Anak-anak Aspal

Fajar Saputro
Karya Fajar Saputro Kategori Puisi
dipublikasikan 28 April 2017
Anak-anak Aspal

Aku pernah melihat gunung
Dua jumlahnya
Dibelah jalan
Kanan dan kirinya adalah sawah

Di atasnya ada matahari
Beberapa burung yang terbang beriringan menyerupai angka tiga
Awan dan mega juga tampak di sana
Mereka semua ada di latar putih di atas buku gambar seharga seratus rupiah

Kami adalah anak-anak aspal
Merindukan tanah
Girang melihat rumput
Merasa pergi bertamasya ketika menggambar gunung dan juga sawah

Saban sore
Sebelum pergi mengaji
Masalah kami hanyalah mencari ruang jembar untuk bal-balan
Bermain bola, bolanya plastik, gawangnya sandal

Dak!
Gooooollll
Tendanganku melesat, luput dari tangkapan sang penjaga gawang
Bola meluncur, membentur tembok

Aku merayakannya dengan girang sambil terus berlari-lari
Yang lain memunguti sandalnya kemudian juga ikut berlari
Si pemilik tembok membawa pentung mengejar kami
Sebab tidurnya terganggu dengan suara dak tendanganku tadi

Kami pun lelah
Pergi ke musala
Minum air kran di tempat wudu
Sandalku ketinggalan, empat ratus rupiah hilang, aku pulang ke rumah tanpa alas di kakiku

Ya, kami ana-anak yang hidup di kepung aspal dan tinggal di petak-petak
Hanya untuk kentut saja kami tak berani
Takut terdengar tetangga kerna ruang pembatas antar rumah hanya berupa kayu tipis
Ppeeessssssssssssssssss... “Heh, siapa yang kentut?”
“Sssstttttt... saya!”

Hidup dengan segala keterbatasan, cita-cita kami cuma satu: makan kue tar
Roti ulang tahun yang bertumpuk-tumpuk dengan warna yang selalu tampak riang
Tapi, orang melarat mana yang hendak merayakan ulang tahun?
Ulangan saja kami sering tak ikut, kerna SPP belum dibayar lunas

Yang bisa menyelesaikan persoalan kami hanyalah Pak Presiden
Wajah yang senyum-senyum di uang lima puluh ribu
Aku harus menemuinya, dan mengadukan masalahku kepadanya
Tapi, aku harus izin bapak terlebih dahulu

“Wah, kita harus jadi orang kaya dulu kalau mau ketemu Pak Presiden.” Katanya
“Kalau tidak dilunasi, aku tidak boleh ujian pak!”
“Kita cicil saja,” lanjutnya sambil menyodorkan uang lima ratus bergambar monyet. “Minta waktu kepada gurumu, seratus hari lagi. Sebab, seratus monyet sama dengan satu Presiden”

Pagi itu, di tengah tangis sesenggukan kerna disuruh pulang dan tak boleh ujian
Dengan masih mengenakan seragam: atasan merah, bawahan putih
Berkisahlah bapak tentang uang lima puluh ribu yang tak baik untuk orang-orang miskin
Sebab, uang berwarna hijau itu adalah alat propaganda, sebagai penegas bahwa sinuwun lebih hebat dibandingkan gambar di mata uang lainnya: “dua setengah kali lebih pandai dibandingkan Ki Hajar Dewantoro, lima kali lebih bercahaya dibandingkan RA Kartini, sepuluh kali lebih rengginas dibandingkan Teuku Umar, lima puluh kali lebih tenang tapi menghanyutkan dibandingkan Danau Toba, lima ratus kali lebih megah dibandingkan Rumah Gadang, dan seribu kali lebih indah dibandingkan burung Cenderawasih.”

Aku tahu bapak hanya ingin menghiburku, dari nada bicaranya adalah ekspresi orang tak punya uang: “Pak, aku tak ikut ujian juga tak apa.” Sergahku di tengah kalimatnya
“Lho, kenapa nak?”
“Lebih baik uang lima ratus rupiahnya untuk tamasya ke gunung, dan main bola di Senayan.”

  • view 35