Ide Membuat Cerpen

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2017
Ide Membuat Cerpen

Ide datang secepat kilat, terkadang ia kabur lagi sekian detik selanjutnya. Maka daripada itu, saya berpesan kepada anda untuk segera mencatat ide-ide yang tiba-tiba hadir di kepala anda. Ya kalau  anda masih punya kepala tentunya. Ide –ide yang saya maksud bukan sebuah makanan bulat  berisi kacang hijau dan dibalut wijen, itu namanya onde-onde. Ide yang saya maksud seperti ketika tokoh kartun mendapatkan sekelebat gambar lampu di kepalanya berbarengan dengan suara "tringgg", ide bisa berupa ide nada-nada musik, ide cerita, ide rumus kimia, ide perlawanan, dan ide-ide lainnya.

Biasanya ide-ide brilian yang datang tiba-tiba itu suka datang disaat anda berada di dalam toilet, entah sedang berak atau mandi. Konon, Wiji Thukul terinspirasi membuat puisi saat di posisi itu. Kadang juga ide-ide yang datang spontan itu menyeruak ketika anda sedang berkendara, entah apa kendaraan anda (yang biasanya disesuaikan dengan kelas sosial itu) mobil, motor, sepeda, kapal laut, truk Pantura, kereta api, odong-odong atau bahkan pesawat (pesawat terbang tentunya, bukan pesawat sederhana). Konon, ada seorang ulama yang membuat sebuah kitab fikih selama berada di atas kapal laut, dan ia namakan kitab itu Safinatun Najah yang kira-kira berarti 'Kapal yang Selamat'. Ulama yang saya maksud adalah ulama jaman dahulu, bukan ulama-ulama jaman sekarang (entah namanya jaman akhir atau posmo) yang biasanya ulama-ulama cap ortodoksi agama atau fundamentalis liberal.

 Nah, setelah saya sebut contoh-contoh diatas, maka saya tekankan ke anda sekalian agar segera mencatat ide-ide random tersebut. Mungkin saja revolusi Bolshevik diawali dari toilet saat Lenin muntah-muntah karena kebanyakan minum Vodka atau  mungkin teori relativitas tercipta saat Einstein mengendarai sepedanya di jalan pulang dari rumah selingkuhannya. Ingat ya, tulis! Karena kita tidak bisa mengandalkan otak semata, sudah terlalu banyak MSG dan Boraks yang mengikis daya ingat kita. Nah, sebenarnya ide yang saya kemukakan ini juga tercipta saat saya di dalam toilet. Anda tidak perlu tahu apa yang saya lakukan saat itu, narator juga butuh privasi! Jadi saya akan ceritakan cerita setelah saya keluar dari toilet saja.

Setelah saya menunaikan hajat saya dan menemukan ide-ide baru, sebuah ide cerita yang asoy. Saya keluar toilet dengan berbinar-binar. Jika dilukiskan dengan scene film mungkin scene tersebut berwarna cerah keemasan seolah menggambarkan sebuah pencerahan dengan warna mood oranye senja seperti filter hefe di Instagram. Lalu saya berlari-lari kecil kesenangan seperti anak kecil dibelikan mobil-mobilan tamiya setelah lebaran. Sesampainya di kamar, saya membuka dan menyalakan laptop. Butuh waktu kira-kira 1 menit 23 detik hingga laptop bisa bekerja dengan optimal. Tampilan logo windows dan wallpaper bawaan menyapa saya. Segera saya membuka aplikasi pengolah kata. Dan lalu layar monitor menampilkan warna putih yang menyilaukan. Putih dan kosong. Saya terpana oleh kesilauan monitor yang bersinar seperti lampu 25 watt. Putih selebar dua buah telapak tangan direntangkan, putih yang menyilaukan, putih yang melenakan. Putih dan kosong. Setelah sadar sejenak, tiba-tiba lenyap sudah ide-ide random seperti pemutih pakaian memutihkan pakaian. Bajigur!

Saya pun membuka aplikasi seluncur internet dan lalu mengetik alamat situs mesin pencari. Mesin pencari menyapa saya dengan ke-putih-kosongan yang sama. Internet adalah tuhan distraksi terkini, ia lebih mendistraksi dari apapun yang pernah diciptakan manusia sebelumnya. Dan akhirnya saya malah membuka jejaring sosial, menonton teman-teman maya saya dalam gambar (entah diam atau bergerak, entah lampau atau langsung) tentang kehidupan mereka, makanan mereka, pose terbaru mereka, tempat jalan-jalan mereka dan sebagainya. Setelah 2 jam 46 menit saya kembali teringat bahwa saya harus menulis sebuah cerpen. Ya, saya mendapat ide untuk membuat cerpen di toilet. Tapi apa ide nya? Saya hanya ingat harus menulis cerpen.

Saya kembali membuka aplikasi pengolah kata dan disambut dengan kekosongan lembar-lembar digital, sembari merenung, saya menyalakan aplikasi pemutar musik. Biasanya, musik dengan nyanyian atau lirik mendistraksi pendengarnya, maka saya putar musik-musik instrumental post-rock yang memberikan nuansa-nuansa alam saja tanpa alunan vokal tentunya. Setelah beberapa lagu, saya mengetik dengan asal-asalan dan berharap mendapatkan kembali ingatan di toilet tadi. Saya berpikir tentang menulis cerpen yang benar-benar cerpen. Cerpen yang cerpen! Cerpen yang memiliki plot yang linear tapi tidak membosankan dan penuh kejutan, karakterisasi yang kuat, konflik yang berkelas, dan klimaks yang klimaks. Tapi tetap saja saya masih mengetik asal-asalan dan ide di toilet masih mengendap di alam bawah sadar saya. Oh Freud! Oh Jung! Bagaimana cara menampilkan kembali ingatan di toilet tadi?

***

Setelah ber album-album lagu instrumental, secangkir kopi dan 4 batang rokok putih, saya teringat-ingat walaupun masih samar-samar dan kurang jelas ide di toilet tadi, samar-samar seperti adegan merokok yang disensor di tv. Saat ini ketikan asal-asalan saya sudah hampir 3 halaman di lembaran artifisial digital ini. Ide di toilet tadi nampaknya cukup radikal untuk sebuah cerpen. Mungkin sebuah jenis cerpen baru, lebih radikal dari cerpen-esai mungkin atau mungkin meta-cerpen. Cerpen yang bisa merubah dunia kesusastraan kita, kesusastraan yang sudah sekian lama dipolitisasi oleh segolongan orang itu. Saya pun kegirangan seperti Newton ketiban buah apel dan ingin teriak "Eureka!".

Jlebbbb…….

Tapi tiba-tiba layar yang berisi lembar-lembar digital ini mati bersamaan dengan lampu kamar saya. "Eureka!" pun berganti menjadi "Eh….Brengsek!". Laptop saya yang sudah uzur ini harus selalu dicolok listrik agar bisa bekerja, karena baterainya sudah tidak berfungsi lagi, dan anda tahu? Mati lampu berarti mati laptop juga.

Gelap dan sunyi. Suara musik pun lenyap digantikan musik kesunyian, percis seperti musik sunyi-nya John Cage, sungguh PLN memang perusahaan negara yang avant-garde.

Hitam dan kosong. Entah akan berapa lama mati lampu ini berlangsung, entah 4 menit entah 4 jam. Saya pun terdistraksi, lupa lah saya kepada ide itu. PLN mungkin juga telah membuat hal yang sama kepada ribuan orang lainnya. Ide-ide yang lenyap, dalam kegelapan dan kekosongan. Mungkin ide-ide untuk kemajuan bangsa ini pun banyak yang ikutan padam saat listrik padam.

Saya pun beranjak ke toilet membawa senter kecil. Entah apa yang saya akan lakukan, mohon anda jangan ganggu privasi saya!

 

 

 

 

  • view 84