Narasi Kopi

Narasi Kopi Narasi Kopi

Kopi mungkin salah satu benda yang paling berpengaruh di dunia. Setidaknya begitu menurut pikiran saya akhir-akhir ini, yang sering dipaksa berpikir dengan bergelas-gelas kopi. Saya melamun di malam hari ditemani TV yang menyala sekadar untuk menghalau hegemoni keheningan malam. Jika boleh saya menyontoh pembukaan novel Rumah Kertas-nya Carlos Maria Dominguez atau seperti pembukaan film Janji Joni-nya Joko Anwar, lamunan saya akan terdengar seperti ini: kopi terkadang bisa merubah nasib atau hidup seseorang. Engkong Malih, merbot masjid kampung baru yang sudah tua renta itu akhirnya bisa ke tanah suci setelah tau kalau didalam bungkus kopi yang dia minum tempo hari ternyata terdapat logo stiker berwarna perak, si Engkong yang matanya sudah rabun itu keheranan lalu meminta si Saprin untuk membacakan apa yang tertera di dalam bungkus kopi itu, yang ternyata berisi kalimat sederhana: Selamat anda memenangkan hadiah umroh!. Lain pula nasib kakak pertamanya Mbah saya di Jawa Tengah, konon kata mbah saya yang pernah ikut mengangkat senjata dizaman Jepang itu, kakak pertamanya itu pergi ke Suriname guna menjadi pekerja di kebun kopi pemerintah kolonial Belanda dulu, dijanjikan untuk bekerja selama lima tahun tapi toh dia tak pernah pulang, maka hingga mbah saya meninggal di umur 90-an tahun, mereka belum pernah bertemu kembali. Lain lagi dengan Kang Ace, saudara jauh Istri saya, seorang kuli panggul sebuah toko kopi gilingan di Bogor. 25 tahun ia menjadi kuli panggul kopi gilingan tapi naasnya mati tertabrak mobil pengangkut kopi. Kita juga belum lupa pada kasus kopi yang terkenal belakangan ini yaitu kasus es kopi Vietnam bersianida yang jumlah episode sidang-sidangnya seperti sebuah sinetron yang tidak jelas plotnya kemana. Tak hanya manusia, mahluk lainnya juga terkna dampak serupa. Misalnya, kehidupan seekor luwak yang diberi nama si Burik, berubah, mulanya ia adalah luwak liar yang suka bergentayangan bebas malam hari di dekat perkebunan kopi di perbukitan daerah Cisadon. Tapi akhirnya ia berhasil ditangkap dan menghabiskan masa hidupnya didalam kerangkeng dan dipaksa makan biji kopi dan dipaksa berak tiap hari oleh petani kopi. Pun kehidupan biji kopi itu sendiri, konon kopi ditemukan di Ethiopia, lalu dibawa oleh orang-orang Arab ke Yaman dan akhirnya beredar keseluruh dunia! bayangkan penjajah Belanda membawa biji-biji kopi dari Yaman lalu berlayar menyusuri samudera Hindia hingga akhirnya tiba di Lombok atau Toraja misalnya, biji-biji kopi tersebut mengarungi ribuan kilometer jauhnya dari induknya nun jauh di seberang lautan.

Menilik kalimat pertama paragraf pertama diatas (aneh, masak lamunan berparagraf?), kopi mungkin adalah minuman terpenting di Italia setelah wine, bayangkan kultur minum kopi disana, ditiap sudut negeri itu dipenuhi café-café, beragam jenis minuman dari kopi tercipta disana dari espresso, cappucino, latte, dsb. Walhasil akhirnya ada seorang Amerika yang terinspirasi dari budaya minum kopi di negeri Pisa itu dan membuat waralaba kopi berlogo duyung berwarna hijau yang menjadi tren di dunia (padahal di negeri Italia sendiri tidak ada waralaba tersebut, walaupun akhir-akhir ini mereka membuat cabang pertama di sana, yang pastinya tidak bakalan laku). Bahkan, waralaba kopi berwarna hijau yang harga segelasnya mahal itu juga nemplok di perpustakaan salah satu universitas negeri terbesar di negeri ini (yang konon kata seorang penulis yang suka menulis tentang senja itu, gerai waralaba itu bisa merusak simbol atau citra kampus yang katanya kampus perjuangan itu dengan citra konsumtif hedonis), kopi itu ironisnya dijadikan gaya hidup yang pamer yang gak jelas, seolah ada beda kelas atau kasta antara kopi café mahal dengan kopi warung. Padahal sebenarnya kopi diambil nilai gunanya sebagai minuman penambah konsentrasi (maaf saya jadi sok-sok-an ngebahas hedonis dan budaya konsumtif karena saya habis nonton film Fight Club tempo hari). Kopi sebagai minuman teman berpikir, itu mungkin yang menjadikannya salah satu barang berpengaruh di dunia ini. Bayangkan saja, ilmuwan-ilmuwan dulu, penulis-penulis besar dulu, pemimpin-pemimpin dunia, pasti menemukan gagasan-gagasan besarnya dengan ditemani kopi. Aktivis-aktivis baik dizaman orde lama, orde baru sampai sekarang  berdiskusi sambil ditemani gelas-gelas kopi dan rokok (bayangkan pak presiden Soekarno, pak  Jendral Soedirman ataupun pak Tan Malaka sedang mengobrol-ngobrol serius tentang negara ini, tentang siasat gerilya, atau diskusi lainnya pastilah ditemani gelas-gelas kopi), mahasiswa-mahasiswa begadang menyusun skripsi dan tugas akhir dengan gelas kopi disampingnya, bapak-bapak ronda yang menjaga keamanan kampungnya dari maling, menghilangkan kantuk dengan kopi dan kartu remi di pos ronda,

Mungkin saya sangat memaksa dengan opini saya diatas, dan anda harus membaca rengekan saya yang panjang dan tidak jelas itu. Dan karena malah terkesan seperti esai, padahal seharusnya cerpen (dan saya tidak ada pretensi atau niatan apalagi modal untuk mencipta istilah cerpen esei seperti orang kaya yang mau disebut pakar tentang segala hal itu dan konon mempunyai bisnis lapangan futsal juga) maafkan lah saya  narator yang bodoh dan miskin ini. Sebenarnya saat ini saya sedang dalam pengaruh kopi yang sialan itu. Tempo hari Istri saya membawa sekantong besar kopi yang berbungkus aneh, katanya oleh-oleh dari saudaranya. Dan sebagai orang yang sok-sok-an mencintai kopi, saya suruh ia untuk menyeduh segelas kopi itu untuk saya. Selayaknya orang yang sok-sok-an mencintai kopi pada umumnya, saya pernah mencoba berbagai kopi Nusantara; kopi Luwak, Toraja, Aceh Gayo, Lombok, Papua, Mandailing, dsb, Pernah juga saya cicipi kopi-kopi mahal di café-café, kopi kotak dan botol instan di minimarket-minimarket, kopi bungkusan dan kopi dari warung kopi, kopi kedelai, kopi bakau, kopi penambah vitalitas, permen kopi, ayam bakar kopi dan kopi-kopi lainnya. Bisa dibilang pengalaman minum kopi saya sudah hebat, malah jika ada  kritikus kopi, saya bisa dibilang kompeten untuk itu. Tapi kopi oleh-oleh saudara istri saya tersebut rasanya beda dengan kopi-kopi lain, sungguh sangat enak tapi karena berbeda dengan kopi biasa maka saya bilang aneh. Sudah 3 hari saya tak bisa tidur akibat minum kopi itu, mungkin karena kandungan kafein yang sungguh berlebihan di kopi ini atau karena kopi ini dijampi-jampi. Kemarin, setelah dua hari tidak tidur dan dipaksa terus berpikir dan melamun oleh kopi sialan itu, saya telah mendapat ide dan menyusun strategi yang lumayan biasa. Saya menyabotase minuman angota-anggota dewan sebelum rapat dengan kopi tersebut. Dari kejauhan saya melihat ekspresi-ekpresi para anggota dewan meminum kopi yang keenakan setelah minum kopi tersebut, dan walhasil rapat anggota dewan itu pun berjalan khusyuk dan lancar tanpa adanya yang tidur. Saya pun merasa seolah melakukan sesuatu kebaikan untuk negara ini setelah melakukan sabotase itu.

***

Seminggu setelah peristiwa sabotase itu, saya belum juga bisa tidur. Padahal saya sudah makan sayur kangkung tiga kali setiap hari. Hingga akhirnya berita ghibah selebritis nongol di TV yang saya nyalakan untuk sekedar meramaikan ruangan itu memberitakan tentang anggota dewan yang merangkap sebagai selebritis yang tidak bisa tidur berhari-hari, lalu berujung pada kecekcokan dan  ketidak harmonisan rumah tangga-nya. Yang diamini oleh para anggota-anggota dewan yang lainnya. Maklumlah, dengan tidak bisa tidur berhari-hari anda akan merasa lelah yang amat sangat, tapi anda tidak bisa tidur atau beristirahat dengan maksimal. Mungkin juga mengakibatkan kerusakkan alam bawah sadar anda dikarenakan direpresinya mimpi-mimpi anda secara total karena anda tak tidur-tidur (entah kenapa saya menjadi sok tahu dengan psiko-analisis yang sejatinya bukan bidang saya). Belakangan saya juga sering ribut dengan istri saya, akhirnya dia pun kesal dan pulang kerumah orang tuanya. Saya juga jadi sering kesal sendiri, badan ini pun sudah sangat lelah, tapi tidak bisa dipaksa untuk tidur. Akhirnya saya berniat membeli pil tidur yang dijual di internet, dan karena ingin cepat-cepat bisa tidur, saya pun memesan kepada si penjual agar mengantarnya melalui ojek online.

Saya menunggu selama berjam-jam, hingga akhirnya sang kurir pun datang, itu adalah salah satu momen terbahagia dalam hidup saya selama ini yang saya jalani dengan sia-sia dan begitu-begitu saja. Dengan merasakan rasa senang berlebihan, malah saya tidak bisa tidur. Sial, setelah sebutir saya minum belum juga merasakan efek-efek mengantuk atau sebagainya. Saya pun meminum dua, tiga dan seterusnya sembari mencontoh budaya barat dengan menghitung domba-domba imajiner (terpengaruh poskolonialisme kah? ). Tapi lama kelamaan akhirnya saya pusing dan ambruk…. semuanya gelap, saya mungkin tersenyum bahagia waktu itu.

***

Saya bermimpi kalau saya tidur bahagia dan pulas selama beratus-ratus tahun, presiden demi presiden dan rezim demi rezim berganti, mirip seperti cerita Ashabul Kahfi tapi dalam mimpi itu saya malah terbangun di era yang lebih buruk dari sekarang atau dunia yang dystopia. Dalam mimpi itu saya bertamu ke seorang pemimpin negara yang sangat sopan kepada saya, saya pun disuguhi kopi di beranda rumahnya itu. Setelah saya menyesap kopi beberapa kali, ia pun berkata dengan raut wajah yang beda, "Enak kopinya kan? Itu adalah kopi biasa yang dicampur dengan abu jenazah istri anda! Hahahahahahha" dan wajahnya berubah-ubah dari Hitler ke Stalin ke Sadam Husein ke Justin Bieber lalu menjadi wajah setan. Saya pun terbangun dengan kaget dari mimpi saya itu dan heran mendapati diri saya berada di atas ranjang rumah sakit. Istri saya tidur sambil duduk di samping saya dan ikut bangun tatkala saya terbangun. Ia pun lalu bercerita  saat dia kembali dari rumah orangtuanya dia mendapati saya tak sadarkan diri di depan TV yang masih menyala dan dengan obat-obatan berceceran di dekat saya saat itu. Dia pun panik dan memanggil ambulans. Katanya saya sudah menginap di rumah sakit selama seminggu lebih, dia bilang dia takut akan kondisi saya dan kemudian mencium pipi saya sambil menangis minta maaf, entah maaf tentang apa. Lalu ia bertanya apakah saya mau makan, yang saya balas dengan gelengan kepala. Berjam-jam kemudian saya hanya bisa berbaring dan mencium bau khas rumah sakit dengan bosan sambil berkhayal menembak awan-awan dengan kopi laknat seperti pesawat-pesawat yang katanya menembakkan garam ke awan untuk membuat hujan buatan agar bisa menciptakan hujan-hujan pembawa insomnia akut itu, agar semua orang bisa merasakannya juga.

"Brengsek!!!".

Entah kenapa tiba-tiba saya berteriak di tengah keheningan rumah sakit yang langsung dibalas dengan tatapan-tatapan heran orang-orang di bangsal saya berada dan senyuman aneh istri saya. Saya pun malu lalu dengan cepat memandang ke jendela yang berisi awan-awan mendung tanda akan hujan.

 

Fajar Nurrahman

Narasi Kopi

Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 16 Maret 2017
Ringkasan
menarasikan kopi
Dilihat 32 Kali