Dilarang Gondrong di kampus!

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2017
Dilarang Gondrong di kampus!

Jika anda kuliah di sini, mau tak mau anda harus menyusun skripsi. Tidak ada syarat lain misalnya penelitian ilmiah, tugas akhir, ujian chunin atau sebagainya, anda kudu menyelesaikan skripsi. Untuk bisa menyusun skripsi anda harus punya dosen pembimbing. Yang saya maksud 'punya' disini pastinya bukan dengan membeli dosen dan menaruhnya di akuarium atau menjadikannya gantungan kunci atau sebagainya, tapi anda mempunyai sebuah surat ajaib dari ketua program studi yang ditujukkan untuk dosen pembimbing yang isinya penetapannya sebagai pembimbing anda. Atau intinya adalah legalitas bahwa anda sudah punya dosen yang akan membimbing anda menyusun skripsi dan menyelesaikannya tepat pada waktunya. Para civitas academica di mari menyebutnya SK atau Eska, entah apa singkatannya, sampai sekarang saya tidak pernah tahu, mungkin surat kuasa, surat ketetapan, suatu kredo, samsu kretek, singkong karet, suratpengajuan krispi atau surat kwkwkwk, bodoamat.

Nah, anda sudah mengerti sedikit kan? Tapi sebenarnya quest untuk bisa mendapatkan SK itu tidak semudah itu, anda sebelumnya harus fotokopi ini itu lihat dulu kalo belagu muke lu jauh, eh maaf saya malah nyanyi. Maksud saya, anda harus fotokopi macam-macam mulai dari proposal skripsi yang ditanda tangani sekretaris program studi, fotokopi IPK, KTM, SKTM, SKCK, MCK, McD, KK, KLX, KTP, SIM SALABIM jadi apa prok prok prok dan segala tetek bengek birokrasi yang bengek seperti tetek nenek-nenek.

Setelah semuanya terkumpul (termasuk 7 bola naga dan bulu ketek Marylin Monroe), persyaratan-persyaratan untuk memperoleh SK pun terpenuhi. Akhirnya, di suatu pagi menjelang siang itu saya petantang-petenteng membawa berkas-berkas itu ke kampus. Tak ada wajah-wajah familiar di kampus dikarenakan saya sudah terlampau tua untuk berada di lingkungan kampus (FYI, saya lahir sekitar tahun 3 masehi). Saya segera menuju lantai 16 untuk menghampiri ruangan pak ketua program studi.

Setelah membuka pintu pelan-pelan, rasa dingin dari penyejuk ruangan yang disetel seperti kulkas naget menciumi ubun-ubun saya. Ruangan yang tidak begitu luas itu berisi 5 meja kantor sepaket dengan kursi dan komputer yang biasanya dipakai untuk membuka aplikasi word atau solitaire. Ada 2 meja yang berisi manusia, satu berisi dosen baru yang saya tidak tahu namanya dan satu lagi berisi pak kaprodi yang sedang berbincang-bincang serius dengan seseorang di depan mejanya yang mungkin seorang tamu dari departemen pendidikan atau departemen store, entahlah saya ngasal. Dengan bermodal nilai bagus PPKN saat SD tentang budi pekerti dan etika, saya pun keluar dan menunggu hingga si tamu itu keluar supaya saya bisa menghadap pak kaprodi. Setelah sekitar 37 menit 22 detik, si tamu itu keluar. Lalu, 24 detik kemudian setelah merapikan diri dan berkas-berkas, saya kembali membuka pintu pelan-pelan yang menyambut ubun-ubun saya dengan angin dingin. Oh, ternyata pak kaprodi itu sedang membuka bungkusan nasi di depannya dengan khusyuk. Saya pun menyela sedikit, "maaf pak, saya mau ambil eska", dan raut khusyuk pak prodi pun berubah sambil sedikit nge-rap "nanti dulu ya,….hmmm nama kamu siapa? kamu tunggu di luar dulu ya! Saya mau makan dulu!". Saya pun menyebutkan nama saya lalu balik kanan dan keluar ruangan.

Setelah kira-kira 24 menit 6 detik, ia pun keluar ruangan. Saya ber-husnus dzon kalau ia cuma cuci tangan. Saya menunggu di depan ruangannya saat ia keluar dari WC yang masih satu lorong dengan ruangan kaprodi dan ruangan-ruangan lainnya yang tak lepas dari jangkauan pandangan saya. Setelah 6 menit 16 detik ia keluar WC tapi malah masuk ruangan fakultas. Saya celingak-celinguk di depan pintu ruang fakultas, ia tampak sedang berbincang serius bersama para orang tua-orang tua lainnya, mungkin berbincang tentang ketahanan nasional atau konspirasi bumi datar yang sedatar ekspresi saya saat itu. Setelah 8 menit 88 detik, ia keluar dan masuk ruangannya yang segera saya susul ke dalam.

Saya berdiri di depan mejanya dan berucap, "Selamat siang pak, saya mau ambil eska dospem". Permintaan saya dibalas dengan tatapan tajamnya dari ujung sepatu saya hingga ujung rambut saya. "Apa-apaan kamu! mahasiswa kampus sini masa gondrong, urak-urakan sudah kaya orang gila kamu! Rambut gondrong itu kaya rambut gembel" dan rentetan bait-bait lirik rap dilantunkannya seperti "Kode etik mahasiswa blablabla kode estetik blablabla". Sebenarnya saya tidak tersinggung dikatakan seperti orang gila, tapi ia menggeneralisasikannya kepada semua orang gondrong. Gondrong itu gembel. Pengen saya tampik ia untuk menjunjung martabat dan hak asasi orang gondrong dengan bukti-bukti ilmiah misanya dengan, "Orang-orang gondrong itu tidak seperti yang bapak bilang, Rene Descartes, Voltaire, Copernicus itu gondrong, Pak! Gak seperti orang botak! Lihat saja The Rock, Vin Diesel dan Statham! Cuma gede otot doang! ". Tapi karena saya orang gondrong yang santun, saya tidak melakukan hal itu. Mungkin anda akan bilang, "Cemen lu! orang gondrong kan rebel". Hei! Makna rebel sekarang ini telah dicemari oleh perangai Yonglek dan Awkarin yang menjadikan rebel sebagai tidak rebel, dan karena pelajaran PPKN yang terpatri di sanubari saya, saya tidak mau melawan orang tua (yang botak). Saya harus patuh dan taat serta tenggang rasa dan berjiwa ksatria. Kalimat terakhir si pak tua itu samar-samar terdengar, "Kamu cukur dulu, baru nanti saya kasih eska", saya pun mengangguk dan balik kanan langkah maju..jalan. Saya pun duduk sambil main gawai di depan kantornya sambil planga-plongo.

Baru semenit saya main gawai sambil curi-curi wifi kampus, terdengar suara azan di kejauhan. Lalu pak kaprodi dan dosen baru yang berada di ruangannya pun ikut keluar menuju Mushola. Semenit kemudian saya mendapat ilham untuk masuk ruangan kaprodi dan mengambil sendiri (alias mencuri) SK tersebut. saya pun mengendap-endap seperti endapan-endapan yang mengendap di sungai Dadap. Saya pun buka laci sana sini, lemari, mencari-cari di atas meja dan sebagainya mencari sang eska. Terkadang jika anda sedang berada di situasi tertentu, waktu terasa lebih cepat. Saya akhirnya menemukan eska dengan nama saya yaitu Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwemwuhwem Osas dan langsung membayangkan ada gelar sarjananya nanti di belakangnya, menjadi Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwemwuhwem Osas, S.kmzwa8awaa. Saya pun melengos keluar.

Ketika saya menutup pintu, di kejauhan terlihat pak kaprodi. Saya langsung melesat ke arah berlawanan darinya menuju tangga darurat. Sial, saya lupa menutup laci meja kerjanya tadi. Sesaat sebelum membuka pintu tangga darurat saya mendengar samar-samar teriakan disertai keributan "hei itu si gondrong tadi ngambil eska, kejar!!!". Hati saya pun dag dig der daiia seperti orang menang hadiah uang kaget, saya langsung lari turun dari lantai 16 menuju lantai dasar. Selama saya berada di tangga darurat, saya mendengar langkah-langkah kaki dari lantai atas dan suara pengumuman dari pengeras suara yang di pasang di tiap lantai yang sepertinya kedengaran seperti ini: "seorang mahasiswa semester banyak telah mencuri eska, tolong para satuan keamanan mengejarnya! Ia telah turun lewat tangga darurat, segera dikondisikan". Lalu sirine darurat pun bersahut-sahutan tanda diaktifkannya status siaga satu di fakultas tersebut.

Setelah sampai di lantai dasar, saya berusaha mengendap-endap kembali di lorong lantai satu berusaha berbaur dengan kepanikan para mahasiswa-mahasiswa baru. Sekitar seratus meter dari pintu keluar, seorang satpam menunjuk-nunjuk kearah saya. "Noh gondrong noh, kejar woy itu!!!", teriaknya bersama tiga orang temannya sambil membawa pentungan. Saya pun mundur tiga langkah sambil berlindung di tengah kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru yang panik dan keringetan seperti sarden. 5 meter di depan saya tiba-tiba lift terbuka, 5 orang mahasiswa keluar dari lift sambil celingak-celinguk penasaran. Saya pun menyusup ke dalam lift dan segera menutup lift, "Hoy, si gondrong masuk lift tuh!" teriak si satpam dari kejauhan.

Di dalam lift, hati saya makin dag dig dug duerrr daiiiiaa. Saya pun langsung memincet tombol lantai paling atas yaitu lantai 33 sambil berusaha menarik nafas dalam-dalam agar lebih rileks. Saat angka di lift menunjukkan lantai 22, saya masih belum bisa rileks karena jantung saya masih mau copot. Saat angka lift menunjukkan angka 25, lift berhenti. Dan terdengar suara dari pengeras suara kecil di dalam lift, "Hei gondrong, kamu sudah tidak bisa kemana-mana lagi, kamu sudah terjebak di lift! Kamu tidak bisa kabur kemana-mana lagi ngahahahahaha". Lalu listrik padam.

***

2 menit kemudian pintu lift dibuka manual tapi kosong. Coba anda bayangkan seperti adegan di film Shawshank Redemption di mana si kepala sipir beserta kroco-kroconya melongo ke dalam sel Andy Dufresne yang kosong. Itu karena saya menjebol atas papan lift yang cuma besi tipis itu dan menaiki talinya seperti film-film action sambil terkekeh-kekeh dengan jantung yang dag dig dug duerrr daiia.

Setelah sampai di paling atas, saya menendang teralis besi tempat sirkulasi udara dan merunduk hingga keluar ke rooftop gedung. Panas matahari meniup ubun-ubun saya yang sedang mencari jalan keluar dari atas sana, karena saya adalah orang yang percaya dengan film-film dan game-game di mana ada jalan keluar dari atas gedung entah itu berupa helikopter dengan tangga tali atau lingkaran cahaya untuk teleportasi. Dan akhirnya seperti yang sudah-sudah, tidak ada hal-hal seperti itu. Sesaat kemudian dari pintu yang menuju puncak gedung dari bawah itu muncul orang-orang. Beberapa satpam berbadan tegap dan dosen-dosen kemudian berjalan ke arah saya. Saya terpojok dengan jantung dag dig dug duerr daiia dan rambut gondrong saya tertepa angin muson utara yang kering dan panas. "Tidak bisa kemana-mana lagi kamu, gondrong!" teriak kaprodi di antara kerumunan orang yang berjalan ke arah saya sambil memainkan gunting di tangannya. Ia terus memainkan gunting; terbuka lalu tertutup, terbuka lagi lalu tertutup berirama dengan langkahnya yang menuju ke arah saya di ujung puncak gedung. "Sini saya cukur rambut kamu! Atau kamu loncat saja sana hahahaha!" , Teriaknya seperti MC Ramayana.

Lalu, seperti adegan di film-film yang klise dan diulang-ulang terus itu, saya pun loncat dari atas gedung sambil di ikuti dengan planga-plongo satpam-satpam dan dosen-dosen dalam gerakan slow-motion tak lupa dengan adegan jatuhnya gunting dari tangan pak kaprodi yang juga slow-motion. Saya meluncur ke bawah dengan cepat dengan rambut gondrong saya berkibar-kibar, sambil menutup mata saya pasrah pada ilahi.

***

Setelah saya membuka mata saya, rambut saya yang terus berkibar, melebar seperti parasut dan melambatkan laju turun saya. Saya pun sampai di bawah dengan selamat diiringi tepuk tangan mahasiswa-mahasiswa baru, tapi saya tidak selamat dari keputusan kaprodi yang akhirnya men-D.O saya . Karena katanya perilaku saya yangg sangat brutal, barbar dan membahayakan ketahanan nasional dan kalangan akademis dan blablablabla.

Akhirnya, setidaknya dengan rambut gondrong saya ini bisa merepresentasikan ke-rebel-an dan kebebasan saya.

 

sepikkk

  • view 87