Sorry to say...

Fajar Saputro
Karya Fajar Saputro Kategori Puisi
dipublikasikan 28 April 2017
Sorry to say...

Kutulis puisi ini ketika hujan rinai. Biasanya di jam-jam segini rembulan sering turun di genteng rumahku, lalu ia melompat ke pohon jambu yang ranting dan daunnya menimpa bibir atap. Tak lama ia akan menemuiku, menyalamiku, kemudian kami akan saling bercerita semalaman.

Tapi pada kesempatan kali ini ia tak ada. Maka, dengan atau tanpa dirinya, di tempat biasa, di beranda—bersama nasib pahit di dalam gelas yang terlanjur dingin dan tinggal setengah, entah kenapa tiba-tiba aku teringat tentangmu.

Tentang masa-masa yang telah jauh, sebab di depan sana yang tersedia hanya kenyataan.

Kenyataan untuk rakyat kecil semacam kita, apa lagi kalau bukan persoalan token listrik, susu anak, SPP bulanan, dan undangan pernikahan di tanggal tua.

Mungkin saja kerna aku tak punya cara lagi untuk menghadapi kenyataan ini selain mengenangkan bau bajumu, guncang-guncang pada pundakmu ketika kau tertawa kerna hal-hal kecil dan lucu, serta cara meludahmu yang kau buat-buat agar sedikit tampak gagah di keadaanmu yang serba pas-pasan.

Aku juga masih ingat, ketika satpam menghentikanmu di gerbang depan: “kenapa bawa gitar di sekolah?”

“Usai dipetik gitar adalah perempuan,” jawabmu sederhana.

Ya, kawan. Yang kumaksud adalah kau. Cerita lama yang selalu hadir di saat-saat tersulit di dalam hidupku. Sebuah cerita, yang dengan suka rela membantuku mencuci baju, menjemurnya, atau menyapu halaman, dan menyirami taman bunga yang ada di depan rumah. Sepotong kenangan yang selalu kuceritakan dengan riang, tawa geli, dan mengakui kekonyolan masa lalu dengan bangga dan menyenangkan.

Apa kau masih ingat, ketika itu kita pernah sama-sama membayangkan bagaimana masa dewasa kita nanti? Masa yang kita angankan dengan kesadaran hari itu, bahwa menjadi dewasa adalah kegembiraan bersama teman-teman dan kebebasan tentang hal-hal tabu yang masih tertutup rapat.

Kita membicarakannya dengan tuak oplosan yang dimasukkan ke dalam botol mineral. Dan dengan gelas mineral pula, kita tuang minuman itu sedikit-sedikit agar semua merasakannya rata.

Ya, kita melakukan semuanya di sekolah. Di gang sempit, lembab, dan penuh dengan sampah. Dengan gorengan yang kita siapkan di dalam plastik, sebagai pendorong agar tuak tak terlalu terasa pahit. Lalu, seluruh keadaan akan tampak berbeda di wajah kita yang merah, mata yang sipit, dan bau tikus di mulut kita masing-masing.

Kadang aku rindu menjadi masa lalu, masa di mana ketika kita tak pernah punya rasa takut, ragu, atau berpikir terlebih dahulu: “ sikat dulu, urusan belakangan!” Persoalan kecil maupun besar, kita selalu merayakannya dengan tawuran.

Tapi, setelah kita berada di sini, tumbuh bersama waktu dan menjadi dewasa, nyali-nyali itu kini ciut. Kita menjadi penakut, takut tentang hal apa saja. Hilang sudah sifat kelaki-lakian, hanya kerna pernah tersandung dan kemudian jatuh pada sebuah keadaan dan peristiwa.

Apakah kau juga merasakannya, kawan?

Hilangnya nafsu makan kerna kepala kita dipenuhi pikiran-pikiran, persoalan yang memenuhi jantung kemudian menyesaki dada dan lalu perut? Aku juga rindu masa-masa itu, masa ketika kita selalu makan dengan lahap; tak ada pikiran apa-apa, tak kepikiran siapa-siapa. Dan kita selalu membuangnya di pagi hari dengan rutin—yang membuat kita selalu terlambat pergi ke sekolah. Kemanakah nafsu makan kita yang dulu? Yang kini membuat istri kita selalu merasa masakannya tak seenak buatan ibu di rumah. Padahal, ketika makan tiga gorengan di kantin sekolah, kita selalu mengaku satu.

Apakah kalian tak merindukan masa lalu?

Ketika berahi selalu meletup-letup di ubun-ubun di saat kita masih ngacengan dulu? Kini ia pun pergi, membuat istri-istri kita dibuatnya salah tingkah, merasa dirinya tak cantik lagi. Padahal, keris pemberian Empu Gandring itu dulunya susah diajak duduk. Miring ke kanan miring ke kiri, dan membuat kita harus diam-diam membetulkannya ke tempatnya semula.

Apakah kau juga mengalaminya, kawan? Apakah benar menjadi dewasa adalah hal yang paling salah yang dulu pernah kita impikan?

No, sorry to say aku rajin olah raga dan minum obat kuat.

  • view 215