Filsafat Rengginang

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2017
Filsafat Rengginang

Orang itu masih saja membuka kaleng biskuit yang bukan berisi biskuit. Orang itu memang lebih suka makan yang asin-asin untuk melenyapkan rasa lapar ketimbang biskuit-biskuit manis penyembur gula darah. Toh sebenarnya rengginang berasal dari beras juga yang berisi karbohidrat penyembur gula darah. Orang itu kemudian membuka buku di meja depannya sambil terus menggarot rengginangnya.

Krauk…krauk…

Orang itu membaca kitab-kitab filsafat atau buku teori akademis untuk tujuan rekreasional. Mungkin orang itu suka menghisap debu-debu dari buku-buku filsafat karena alasan debu itu filosofis atau menghirup wangi buku teori karena wangi buku itu akademis. Orang itu membenci buku-buku fiksi atau sastra yang katanya tidak nyata, "Seperti hoax saja, bahkan realisme saja itu tidak nyata,karena real-is-me! Yang nyata itu saya." Ujar orang itu suatu ketika sambil terkekeh dan tersedak ampas rengginang. Dengan membaca buku-buku berat, orang itu bisa memanaskan otaknya hingga cukup untuk menyeduh kopi. Biasanya orang itu selalu minum kopi setelah menyelesaikan membaca puluhan halaman buku. Setelah itu ia membaca buku-buku berat kembali (dalam artian berat secara dipikir-pikir dan dipikul-pikul) agar setelah otaknya panas, orang itu bisa menanak nasi menggunakan otaknya. Bahkan dahulu kala orang itu pernah menggunakan otaknya yang panas untuk melelehkan logam untuk membuat bermacam alat perang: pedang, tameng, dan sebagainya. Tapi, setelah membaca pemikiran Mahatma Gandhi ia tidak pernah lagi membuat barang-barang itu lagi.

Orang itu beranggapan bahwa filsafat ada jauh sebelum Plato ada. Saat nenek moyang manusia masih berbentuk sel-sel mikroskopis, "Sel-sel tersebut menyatu dan melebur dengan semesta. Itulah awal mula Wahdatul Wujud!" Ujar orang itu dengan berapi-api sewaktu berorasi di depan para alumni jurusan filsafat islam. Menurut orang itu evolusi berawal dari pemikiran atau filsafat, misalnya ketika nenek moyang manusia yang sudah berbentuk monyet itu kemudian telah menemukan pengetahuan-pengetahuan dasar tentang alam, mereka pun akhirnya berpendapat untuk berdiri dengan tegak.  Karena berdiri tegak adalah simbol kepercayaan diri mereka menjadi sebagai pemimpin di bumi. Jadi misalnya anda sedang wawancara kerja tapi pembawaan anda menunduk, cemen dan tidak percaya diri, maka mana mungkin anda mendapatkan pekerjaan? Anda akan dituduh sebagai pemalu, kikuk dan tidak bisa bekerja sama, dan akhirnya tidak menghasilkan profit untuk perusahaan, iya kan?

Krauk…krauk

Orang itu masih menggarot rengginangnya hingga akhirnya ada seseorang masuk ke ruangan orang itu. Nampaknya orang itu adalah teman atau saudara orang itu. "Hai, minta api!" Pinta teman orang itu sambil mengeluarkan rokok putihnya dan menggigitnya dengan bibirnya. Orang itu meletakkan buku itu di depannya lalu membuka sedikit kepalanya seperti logo pacman untuk mempertontonkan isi otaknya yang merah menyala. Teman orang itu kemudian mencondongkan bibirnya ke otak orang itu untuk menghidupkan rokoknya.   

"Hei, mengapa kau masih saja menyendiri di rumah dengan buku-buku tebal ini? Kenapa kau tidak mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang kau dapat di masyarakat sekitar?" Kata teman orang itu sambil menyesap nikotin sedikit demi sedikit.

Orang itu malah tersenyum sinis dan kembali menggarot rengginangnya kraukk…kraukk…

"Soalnya tadi aku lihat quote-nya Tan Malaka di Instagram, "bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali". Ujar teman orang itu sambil menyesap Tar gram demi gram.

Orang itu malah tersenyum sinis dan kembali menggarot rengginangnya kraukkk…kraukkk…

"uhuk-uhuk hukkkk" Teman orang itu tiba-tiba terbatuk dikarenakan tersedak gas pembakaran rokoknya sendiri. Dan bara-bara api rokoknya terjatuh di lembaran-lembaran kering buku-buku dan kertas-kertas orang itu dan dengan cepat membakarnya.

Orang itu ingin tersenyum sinis tapi rengginang di kaleng biskuitnya sudah habis. Tiba-tiba saja kepalanya memanas hingga ribuan derajat celcius, puluhan ribu, ratusan ribu, hingga akhirnya bisa meleburkan inti atom dan menghasilkan reaksi nuklir seperti di matahari, atau lebih dahsyat seperti ledakan supernova (baik yang di pasaran dan di langit). Dan akhirnya orang itu dan temannya pun lenyap.

Seandainya saja orang itu tidak meledakkan dirinya sendiri dan melakukan hal berguna, pastinya negara kita tidak sering mati listrik.

 

 

  • view 178