September Hujanmu

Fajar Arsyil Rahman
Karya Fajar Arsyil Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Oktober 2016
September Hujanmu

“September Hujanmu”

Sabtu, 17 September 2016, 10.00 WIB

Gerimis masih terus membasahi kota Perwira. Aku tertegun, melamun menatap genangan yang di jatuhi rintik hujan, membentuk gelombang-gelombang. Hilir mudik kendaraan bermotor tidak membuatku berhenti menatapnya.

Hingga sebuah motor matic warna biru putih berhenti di depan kios yang kutunggui. Pengendaranya tersenyum menatapku, senyum yang khas, senyum yang sama seperti yang terakhir ku ingat. Senyum yang membuat rintik gerimis terasa berhenti.

Dia yang sejauh ini berusaha ku lupakan, dia yang mati-matian ingin ku enyahkan dari semua kenangan yang ku ingat, tiba-tiba muncul dengan senyum yang membuat hangat perasaan. Lantas membuka kembali pintu kenangan itu.

Gerimis bagai berhenti, waktu seperti bergerak lambat. Langkah kaki yang mendekat, parfum yang mulai tercium, aromanya membuat hangat perasaan-perasaan.

Hujan bagai berhenti, dan kenangan bersamanya siap di tambah lagi.

# # #

(Kisah beberapa tahun silam)

Hujan turun. Lebat. Aku tidak bisa pergi. Padahal hari itu aku sudah menyiapkan banyak hal. Mawar putih, cokelat kesukaannya, aku juga sudah memakai pakaian terbaik, mematut diri di depan cermin, tak terhitung lagi sudah berapa kali. Aku sudah siap, termasuk menyiapkan hati untuk lebih lapang, apapun yang akan terjadi nanti.

Dia adalah sahabatku, bertahun-tahun kita selalu bersama, hingga tanpa ku sadari perasaan ini tumbuh begitu saja. Di mulai sejak pertemuan-pertemuan yang sering di lakukan, entah itu saat belajar kelompok, di sekolahan, atau di tempat-tempat umum yang sengaja menjadi tempat kita untuk bertemu.

Bercerita banyak hal, mendengarkan banyak hal. Semua itu berlangsung bahkan hingga saat ini, saat dia sudah di ujung tanduk kuliahnya. Beberapa hari kedepan dia akan wisuda. Resmi menyandang gelar S.Pd. Sarjana Pendidikan. Itulah cita-cita dia sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan aku merasa amat beruntung menjadi saksi keberhasilannya dalam meraih cita-citanya sebagai guru Matematika.

Aku sudah siap. Saatnya aku akan mengungkapkan semua perasaan yang tumbuh dan mekar begitu saja di hati. Aku sudah siap apapun yang akan terjadi. Namun hujan turun. Aku selalu suka hujan, apapun kondisinya. Ah, hujan membuatku teringat dengannya, saat bermain air hujan sepulang sekolah, sejauh jalan pulang. Atau saat berteduh di depan kios foto copy, menunggu hujan reda. Aku selalu suka hujan. Tapi, sejak kejadian itu, aku membencinya, membenci hujan.

Waktu yang di tunggu akhirnya datang, hujan reda. Aku kembali menghubunginya yang juga terjebak hujan di kampus, mengatur ulang jadwal berjumpa. Pertemuan tetap akan dijadwalkan hari itu. Sore hari, saat senja tiba. Tapi saat aku menelponnya, saat aku hendak menyapa, dia justru lebih dahulu menyapa, girang bercerita banyak hal, tentang teman kampusnya yang baru saja menyatakan cinta padanya.

Aku seperti kehilangan tulang dalam tubuh ini, lemas, tanpa  kusadari bunga mawar putih yang ku genggam sudah jatuh di lantai. Di seberang handphone, suaranya masih terdengar penuh kebahagiaan. Aku entah apa yang aku rasakan. Aku mengutuk hujan. Jika saja hujan tidak turun, mungkin aku sudah lebih dahulu menyatakan cinta. Jika saja hujan tidak turun di saat itu, dia pasti sudah berada di luar kampus, bersamaku. Tidak akan ada kesempatan teman kampusnya itu menyatakan cinta sebelum aku.

Sejak saat itu, aku pergi. Menjauh dari semua yang membuatku mengingatnya. Aku mengganti nomor handphone, hanya keluarga yang ku beri tahu, dan aku melarang keras kepada mereka agar tidak memberikan nomor handphoneku pada siapapun, apalagi kepada dia. Sejak saat itu, aku pergi, merantau. Tanpa perlu menemuinya, bahkan di senja hari itu, waktu dimana aku menjadwal ulang pertemuan. Aku sudah pergi. Bekerja apapun demi sebuah kesibukan. Kesibukan yang akan membuatku lelah, hingga lupa bagaimana cara mengenangnya.

Tapi, hujan... hujan di 22 Sepember saat itu hanya untukmu, bukan untukku.

Aku bekerja apapun di ibu kota. Menjadi kenek metromini, menjadi kuli bangunan, hingga sebuah kesempatan meghantarkanku bekerja menjadi OB di sebuah gedung perkantoran. Kesibukan membuatku tidak memiliki waktu mengenangnya. Meski setiap hujan datang, rasa sakit itu bagai menyayat, membuat kenangan kembali datang.

Hingga satu waktu atasanku menemukanku tergugu, terisak di bawah gerimis yang menyakitkan bagiku. Dia adalah bapak paruh baya, yang setiap menyuruhku membelikan apapun, selalu merelakan kembaliannya untukku. Atasan yang baik, tidak sombong dengan bawahannya. Di lain waktu, aku menceritakan semua kisahku pada atasanku itu, dengan bijak dia mendengar semua, lantas berkata dengan intonasi suara yang menyejukkan.

“Ah, kenangan indah selalu saja mudah di ingat. Tapi justru kenangan yang menyakitkan yang paling mudah di ingat. Kabar buruknya, semuak apapun kau pada kenangan itu, sebesar apapun kau ingin melupakannya, sebesar itu pula kau selalu mengingatnya. Sekuat apapun kau berusaha melupakannya, kenangan tentangnya jauh lebih kuat menghujam ingatan-ingatan. Kau tidak akan bisa melupakan jika seperti ini. Ketahuilah, kenangan bukan untuk dilupakan. Meski itu pahit, menyiksa batin, membuat sesak, jangan pernah berusaha kau lupakan. Berdamailah, berilah ruang tersendiri untuk masa lalumu dengannya. Berilah bingkai terindah untuk tetap dikenang. Dan mulailah menata kehidupan baru, menemukan jati dirimu, menemukan cinta sejatimu. Kau masih muda, Nak. Jalanmu masih panjang. Berdamailah.”

Sejak aku mendengar kalimat atasanku itu, aku tersenyum penuh kemenangan. Aku selalu mengingat dia, tidak ragu melukis wajahnya di rintik-rintik hujan. Aku tersenyum penuh kemenangan. Kenangan menyakitkan terkadang perlu di tertawakan.

Beberapa bulan sejak mendapat petuah dari atasanku, aku memutuskan keluar dari pekerjaanku sebagai OB di kantornya. Atasanku melepasku dengan senyum. Aku tidak ragu memeluknya, dia sudah seperti orangtuaku sendiri. Ribuan terimakasih rasanya tidak cukup untuk membayar kebaikannya selama ini. Aku pulang.

Aku pulang. Membuka sebuah usaha konter pulsa kecil-kecilan di depan pasar. Hingga di satu waktu, akhirnya dia datang, menemuiku.

# # #

Sabtu, 17 September 2016, 10.01 WIB

Sudah enam puluh detik lebih aku memandang wajahnya. Menghembuskan nafas. Dia tersenyum lagi.

“Kau pergi, meninggalkanku sendiri. Aku kesepian. Apa kabarmu?”

“Aku baik. Kesepian? Apa kau kehilangan seseorang?” Jawabku kaku. Ini adalah pertemuan pertama setelah beberapa tahun.

Dia hanya mengangguk.

“Apa kau sudah menikah?” entah bagaimana tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari bibirku.

Dia menggeleng. “Bagaimana aku akan menikah. Jika makhluk yang selama ini ku sayangi, yang selalu ada kapanpun aku membutuhkan, membuat hari-hariku lebih berwarna, hilang begitu saja. Tanpa jejak. Tanpa kabar. Aku kehilanganmu, aku.. merindukanmu.” Dia berkata lirih di ujung kalimat.

Ada lelehan air mata di kedua pipinya. Aku baru saja menyadari satu hal. Saat itu adalah kali pertama, aku melihat raut mendung wajahnya, wajah yang di penuhi kesedihan. Dan aku baru menyadari itu. Aku baru menyadari, jika kepergianku membuatnya sedih, membuatnya kehilangan separuh bongkah perasaan. Aku paham sekarang, Cinta tidak mustahil tumbuh di antara dua sahabat, dua orang yang melewati hari-hari bersama, cinta tidak mustahil tumbuh dari keduanya. Selain tumbuh di hatiku, sepertinya cinta juga sudah tumbuh di hatinya, dia yang selalu bersamaku melewati hari-hari bersama. Aku yang menjadi satu-satunya sahabat yang bisa memahami kehidupannya.

# # #

12.00 WIB

Hujan sudah berhenti sejak  sejam yang lalu. Tapi mendung masih menggantung, seakan enggan tuk beranjak dari menutupi matahari. Dia juga sudah satu setengah jam berlalu pergi. Hanya 20 menit singgah. Setiap menit bagai sejam, berjalan amat lambat berbanding terbalik dengan detak jantung yang tak beraturan, berdetak cepat, membuat hembus nafas terasa hangat.

Dia sudah pergi, tapi sebenarnya tidak pernah beranjak dari hati. Seperti hujan yang pergi dan menyisakan genangan di jalanan, bahkan masih menggantungkan awan mendung di langit.

# # #

 

 

Minggu, 18 September 2016, 06.00 WIB

Waktu masih bernafas. Matahari kembali muncul. Hangat sinarnya menyentuh permukaan bumi, menyibak kabut di pagi hari. Ada sedikit gumpalan awan mendung di langit selatan. Aku menghirup udara pagi, segar, terasa bagai tanpa beban. Sejenak melupakan bayang-bayang gadis berjilbab yang memakai motor matic biru putih kemarin pagi.

Aku tersenyum ketika mengingat sekilas pertemuan itu. Memutuskan kembali berlari pagi, mengabaikan ratusan manusia lainnya yang sedang menikmati car free day di pagi ini. Aku masih berlari memutari alun-alun kota. Entah sudah putaran ke berapa. Hingga tanpa ku sadari, gerimis kembali turun. Membasahi bumi. Hujan pagi hari akan terulang lagi.

“Dimana?” Aku membaca sebuah pesan di aplikasi Blackberry Mesenger darinya. Kemarin aku memberikan pin BBM padanya.

“Alun-Alun Kota. Hujan.” Jawabku singkat.

“Aku di rumahmu, disini belum hujan.”

“Di rumahku? Ngapain?”

“Aku rindu kamu. Aku ingin bercerita banyak hal, saat kau tidak ada disisiku.”

“Kemari saja. Jangan lupa bawa mantel. Aku ada di serambi masjid.”

Tidak butuh waktu lama. Lima belas menit kemudian dia datang dengan motor matic biru putihnya. Duduk di sampingku. Bercerita banyak hal saat kepergianku. Dia yang senja itu datang di alun-alun kota, tidak menemukanku. Bahkan saat adzan Isya telah lama berkumandang, dia setia menungguku, meski sudah berapa kali, tak terhitung mencoba menelponku, mengirim pesan, semua sia-sia. Karena hari itu, setelah kejadian dia bercerita tentang teman kampusnya yang menyatakan cinta, aku memutuskan mengganti nomor telponku. Pergi tanpa sepatah katapun padanya.

Aku juga menceritakan diriku yang saat itu bersiap untuk menyatakan cinta padanya, “kalah start.” Dia tersenyum lepas saat aku bercerita dibagian itu. Lantas memasang wajah sedih saat dibagian aku pergi dan memutuskan melupakannya, hingga mendapat petuah dari atasan di tempatku bekerja, untuk berdamai, untuk kembali menata hidup.

“Tapi setelah aku memutuskan berdamai, tidak mengharapkanmu lagi, kau malah datang dengan segenap perasaan. Menumbuhkan kembali cinta yang pernah ingin ku tikam.” lirihku. Tatapanku jatuh pada pohon beringin raksasa yang dibalut gerimis pagi hari.

Dia tersenyum manis dengan balutan jilbab biru muda, di serambi masjid kebanggan kota Perwira. Dia melanjutkan cerita. Kisah cinta dengan teman kampusnya hanya terjadi kurang dari dua minggu. Dia merasa hubungan itu hambar tanpaku. Dia sungguh kehilangan sosok manusia yang selama ini ada di hidupnya. Dia kehilanganku. Sesekali airmatanya mengalir, aku menghapusnya dengan handuk kecil yang melingkar di leherku. Lantas tersenyum kembali.

Dia setia menungguku. Sekalipun aku tidak pernah mengabarinya beberapa tahun terakhir. Dia setia, bahkan hingga saat ini. Beberapa hari kemudian. Di 22 September 2016. Aku menikahinya. Kami berdua menangis terharu, aku mencium keningnya. Membingkai dengan indah kejadian 22 September beberapa tahun silam. September selalu menjadi hujanmu. Dan September kali ini, aku berada di bawah hujan itu bersamamu.

# # #

30 September 2016 19.00 WIB

Matahari sudah jatuh tenggelam dalam gelap. Tapi waktu masih bernafas. Cerita belum usai. Setidaknya, malam minggu kali ini tidak semendung pagi tadi. Berita gembira bagi remaja-remaja jatuh cinta, bisa mengatur waktu untuk saling berjumpa.

Tapi aku tidak, masih berjibaku dengan pekerjaan yang kian membosankan. Bertemu dengan pembeli-pembeli menyebalkan, banyak tanya, beli juga tidak, komplain sesuatu yang harganya tidak seberapa. Ah, bagaimanapun, pembeli adalah raja.

Beberapa jam kemudian aku pulang dengan wajah lusuh, lelah. Dia menyambutku dengan senyum yang mengembang. Mencium tanganku.

“Sesusah apapun, sebagaimanapun lelahnya dalam bekerja, sesedih apapun kehidupan yang terkadang tidak sesuai keinginan, jika melihatmu tersenyum, semua itu terasa begitu saja luntur, ringan beban. Dan berjanjilah. Kau harus selalu bersamaku dalam keadaan sesulit apapun, Sayang.” Bisikku di telinganya.

-#The End#-

  • view 166