Senja dan ingatan tentangmu

Fajar Arsyil Rahman
Karya Fajar Arsyil Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Senja dan ingatan tentangmu

Senja datang sekali lagi di kampung nan asri dengan pemandangan indah perbukitan di kaki Gunung Slamet. Sorak sorai keceriaan anak-anak masih terdengar di sungai dangkal nan jernih, hingga ibu mereka dengan senjata khasnya, sapu lidi, berteriak menyuruh anak-anak pulang, membuat terdiam seketika keceriaan mereka.

"Kau juga harus pulang, Fa." Gadis itu membuat lelaki di sampingnya menoleh.

"Eh, iya..." Lelaki itu tersenyum, melangkah menjauhi gadis yang menyuruhnya pulang. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Dafa menghentikan langkahnya, menoleh ke arah gadis yang masih berdiri di atas jembatan.

Gadis itu tersenyum, menanggapi pertanyaan Dafa. Melangkah mendekatinya. Membisikkan sesuatu. Lalu pergi meninggalkan Dafa sendirian.

Gadis itu, Senjani. Takdir sedang mempermainkannya. Lelaki yang ia cintai berubah drastis terhadapnya. Lupa segala tentang dirinya. Senja itu, senjani membisikkan sesuatu terhadap Dafa, yang membuat Dafa terpatung dibawah bayangan bukit.

"Ya, kita pernah bertemu dalam satu ruang cinta yang ku kira abadi. Karena, aku adalah ingatanmu yang tidak lagi kau ingat. Aku adalah separuh hatimu yang kau lupakan letaknya." Bisik Senjani dalam tenang.

“Kau tahu, Senjani, kenapa Senja begitu cepat berlalu, seolah tergesa-gesa pergi?” Dafa tersenyum menatap gadis di sampingnya.

Senjani hanya menggeleng, tersenyum, “Memangnya, kenapa, Fa?”

“Karena, Senja cemburu menatap kebersamaan kita. Jadilah ia cepat-cepat pergi.” Dafa tertawa lepas, begitupun Senjani.

Mereka berdua tinggal di desa yang sama, semenjak kecil Dafa sudah berteman dengan Senjani, melalui hari demi hari dengan kebersamaan, hingga di usia dewasa kebersamaan itu semakin menyenangkan, dan sebaliknya, selalu merasa ada yang kurang saat salah satu dari mereka pergi.

Senjani gadis mandiri, melalui masa kanak-kanak tanpa orangtua. Hidup dengan Kakek-Neneknya di desa yang masih lebih luas hutannya dibanding rumah-rumah penduduk. Jembatan kecil di atas sungai dangkal yang mengalir jernih, menjadi tempat favorit mereka berdua untuk bertemu, bermain dan menciptakan kenangan masa kecil yang tak pernah terlupakan. Jembatan yang menjadi penghubung kisah cinta yang entah takdir akan mempertemukan dan meyatukannya, atau sebaliknya.

= = =

“Apa benar-benar tidak ada cara lain, Dok?” Ibu-ibu paruh baya bertanya cemas, Senjani juga tidak kalah cemas melihat ekspresi wajah dokter.

Dokter itu menggeleng perlahan, “Belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, Bu. Obat yang biasa ia konsumsi, hanya membantu memperlambat kemungkinan terburuk penyakitnya.”

Senjani menunduk, kesedihan tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya. Ibu-ibu paruh baya di sampingnya memasukkan kembali ke dalam map, hasil pemeriksaan syaraf otak Dafa yang dilakukan seminggu lalu.

“Maaf, Nak Senjani. Ibu sudah berkali-kali mengatakannya padamu, Nak? Anak ibu sepertinya tidak ada lagi kesempatan untuk sembuh dari penyakitnya. Kau berhak memilih jalan lain, kau berhak meninggalkan Dafa yang bahkan tidak lagi ingat siapa kamu.”

Senjani hanya diam, tersenyum getir menatap keramaian jalanan. Kota ini sudah semakin pesat kemajuaannya. Terlihat dari keramaian kendaraan pribadi yang memenuhi setiap sisi jalanan.

= = =

“Nenek sudah tua, Jani. Cepatlah menikah, mumpung kami masih sehat.” Ucap Nenek Senjani di suatu malam.

“Nenekmu benar, Kita sudah tua, tidak ada yang tahu pasti, kapan waktu akan datang menjemput, memisahkan kita semua. Sebelum itu terjadi Jani, menikahlah, agar jika suatu saat Kakek-Nenekmu ini pergi, setidaknya kau masih memiliki orang terdekat yang akan tetap tinggal.” Kakek seperti menerima umpan matang, melanjutkan apa yang nenek Senjani bicarakan.

Senjani hanya diam.

“Jani, kau boleh berharap pada sesuatu, tapi jangan pernah lupa dengan waktu yang terus berlalu. Kau boleh memiliki keinginan, tapi ingatlah tentang kesempatan yang tidak setiap kali datang.” Nenek berkata pelan, namun suaranya begitu menusuk perasaan Senjani.

Lihatlah, selama ini Senjani hanya berharap pada Dafa, lelaki yang ia cintai. Tapi apa mau dikata, jika lelaki yang ia cintai bahkan tidak lagi mengingat namanya.

Senjani mengangguk, satu bulir airmata jatuh, mengalir ke pipi. Ia melangkah ke kamarnya, menatap wajah sedihnya di depan cermin, hingga pandangannya jatuh pada kalung emas putih berinisial D-S yang ia kenakan.

= = =

“Tebak siapa?” Dari belakang Dafa menutup kedua mata Senjani dengan tangannya.

Senjani tersenyum, “Pasti cowok nyebelin, yang sok misterius.”

“Idih, emang begitu?” Dafa melepas kedua tangannya.

“Iya, nyebelin. Darimana saja kamu, Fa?”

“Nyari ini.” Dafa menunjukkan sesuatu. Kotak perhiasan.

“Selamat ulangtahun, Gadisku.” Dafa membuka kotak perhiasan kecil. Di dalamnya ada seuntai kalung emas putih yang memantulkan cahaya senja.

“Fa, ku kira kamu lupa.” Senjani terharu menerima hadiah dari Dafa. Hadiah terahir sebelum takdir akhirnya membuat hidup mereka berdua berubah drastis. “Terimakasih, Priaku.” Senjani tersenyum. Dafa memasangkan kalung emas putih dengan dua bandul berinisial D-S.

= = =

“Bagus ya..” Senjani berdiri sejajar dengan Dafa, menatap senja ke sekian kalinya di atas jembatan sungai dangkal nan jernih yang di apit dua bukit.

“Iya, bagus.” Dafa menjawab pendek.

“Boleh ku temani?” ucap Senjani tanpa menoleh Dafa.

Dafa yang menoleh, lantas mengangguk pelan.

“Boleh tau siapa namamu?” Senjani menghela nafas panjang begitu mendengar pertanyaan yang sama setiap kali bertemu Dafa. “D-S. Ooh, biar ku tebak, namamu Desi? Emm, atau Diana? Diandra? Dara? Dina?” Dafa asal saja menebak nama gadis disampingya itu begitu melihat kalung yang di pakai Senjani dengan inisial D-S.

Senjani tersenyum.

“Kau tahu, Dafa, kenapa Senja begitu cepat berlalu, seolah tergesa-gesa pergi?

Dafa hanya menggeleng, tersenyum.                                   

“Karena, Senja cemburu menatap kebersamaan kita. Jadilah ia cepat-cepat pergi.” Ucap Senjani pelan, suaranya bagai angin lembut yang menyentuh wajah, menyejukkan. Saat itulah, tiba-tiba ekspresi wajah Dafa berubah, ia seperti mengingat sesuatu dengan kalimat Senjani. Kepalanya sakit, seperti ada ribuan jarum menusuk. Dafa berteriak, kedua tangannya sudah mencengkram kepala. Seketika Dafa pingsan. Senjani panik. Berteriak minta bantuan.

= = =

“Bu, Senjani datang untuk mengantarkan undangan ini. Mohon do’a restunya, Bu.” Senjani berusaha tersenyum saat mengantarkan undangan pernikahannya yang akan di laksanakan seminggu lagi.

Ibu Dafa memeluk Senjani, seperti pelukan seorang Ibu kepada anaknya, hangat, bertenaga, “Terimakasih, Nak, sudah menjadi teman yang baik untuk Dafa.”

Kedua mata senjani mengembun, hangat. Tak kuasa membendungnya, hingga embun hangat itu mengalir begitu saja di kedua pipinya.

Ibu Dafa melepas pelukannya saat Dafa tiba-tiba keluar dari kamar.

“Loh, Ibu kok nangis?” Dafa mendekat.

“Eh, enggak kok, Ibu hanya terharu.” Secara bersamaan, Ibu Dafa dan Senjani menghapus airmatanya masing-masing.

“Memangnya kenapa, Bu?”

“Ini, puterinya temen Ibu, akhirnya akan menikah dengan pria yang pantas dengannya.” Ibu Dafa tersenyum, menatap Senjani.

“Ooh, ini anaknya temen Ibu. Wah cantiknya.” Dafa tersenyum, pamit ke dapur.

Senjani sudah terduduk, entah bagaimana perasaannya kini. Tapi ia selalu berusaha melepas Dafa, merelakan Dafa demi masa depan kehidupannya.

“Ibu, pasti akan datang, Nak.” Ibu Dafa kembali tersenyum.

= = =

Hari pernikahanpun tiba. Dafa datang bersama ibunya, menyapa setiap tamu yang ibunya kenal. Hingga tibalah mereka berdua sampai di panggung pelaminan, dimana Senjani dan Suaminya bersanding menebar senyum. Senjani menahan airmata saat Dafa sampai di depannya, mendongak sesaat demi tidak terlihat menangis. Namun tangisnya tetap pecah saat Ibu Dafa memeluk Senjani, pelukan hangat seorang ibu.

“Selamat menempuh hidup baru, Nak. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Warrohmah...” Ibu Dafa juga meneteskan airmata saat bibirnya mengucapkan harapan dan do’a kepada Senjani. Dafa hanya tersenyum melihat Ibunya yang ia kira hanya tangis haru biasa.

Kisah cinta Dafa dan Senjani hanya sampai disini, kisah cinta yang hanya di takdirkan untuk bertemu sesaat, lantas takdir kembali memisahkannya

Epilog (Beberapa tahun kemudian)

Dafa masih menatap kosong makam ibunya. Kini ia hidup sendirian, hanya Alzheimer penyakit yang menjadi teman selama hidupnya. Dari jauh, Senjani menatap sedih pria yang pernah ia cintai.

“Temanilah...” Yanna, suami Senjani mendekat. “Kau ingin menemaninya, bukan?” Yanna tersenyum menatap istrinya yang sudah memberikan seorang putri kecil hasil buah cintanya.

Senjani hanya mengangguk pelan. Melangkah perlahan mendekati Dafa. Yanna tersenyum menatap Istrinya lantas berbalik arah, pulang.

Cahaya jingga menghias langit ufuk barat, satu hari lagi akan segera berlalu, satu malam dengan segala kegelapannya akan siap menyambut separuh bagian bumi.

“Jangan selalu memandang ke bawah, sesekali lihatlah ke atas. Ada banyak hal menakjubkan diatas sana.” Senjani sudah tiba di belakang Dafa.

Dafa mengangkat kepala.

“Senja, pemandangan langit yang paling ku suka. Aku sudah terlalu banyak melihat ke atas, hingga aku lupa dimana aku berada, lupa siapa saja yang pernah ada, menemaniku dalam perasaan yang ku sebut cinta. Senjapun berlalu, meninggalkan jejak bernama malam yang gelap. Seperti gelapnya hidupku.” Dafa masih membelakangi Senjani.

“Tapi, dalam gelap, cahaya akan mudah terlihat jelas...”

“Tidak ada lagi cahaya! Cahaya yang terakhir ku lihat, hanya imajinasi yang semakin membawaku ke dalam kegelapan tak terbatas.” Dafa memotong kalimat Senjani, untuk kemudian ia melangkah. Pergi menjauhi Senjani, selamanya.

Selesai.

  • view 459