Ara, Terataiku...

Fajar Saputro
Karya Fajar Saputro Kategori Puisi
dipublikasikan 28 April 2017
Ara, Terataiku...

Kuawali surat ini ketika genap satu tahun kita tak saling bertemu, saat waktu menunjukkan tepat pukul satu. Kereta malam menuju Surabaya, rupanya di luar hujan. Selintas tadi aku dengar lonceng palang kereta lalu sunyi....

Hmmm... lalu sunyi.

Sekian lama hidup di tengah hutan, di atas tanah berhamparan emas hitam; bagaimana kabar Indonesia? Apa kabar orang-orang semacam aku ini, kekasih?

Di depan sana berisik, di sebelah pacaran, sedangkan aku memilih ketiduran merindukanmu. Langit malam sehabis tangis, hitam seperti masa depan—membayangkan bagaimana kau hadapi sendiri penantian ini sebagai seorang perempuan yang tiba-tiba saja pandai menikmati duka.

Ara, terataiku...

Pohon maja yang terbit di dadamu, dan garam di pijak tanah pada keningmu adalah suka-duka yang terangkum dalam kenangan yang tak pernah kering dari genangan. Padahal hanya sepotong nasib yang cuil di beberapa bagian, yang bersikukuh kau simpan di dalam ingatan agar ia tetap menjadi milik rahasia.

“Tiba-tiba ada yang simpul di bantalku,” katamu dengan mata yang masih berair hujan.

Sudahlah, Ara, yang sudah ya sudah! Jika kau masih takut ditipu oleh matamu, maka jangan hanya melihat. Sebab ambisi bisa sama besarnya dengan keyakinan, maka jangan hanya percaya. Kau juga harus mempersiapkan rasa kecewa untuk menerima takdir, ketika kopi benar-benar tandas di dalam gelas dan yang tersisa hanya pahit dan hitamnya saja.

Aku hanya pegawai rendahan yang penghasilannya tak seberapa. Sedangkan kita, adalah dua orang melarat yang saling mencintai dan bermimpi dapat menyelenggarakan pesta perkawinan yang dihadiri sahabat dan juga kerabat. Masing-masing dari mereka akan mebawa kado, dan sebagian lagi membawa amplop yang berisi uang yang isinya entah berapa.

Tapi, Ara, bagaimana jika rencana kita tadi tak bisa kesampaian?

Bagaimana jika kita hanya bisa menikah di KUA, dan hanya dihadiri Wak Mudin, dan Pak RT sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu.

Begini, Ara.

Beberapa hari yang lalu sebelum kutulis surat ini kepadamu, seperti biasa, aku bekerja hingga larut malam di tengah belantara alas gung liwang liwung. Temanku sakit, dan aku diminta agar menggantikannya. Maka kukendarai mobil malam itu, kemudian krek. Aku berhenti, melihat apa yang dilindas oleh rodaku.

Asu!

Kukira yang bunyi krek tadi adalah anjing, ternyata ia babi, padahal jangkrik. Ya, benar-benar jangkrik! Seekor binatang bertubuh gendut, bergetar-getar kesakitan. Matanya mengiba kepadaku, agar kutuntaskan saja riwayatnya sekalian. Lalu kuambil seonggok kayu, kupukul kepalanya. Prak! Prak! Prak! Dengan begitu, jelas sudah yang akan malaikat catat di buku harianku: bahwa aku telah membunuh binatang haram, sedangkan ia tak pernah memiliki dosa. Kupikir memang baiknya begitu, daripada ia kubiarkan tersiksa di dalam kesakitannya. Atau, kuniati saja untuk menyempurnakan penderitaannya dari caci maki manusia yang mendaku dirinya tak pernah punya dosa.

Lantas kuceritakan musibah itu kepada atasanku: “jika kau menabrak hewan piaraan milik orang Dayak,” katanya, “jangan lari, tapi kabur!”

Dan di sinilah aku sekarang. Di atas kereta, menulis surat cinta dan rindu kepadamu.

Selalu ada sebab untuk meluruskan semua, bahwa babi itu adalah induk dari dua belas anaknya. Ditambah, ia sedang dalam keadaan mengandung. Satu susu dihargai lima juta. Calon jabang babi yang ada di dalam perut itu pun dihargai sama. Belum lagi ibu babi yang mati.

Syukur alhamdulillah, atas kejadian itu aku diberi uang. Juga satu lembar tiket ke Jakarta. Lho, tapi rumahku kan Surabaya? Ternyata oleh pihak perusahaan aku dirumahkan, lebih pas rasa bahasanya: disuruh pulang ke rumah. Entah kata apa yang lebih tepat untuk mengekspresikan peristiwa ini: sukur, atau alhamdulillah.

Andai saja bapakku adalah besan dari presiden, atau minimal musisi papan atas; mungkin nasibku takkan seduka ini. Jangankan babi, orang sekalipun yang kutabrak—aku akan tetap dibebaskan.

Kemudian sepi, Ara, sepi sekali. Yaitu sebuah kerelaan untuk kadang-kadang ditinggalkan, atau bahkan dibuang—dan, kini ia telah menjelma mahoni, pohon asam, mungkin juga rasa malang.

Ya, setelah pesawat menurunkanku di bandara, aku menuju ke stasiun sambil menghitung-hitung pesangon yang kubawa di dalam rasa kecewa—agar sesampainya di rumah nanti dapat kubagi-bagi kepada siapa saja: bapakku, ibuku, adik-adikku, dan beberapa keponakanku. Semoga sisanya masih cukup untuk membeli bakso langganan kita, dua gelas teh hangat, biaya parkir, dan dua botol bensin eceran buat motorku menuju ke kotamu.

Sementara sampai di sini yang dapat kuceritakan, maka kuakhiri surat ini dengan segenap doa: semoga tidurmu dilatari mimpi yang bahagia. Ya sudah kalau begitu, aku mau ke toilet dulu. Kulihat kondektur sudah datang, memeriksa tiket-tiket penumpang.





Surabaya, 2013 – Malang, 2017

  • view 61