu hal yang menarik. Aku bebas menentukan siapa yang menjadi wakil, sekretaris dan bendahara.

"Wah selamat pak ketua." Rinai memberi selamat dengan senyum tersungging.

Aku menatap dan tersenyum manis kepada Rury, sahabat sekaligus tetanggaku yang saat itu juga menatapku curiga.

Aku mengangkat tangan. "Baiklah Pak, saya merekrut Rury sebagai wakil ketua kelas. Rinai sebagai Sekretaris dan Laila sebagai bendahara kelas. Terakhir, seluruh anggota kelas sebagai penanggungjawab kebersihan dan kerapian kelas.”

Semua diam. Kelas kembali lengang. Pak Wahyudi hanya tersenyum di kursinya.

Sesederhana itu, tapi cukup menyulitkan saat Rury menolak keinginanku, namun ia tak bisa berkutik. Aku berhak memilihnya.

"Kau... Keren, Takim." Rinai tertawa di sebelahku. "Ini seperti pukulan telak. Kau meng-K.O-kan seluruh lawan."

Mendengar pujiannya, aku jadi tersipu sendiri.

Jam 11 siang, seluruh siswa diperkenankan pulang. Hari pertama tidak ada pelajaran, hanya menyusun struktur organisasi kelas dan menulis jadwal mata pelajaran.

Aku keluar kelas dengan santai, hingga Rinai menyusulku setengah berlari.

"Takim.. Tunggu."

Aku berhenti demi mendengar gadis itu memanggil namaku.

Di luar, matahari kian terik, tapi suasana tetap sejuk. Bukan karena gadis itu yang mengatakan kalimat menyejukan. Melainkan karena di desaku hampir setiap hari sejuk, asri dengan pepohonan yang tinggi, teduh dengan panorama hijau khas pegunungan...

Rinai... Gadis yang menjadi benang merah untuk urusan ini.

***

(Rumah Pohon)

"Jadi, kau penghuni rumah itu?"

Aku melangkah beriringan dengan Rinai. Beberapa teman sekolah menyapaku, dan kubalas dengan lambaian tangan.

"Iya, tadi pagi saat berangkat sekolah, aku melihatmu yang tergesa-gesa, berlari. Yang membuatku sampai lebih dahulu, hanya karena aku di antar ayahku."

"Wah, ternyata kita tetanggaan. Selamat datang di kampungku, eh, kampung kita..." Aku merentangkan tangan. Rinai tertawa kecil.

"Eh, Rinai. Aku punya tempat seru. Tempat yang nyaman untuk bersantai."

"Dimana?" Rinai penasaran.

"Ikuti aku."

Aku berlari-lari. Di ikuti Rinai yang tidak mau ketinggalan. Mengabaikan pemandangan indah lembah strawberry yang sudah musim panen. Sampai di ujung turunan, aku mengambil jalan setapak menuju sebuah kebun. Tidak jauh, kami akhirnya sampai di kebun milik bapakku. Hanya di tumbuhi pohon damar.

Di lahan seluas hampir satu hektar ini, hanya terlihat pohon damar sejauh mata memandang. Membuat teduh suasana.

Mataku menyapu pandangan. Ada Bapakku dan beberapa tetangga yang membantunya memanen getah damar.

Disana juga ada Rury dan Aldi yang masih memakai seragam sekolah, sibuk melakukan sesuatu. Mereka berdua kompak berhenti sejenak demi melihat kami yang baru datang.

"Hebat. Kalian memang anak buahku yang paling rajin." Aku menggoda, tertawa di ujung kalimat.

"Apa yang kalian kerjakan?" Rinai bertanya, mendekati Rury dan Aldi.

"Lihat ini..." Laila datang dari belakangku, dengan kertas putih di tangannya. Menunjukkan sebuah gambar rumah kayu di antara pepohonan damar.

"Wah ini hebat. Siapa yang merancang ini?" Rinai terkesima.

Rury, Aldi dan Laila kompak menatapku. Aku tersipu.

"Takiiim. Kau tidak pulang ke rumah dulu?" Bapakku berteriak dari kejauhan.

"Tidak paaaak." Aku balas berteriak agar terdengar.

"Awas saja kau kena marah Mamak."

Aku tersenyum. Melambaikan tangan.

Aldi dan Rury kembali bekerja. Memotong kayu dengan ukuran-ukuran tertentu. Laila memastikan kayu-kayu itu tidak salah potong. Aku membantu mereka dengan do'a.

"Kamu ini, mentang-mentang yang punya ide. Sudah kayak mandor saja, Kim." Rury bersuara.

"Eh, dia bukan cuma punya ide, Rury. Tapi dia juga yang punya tanah ini. Pewaris tunggal loooh..." Imbuh Aldi.

Aku menimpuk Aldi dengan potongan kayu kecil. Rinai tertawa di samping Laila.

Hari itu, adalah hari pertama bagiku, Aldi, Laila dan Rury untuk mengenal Rinai. Gadis periang dengan rambut sebahu, yang selalu dibiarkan terurai. Gadis yang menjadi benang merah dalam kisah ini.

Hampir 3 minggu kemudian, rumah pohon milik kami berlima akhirnya sudah selesai. Hanya tinggal menambahkan cat kayu dengan warna terang. Rumah pohon ini beratapkan kayu yang di atasnya sengaja kami hiasi dengan jerami kering.

Untuk dapat menaiki rumah pohon yang di apit dua pohon damar ini, kita harus melalui tangga kayu vertikal setinggi 5 meter di salah satu pohon damarnya.

Meskipun di atas pohon, rumah kayu ini di pastikan muat untuk kami berlima. Tentu saja, peran bapak lebih banyak membantu, daripada aku yang hanya merancang rumah pohon seperti imajinasi.

lima tahun ke depan, rumah pohon inilah tempat kami berlima bertemu, berkumpul saling bercerita banyak hal.

"Apa yang sedang kau lakukan, Rinai?" Ucapku di satu waktu ketika melihatnya menulis sesuatu di salah satu pohon damar.

Dia hanya tersenyum, memberi kode, agar aku melihat sendiri.

Aku tersenyum begitu melihat sebuah kalimat , "Kisah Tentang Aku Dan Kamu" di dalam ukiran sayap kupu-kupu yang sedang terbang.

"Aku dan kamu? Kenapa hanya aku dan kamu? Bukankah kita semua berlima?"

***

(Kisah Tenang Aku adn Kamu)

Aku masih duduk di rumah pohon yang beberapa bagiannya sudah mulai merapuh. Tanganku mengusap ukiran kupu-kupu terbang dengan sayap bertuliskan 'kisah tentang aku dan kamu', aku tersenyum mengingat kejadian puluhan tahun silam.

Pohon damar di kebun Bapakku kian meninggi, kian meluas. Bapak hampir mempekerjakan seluruh warga kampung setiap kali memanen getah damar.

Aku tersenyum, mengusap sekali lagi ukiran bergambar kupu-kupu yang ada di pohon damar penyangga rumah pohon milik kami berlima.

***
"Kenapa harus aku dan kamu? Bukankah kita berlima?" Aku bertanya dengan muka bersemu.

"Jangan kepedean dulu, bapak ketua." Rinai menoleh, tangannya masih sibuk menambah ukiran di batang pohon damar penyangga rumah pohon.

"Setiap satu dari kita berhak menjadi 'aku' ataupun 'kamu'. Setiap satu dari kita berhak memiliki ceritanya masing-masing, membuat kisahnya sendiri-sendiri sebagai tokoh 'aku'. Dan setiap satu dari kita juga memiliki kewajiban mendukung cerita dan kisah lainnya dengan berperan sebagai tokoh 'kamu'." Rinai menjelaskan, dia memang jago dalam pelajaran bahasa.

"Jadi, jika aku menjadi tokoh ‘aku,’ kau memiliki kewajiban menjadi tokoh ‘kamu,’ bukan?" Giliranku bertanya. Rinai hanya tersenyum tipis, kembali mempercantik ukirannya.

"Ah, kalian selalu saja kompak mengganggu suasana." Gurauku saat Rury dan Aldi datang.

"Terserah kau mau berfikiran apa, Kim. Yang pasti tugas kelompok ini harus segera selesai, hari ini juga." Rury menjawab santai.

Aldi yang berbeda kelas dari kami, hanya tersenyum santai sambil tiduran.

"Sepertinya aku terlambat, apa aku pulang sajaaa?" Laila berteriak dari bawah rumah pohon.

"Pulang saja, Lail... Jangan salahkan kita jika namamu tidak tercantum dalam kelompok, yaaa..." Rury juga berteriak, membuat burung-burung berterbangan dari dahan-dahan pohon damar.

Demi kalimat Rury, kami semua tertawa, termasuk Laila yang mulai menaiki tangga.

Rinai menghentikan ukirannya saat Aldi bergurau jika tulisan dan ukiran itu hanya untukku dan Rinai.

Aku menimpuk Aldi dengan tutup bolpoin.

Sore itu, kami semua kecuali Aldi, mengerjakan tugas kelompok mapel bahasa Indonesia, membuat karya tulis tentang potensi wisata sekitar. Jika kelompok lain membahas air terjun, kolam renang, taman-taman, kelompokku sepakat membahas kebun damar sebagai potensi wisata, terutama jika di perbanyak rumah pohonnya. Pasti akan menarik perhatian warga di luar sana, terlebih aku yakin sekali, teknologi beberapa tahun kedepan akan membuat tempat ini kian terkenal.

***

Waktu melesat, 2 tahun berlalu bergitu saja dari awal kami mengenal Rinai. Kini kita berlima berada di penghujung sekolah menengah pertama. Setahun terakhir, kami semakin erat, terlebih Aldi yang akhirnya satu kelas dengan kami. Jarang sekali kami berlima terlihat sendirian di sekolahan. Membuat teman-teman lain mencoba membuat geng serupa, yang sayangnya tidak sehebat persahabatan kami.

Ujian nasional sudah berlalu, waktu yang membuat tangan sendiri bahkan gemetar saat melingkari setiap huruf dari nama sendiri di lembar jawaban UN. Semua sudah berlalu, tapi episode baru masa SMA terbayang, akankah lebih seru, atau sepi?

"Jadi, kita akan mendaftar di tempat yang sama, kan?" Laila membuka suara setelah beberapa detik kita semua diam di rumah pohon.

"Keseruan, kebersamaan, kegilaan dan kekompakan ini harus tetap berlanjut, kan?" Laila menambahkan.

"Lail, bukankah kau sudah mendengarnya?" Aldi memperbaiki posisi duduknya, kami berlima sempurna duduk di tepian rumah pohon.

Lail mengangguk. Di sampingku, Rinai bagai membeku, diam seribu bahasa. Beberapa hari lalu ia bercerita, jika dirinya akan sekolah di pondok pesantren. Kemungkinan besar ia menginap di asrama putri.

"Ah, perbincangan ini membuat kita terselubung awan mendung." Aku angkat suara. Membuat yang lain menoleh ke arahku.

"Hei, bagaimana kalau besok kita berwisata ke air terjun Sumba. Ayolah, agar suasana lebih rileks dengan suara air yang jatuh berdebum." Ideku, yang muncul begitu saja.

"Bisa jadi ini adalah kebersamaan kita yang terakhir. Sebelum esok lusa kita disibukkan dengan kegiatan super padat di masa sekolah lanjutan. Sebelum esok lusa, kita tidak lagi sempat saling sapa karenanya." Ucapku lirih. Aku merebahkan tubuhku demi mencegah airmata tumpah. Laila dan Rinai sudah meneteskan airmata...

***

(Berpisah)

Kota seribu curug. Julukan ini sepertinya memang layak di sandang kotaku. Entah berapa pastinya jumlah curug atau air terjun yang ada di kota ini. Mulai dari yang sudah menjadi tempat wisata, hingga masih berada di kedalaman hutan pegunungan. Mulai dari yang memiliki kepopuleran hingga yang belum memiliki nama sama sekali. Beberapa air terjun di kota ini mudah di akses dari pusat kota, meski lebih banyak lagi air terjun yang sulit di kunjungi mengingat akses jalannya yang belum bisa di lalui kendaraan umum.

Salah satu air terjun yang terkenal dengan keindahannya adalah, air terjun Sumba. Berada di desa Tlahab kidul, masih satu kecamatan dengan desaku, meski demikian aku harus menempuh lebih dari 15km untuk bisa sampai disini.

Hari itu, kami berlima menumpang mobil pick up bapakku, untuk sampai di air terjun Sumba. Hanya sekitar 20 menit, setelah melalui puluhan tikungan, tanjakan dan turunan, kami akhirnya sampai di jalan setapak untuk masuk menuju air terjun Sumba. Untuk bisa sampai di air terjun Sumba, kami harus berjalan kaki dari jalan raya, selama hampir sepuluh menit, melalui jalan setapak berbatu dan persawahan milik warga sekitar.

Air terjun ini hanya tingginya sekitar lima meter, namun dengan debit air yang cukup tinggi dan celah jalur yang menyempit, membuat air terjun ini membentuk huruf V terbalik saat jatuh berdebum. Terlihat cantik, terlebih air yang menggenang, membentuk sungai dengan warna biru kehijauan.

“Apa kau baru pernah melihat air terjun, Rinai?” Laila tersenyum ketika melihat Rinai merentangkan tangan, membasahi dirinya dengan percikan air yang terbawa angin, seperti gerimis hujan.

“Iya, Lail. Apa kau pernah mendengar di Jakarta ada air terjun? Ah, ini suasana yang sangat ku impikan. Tidak salah Ayahku memilih kota ini sebagai tempat tinggal.” Rinai  menurunkan tangannya.

Aku, Rury dan Aldi membuka baju, lantas melompat, menjatuhkan diri di bagian sungai yang cukup dalam. Rury jahil menciprat Laila dan Rinai yang sedang berbincang, refleks mereka berdua berteriak. Seketika kami semua tertawa. Seolah lupa, jika esok salah satu dari kami akan pergi.

Setelah lebih dari sejam, kami berlima pulang. Mobil pick up jemputan datang setelah hampir 3 kilometer kami berjalan. Perjalanan pulang yang lengang, masing-masing menutup mulut, lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Waktu cepat sekali berlalu. Hanya menyisakan kenangan-kenangan, entah itu indah atau buruk untuk di kenang. Apapun kenangan yang dimiliki, akan indah jika dilengkapi dengan penerimaan. Sebab, mau bagaimanapun kita melawan kenangan, ingin menghapus kenangan  buruk misalnya, itu tidak akan berhasil, kita akan kalah. Sebaliknya, jika kita lawan dengan penerimaan, justru kita akan menang.

Rinai, seperti dengan recananya, atau lebih tepatnya, rencana orangtuanya. Ia melanjutkan sekolah di salah satu pondok pesantren di kota tetangga yang menyediakan asrama putri. Aku melanjutkan sekolah di sebuah SMK di kota kabupaten, kali ini bapak membelikanku motor matic demi bisa pulang-pergi sekolah tepat waktu, meski tetap saja aku akan terlambat sekolah, mengingat kebiasaan tidur lagi setelah Sholat Subuh. Laila dan Rury masih satu sekolahan, di SMA kota kecamatan. Sementara Aldi, dia yang terlampau pintar dan mendapat nilai terbaik di SMP, melanjutkan sekolah di SMA Kabupaten. Satu-dua kali, jika aku tidak bangun kesiangan, kami berdua berangkat bersama, ketika kabut pegunungan masih membuat buta pemandangan.

Rinai pulang setiap dua minggu sekali, meski kami berlima jarang sekali berkumpul di rumah pohon, sibuk dengan kegiatan sekolah masing-masing, namun saat berkumpul, kami berlima kompak melupakan aktivitas membosankan yang terjadi kemarin. Membuat pertemuan yang jarang terjadi, tumpah ruah dengan rindu yang lama terbendung.

Tak terasa sudah hampir tiga tahun bersekolah di sekolah lanjutan, hingga sebuah kejadian membuat kami berlima harus berpisah lebih jauh lagi. Rinai, gadis cantik yang pernah satu meja denganku, duduk bersebelahan ketika pertama kali bertemu. Rinai, kenapa dia harus terlahir dari keluarga kriminal, seorang ayah yang menjadi buronan di Ibu kota?

***

(Berpisah lebih jauh lagi)

“Kim, turunlah, bapakmu sudah tidak lagi sanggup memanjat rumah pohonmu.” Bapak dengan tubuh yang semakin keriput menyadarkan lamunanku. “Ayolah pulang, sudah saatnya makan siang.” Lanjut bapakku.

“Mustakim belum lapar, pak.” Aku tersenyum merespon permintaan bapak.

“Terserah kau saja, Kim. Kalau mamakmu masih hidup, kau pasti sudah di lempari batu agar turun dari gubuk reot ini.” Bapak terkekeh, melangkah, menjauhiku. Aku tertawa, melambai.

Mamak, aku selalu merindukannya. Aku menghela nafas. Kembali menatap ukiran kupu-kupu terbang dengan sayap bertuliskan ‘kisah tentang aku dan kamu’. Semilir angin meniup wajahku, meniup dahan-dahan pohon damar, suara khas gesekan dedaunan itu terdengar sejuk di telinga, membuatku kembali mengenang masa lalu.

***

Pagi itu, di pagi yang masih buta, tepat setelah aku dan bapakku keluar dari musholla, aku mendapati warga kampung berkerumun di kediaman Rinai. Aku, bapakku dan pak Wahyudi mendekati warga. Belum sempat bertanya, terdengar suara teriakan histeris ibu Rinai, diikuti dengan bapak Rinai yang di kawal keluar rumah oleh dua orang polisi, menyusul satu polisi lainnya bersama pak RT dan pak Kades. Rinai memeluk ibunya yang merangsek keluar rumah dengan histeris, Rinai memeluk dengan kedua airmata berderai tanpa suara, memeluk dengan kebisuan. Bagi seorang perempuan, menangis tanpa suara justru lebih menyedihkan, dibanding menangis sambil berteriak-teriak, seolah melepas beban yang ada. Dan tangis Rinai, membuatku tak tega menatapnya berlama-lama. Beberapa ibu-ibu mendekati dan membantu Rinai untuk menenangkan ibunya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Pak RT.” Pak Wahyudi yang beada di sampingku bertanya dengan intonasi suara kecil.

“Ceritanya panjang, pak Wahyudi. Yang jelas, pak Bima ini adalah buronan dari Jakarta selama hampir lima tahun. Kata pihak kepolisian, pak Bima adalah salah satu pengedar Narkoba dengan skala terbesar yang pernah ada di negeri ini.” Jelas Pak RT

Aku seperti tidak percaya mendengar informasi ini.

“Wah, padahal pak Bima ini orang baik, tidak segan membantuku saat sedang memperbaiki atap rumah.” Celetuk salah satu warga.

“Iya, beliau juga pernah ikut membantu memanen damar, tanpa meminta imbalan.” Lanjut bapakku. Beberapa tetangga lain juga tidak percaya dengan keadaan ini.

Hari itu, tinggal menghitung hari kami anak-anak SMA dan SMK menunggu pengumuman hasil ujian Nasional. Hari itu, adalah hari tergelap bagi Rinai, dimana kegelapan itu bergulung-gulung datang seumpama awan mendung di langit, seumpama gelombang ombak di pantai.

Ibu Rinai sakit beberapa hari kemudian. Rinai sudah tidak lagi fokus membicarakan rencana kuliah, bahkan dia sudah memastikan rencana itu tidak akan berjalan, gagal total. Hampir seminggu Rinai menunggui ibunya di rumah sakit. Selama itu pula aku, Aldi, Rury dan Laila menjenguk ibu Rinai, menemani Rinai, bahkan satu-dua kali Laila ikut menginap, menemani Rinai.

***

“Apa kau sungguh akan pergi?” Ucapku di rumah pohon, hanya ada kami berdua.

Rinai mengangguk tipis.

“Aku mungkin akan bekerja di Batam, entahlah bekerja apa nanti. Ibu masih memiliki kerabat disana.” Ucap Rinai.

“Tidakkah kau memiliki satu alasan saja untuk tetap tinggal?” Aku merebahkan tubuhku, terlentang dengan kedua tangan sebagai alas kepala.

“Jika aku memiliki satu alasan untuk tetap tinggal, itu adalah kalian. Sahabat-sahabatku. Tapi alasan itu terlalu lemah, mengingat aku memiliki satu alasan kuat untuk tetap pergi, membawa Ibuku, memastikan ibuku memiliki teman berbincang saat aku bekerja.” Tegas Rinai.

“Kau tahu Rinai, aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu. Kau yang membuat jantung ini berdetak tak beraturan saat kita berada di satu meja yang sama. Kau... kau yang membuatku membuang-buang waktu terus memikirkanmu.” Aku entah mengapa, tiba-tiba berbicara seperti itu di depan Rinai.

“Terimakasih, Mustakim. Kau juga adalah teman lelaki pertama yang membuat tubuhku bergetar saat berdekatan, kau teman lelaki pertama yang membuatku terus memikirkanmu, membuang-buang waktuku.” Rinai menatapku tersenyum.

“Benarkah?” tanyaku memastikan.

Rinai hanya mengangguk. “Tapi percuma, bukan? Aku tetap akan pergi. Dan kita hanya bisa sejauh ini melangkah, berada di persimpangan jalan. Hanya kepada takdirlah aku berharap kita akan menemukan jalan yang sama untuk melangkah lagi.”

Aku memejamkan mata. Kalimat Rinai selalu membuat suasana sedih semakin menyedihkan.

“Aku akan menunggu takdir itu tiba, Rinai. Jika tidak, maka akulah yang akan membuat takdir itu tiba.” Ucapku bertenaga.

Beberapa menit kemudian, Laila disusul Aldi adn Rury datang, membuat ramai suasana, meski ujungnya tetaplah sedih mengingat Rinai akan pergi.

Rinai, gadis yang kusukai itu akhirnya pergi. Bekas rumahnya ini di biarkan kosong. Ayahnya sudah tidak ada harapan untuk lepas dari hukuman mati, mengingat skala peredaran narkoba, termasuk yang tertinggi di Indonesia. Satu-dua kali, wajah pak Bima muncul dalam berita televisi nasional.

***

(Mamak pergi)

“Ctak..” sebuah batu mendarat tepat di depanku setelah memantul dari dinding kayu rumah pohon. Membuatku, Rury dan Aldi kaget.

“Hei, lihat sudah jam berapa ini. Mentang-mentang hari libur, ingat waktu kalau bermain.” Mamak berteriak dari bawah rumah pohon. Aku hanya meringis, lantas turun.

“Hihii, anak ayam lagi di marahin induknya.” Celetuk Aldi.

“Eh, jangan rese lu. Awas kalau sampai Rinai tau.” Ucapku sambil menuruni anak tangga rumah rumah pohon. Rury dan Aldi tertawa kecil. Mamak sudah melangkah menjauh. Satu perintah mamakku tidak ada alasan untuk di tolak.

Mamak selalu disipilin. Pagi, entah beraktivitas atau tidak, entah lapar atau tidak, sarapan adalah hal yang wajib. Sebenarnya itu juga berlaku untuk makan siang dan malam. Mamak selalu mewajibkan makan. Sekali saja tidak patuh, nasib tidak akan mendapat makanan di jam makan selanjutnya.

Aku pernah sekali malas untuk makan siang. Hasilnya, saat aku sungguh kelaparan, sudah tidak ada makanan, bahkan saat jam makan malam sekalipun, mamak tidak menyisakan untukku. Kejam memang, tapi itu hanyalah pelajaran kecil dari mamak, supaya aku lebih menghargai apa yang sudah mamak lakukan untukku dan Bapak.

“Memasak itu tidak semudah memakan, Takim. Membuat makanan, tidak semudah menghabiskannya. Maka, jika mamak sudah memasak untukmu dan bapak, hargailah, santaplah dengan lahap, meski kurang sedap.” Mamak tertawa, di ikuti Bapak.

“Tapi masakan mamak nggak ada duanya, selalu top, nomer satu di kampung ini.” Bapak melanjutkan. Aku masih sibuk menatap layar televisi.

“Nggak usah gombal, pak. Kayak pernah nyobain masakan ibu-ibu sekampung saja.” Mamak tersenyum. Bapak terkekeh.

“Kim, bagaimana sekolahmu?” Mamak beralih topik.

“Normal, mak.” Jawabku pendek. Mamak sudah tau, jika aku menjawab ‘normal’ berarti sekolahku berjalan lancar, tidak ada masalah. Mamak hanya mengangguk menanggapi jawabanku, lantas kembali menatap layar televisi.

***

Aku membuka mata. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Suasana yang sejuk, angin yang sepoi-sepoi menghipnotisku untuk memejamkan mata. Kulihat jam di pergelangan tangan kiri. Sudah jam setengah dua siang. Itu berarti lebih dari sejam aku memejamkan mata, tertidur. Lantas membuatku bermimpi tentang Rinai, tentang mamak. Sosok ibu yang selalu ku rindukan, ibu yang selalu ada kapanpun, mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

“Mamak... Mustakim merindukanmu.” Lirihku sambil mendongakkan kepala, memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa wajah.

***

Kabar terburuk adalah ketika seseorang yang kau sayangi pergi yang tidak akan mungkin kembali. Mamak meninggal.

Hari itu, aku baru memasuki semester empat saat kabar tentang meninggalnya mamak sampai di telingaku. Sama sekali aku tidak mendapati kabar jika mamak sakit, sekali mendapatkan kabar, adalah meninggalnya mamak.

Aku panik, menangis, takut, dan entah perasaan apa lagi yang berkecamuk dalam pikiran. Seketika aku langsung pulang tanpa perlu komando.

Sepanjang perjalanan, hanya airmata yang menemaniku. Beruntung, Handi, sahabat satu kostku mau menemaniku pulang dengan sepeda motor. Handi yang berada di depan tentunya. Sekitar lima jam kemudian, lima jam yang terasa lama bagiku, aku akhirnya sampai di rumah. Menatap bendera putih di depan rumah dengan deretan kursi yang sudah dipenuhi oleh tetangga.

Seketika aku berlari ke dalam rumah, sudah ada keranda dengan kain hijau yang menutupinya. Aku menangis. Tak terbendung, pikiranku melayang dengan berbagai kenangan menyenangkan dengan mamak, saat di lempari batu di rumah pohon, saat mamak membangunkanku untuk Sholat Subuh, saat merawatku ketika sakit. Mamak yang selalu cekatan saat memasak, tidak pernah mengeluh ketika sakit. Sakit? Apakah mamak sakit?

Iya, mamak sakit dua tahun terakhir. Ketika awal-awal aku merantau untuk kuliah. Mamak memaksa bapak untuk tidak pernah memberitahuku. Namun, bapak bercerita, jika hari dimana mamak meninggal, mamak sama sekali tidak mengeluh sakit, mamak justru ceria sepanjang hari, memasak seperti biasanya, belanja di warung terdekat seperti biasanya.

Mamak, apapun yang terjadi denganmu, aku yakin inilah yang terbaik untukmu, untuk Mustakim, juga untuk bapak. Meski kesedihan, tidak begitu saja pergi dengan mudahnya.

“Kesedihan hanya membuat duniamu berhenti. Semakin lama kau bersedih, selama itu pula duniamu berhenti. Berdirilah, Nak. Jalan ini masih panjang, dunia ini masih luas. Berdiri dan melangkahlah, jangan berhenti hanya karena satu kejadian yang membuatmu sedih berkepanjangan. Ketahuilah, semakin banyak kau melangkah, semakin jauh kesedihan itu tertinggal. Kau hanya perlu mengenangnya dengan ikhlas, menatapnya dengan senyum tulus.”

Bapak merangkulku, membimbingku berdiri untuk mengambil air wudhu, lantas aku dan bapak mendo’akan mamak sekali lagi dengan sholat jenazah. Hingga akhirnya, sosok bertangan halus yang super cerewet namun selalu kurindukan itu, terbenam oleh gundukan tanah merah. Tidak ada yang menemani mamak disana, tapi semoga, amal ibadah selama di dunia senantiasa mengirinya. Mamak, Mustakim merindukanmu...

Handi kembali ke Semarang sehari kemudian, di antar bang Komar, sopir mobil pick up. Aku memutuskan tinggal beberapa hari, menemani bapak.

***

(Tempat Wisata Rumah Kisah)

Aku menghela nafas panjang. Memutuskan turun dari rumah pohon. Sekali lagi, sebelum pulang, aku menatap ukiran kupu-kupu terbang dengan tulisan ‘kisah tentang aku dan kamu’ di sayapnya.

“Pak, bagaimana dengan ideku.”

“Bapak sudah tua, Mustakim. Terserah kau sajalah.”

“Mustakim hanya butuh separuh lahan pohon damar, pak. Itupun tidak menebang semua pohon damar, hanya beberapa saja.”

Bapak hanya mengangguk dengan ideku.

Beberapa hari kemudian, bapak mengumpulkan orang-orang suruhannya. Lantas mulai membangun sepuluh rumah pohon serupa dengan yang pernah aku, Aldy, Rury, Laila dan Rinai bangun. Lebih dari dua bulan untuk membangun sepuluh rumah pohon, itupun mengerahkan hampir seluruh pekerja yang biasa membantu bapak memanen getah pohon damar.

Sepuluh rumah pohon ini tertata rapih membentuk lingkarang saling berhadapan dengan satu rumah pohon lama milik kami berlima yang berada tepat di tengah, tentu saja rumah pohon milik kami berlima di renovasi ulang agar terlihat serupa dengan awal mula di bangun, supaya tidak menghilangkan kenangan yang sudah tercipta dalam ingatan kami berlima.

Setelah rumah pohon selesai dibangun dengan cat kayu warna cerah, aku memotret dengan kamera smartphone, lantas mengunggahnya di semua sosial media yang kumiliki. Tidak butuh lama untuk membuat tempat ini booming. Seminggu kemudian, para pemuda pemudi bahkan ibu-ibu sudah ramai mendatangi kebun damar bapakku. Tempat ini kuberi nama “Rumah Kisah” agar lebih banyak lagi orang-orang menciptakan kisahnya di rumah pohon ini.

***

Epilog.

Beberapa tahun kemudian.

Rinai kembali ke kampung ini setelah begitu populernya “Rumah Kisah” hingga membuat tempat ini sering muncul di beberapa tv nasional. Rinai dengan suaminya dan juga gadis kecil diantara mereka, kembali menghuni rumah kosong milik Rinai yang sudah di tinggal belasan tahun. Butuh hampir seminggu untuk membuat rumah kosong miliknya layak huni. Rinai memutuskan menetap lagi di kampung ini.

Rinai menikah dua tahun silam. Aku mendapatkan kabarnya melalui sosial media. Bagiku tidak masalah dia menikah dengan siapapun. Tapi masalah bagi pria yang menikahinya, jika tidak sanggup membuat Rinai dipenuhi keriangan sepanjang hari, seperti pertama kali aku mengenal Rinai.

Laila juga sudah menikah. Dia menikah dengan Rury. Ah, tidak ada cinta yang lebih indah dari pada cinta dengan sahabat sendiri, bukan? Masing-masing sudah tahu kekurangan masing-masing. Aku yang paling bahagia mendengar pertama kalinya mereka memiliki rencana hendak menikah.

Aldy yang merantau di Jakarta, memutuskan pulang ketika “Rumah Kita” menjadi perbincangan hangat. Selain dengan rumah pohonnya, Rumah Kita juga memiliki taman bunga yang luas diantara pepohonan damar.

Kami berlima berkumpul lagi. Menjadi pengelola Rumah Kita yang selalu ramai di hari libur. Aku mencintai Rinai, itu benar. Aku sakit hati saat melihat Rinai bermanja-manja dengan suaminya, itu benar. Tapi semua ini seperti lebur ketika melihat tingkah lucu puterinya yang berusia dua tahun.

Sejauh ini, aku masih sendiri. Melangkah di jalan cerita milik sendiri. Tapi aku percaya, akan ada cerita lain yang akan masuk dan bertemu untuk menciptakan jalan cerita yang sama. Gadis itu, entah dimana sekarang, mungkin masih tersesat di jalan cerita buntu, hingga kemudian takdir menuntunku, menuntun kita untuk bertemu, membuat kisah yang sama di kehidupan ini.

Aku berjanji akan membuat “Kisah Tentang Aku Dan Kamu” versi lainnya lebih banyak lagi. Dan kini janjiku sudah terpenuhi di Rumah Kisah.

  • view 316