Semester Banyak

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2017
Semester Banyak

Sebenarnya saya tidak suka ikut seminar,  apalagi seminar kepenulisan. Tapi karena universitas mengharuskan mahasiswa tingkat akhirnya (atau yang hampir batas waktunya seperti saya) untuk memiliki minimal 5 sertifikat akademis sebagai syarat berhak untuk mengikuti sidang skripsi. Itu benar-benar kebijakan yang menjengkelkan. Sebenarnya sih mudah untuk meminjam sertifikat teman untuk difotokopi, tapi toh teman saya sudah pada lulus semua dan saya tidak  mengenal adik kelas-adik kelas saya. Sungguh menyebalkan, dan saya harus keluar uang beberapa puluh ribu untuk Cuma mendengarkan orang asing berbicara selama beberapa jam.

Pagi yang membosankan di hari jum'at, saya sudah berada di kursi barisan belakang di acara seminar yang diadakan oleh fakultas pendidikan  itu. Pembicaranya yang katanya seorang sastrawan (dengan tipikal rambut gondrong dan tampang kuyu, jelas mirip dukun) dengan pembawaan yang kalem tapi bisa membuat pendengarnya (kecuali saya) antusias untuk belajar menulis. Kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab yang menjengkelkannya dipenuhi oleh pertanyaan yang sebenarnya pasti terulang terus setiap seminar kepenulisan (saya berani menyimpulkan demikian karena saya dulu pernah sekali mengikuti seminar kepenulisan yang diwajibkan saat saya mahasiswa baru). Pertanyaan standar misalnya: "Bagaimana cara tulisan kita tembus di media massa?" yang ditanyakan oleh cewek  berkerudung dan berkacamata yang paling setiap harinya suka nonton drama korea atau novel-novel percintaan tidak jelas. Lalu pertanyaan "Bagaimana cara menjadi penulis best-seller?" tanya cowok culun berkemeja rapi dan bercelana bahan, dan pertanyaan-pertanyaan standar lainnya. Iseng di akhir sesi pun saya tunjuk tangan, tapi moderator seolah berbisik kepada si penulis hendak menghentikan acara. Saya pun berdiri dan teriak tak peduli "Bagaimana cara membuat karakter fiksi benar-benar hidup, tidak seperti novel kacangan yang palsu, tidak riil, hidup tak segan mati tak mau dan dibuat-buat penuh omong kosong?". Moderator lalu berujar "Maaf mas, waktunya sudah habis nih, sudah mau waktu shalat jum'at", tapi si penulis yang mirip paranormal itu berbisik sebentar ke moderator lalu menjawab "saya jawab sebentar yah, sudah mepet nih waktunya. Jawabannya ada di buku ini (sambil menunjuk buku dia sendiri) silahkan anda baca saja buku saya yang diberikan di seminar ini. Terimakasih."

Jawaban macam apa itu, masak saya disuruh mencari sendiri jawabannya di bukunya. Setelah selesai saya keluar dan mengambil tas kertas yang berisi buku dan sertifikat seminar.

***

Malam harinya di kamar kost, saya mencoba mengetik kembali revisi bab 3 terakhir sebelum nantinya di berikan ke dosen pembimbing supaya saya bisa bersidang ria. Tapi entah kenapa kepala masih mumet dan rasa malas yang mendarah daging entah turunan genetik atau bukan. Saya pun membuka buku seminar tadi sambil meminum anggur merah iseng. Saya cari jawaban tadi siang, dan setelah 5 menit dan 5 tegukan saya menemukan sub-bab itu. Setelah rada pusing sedikit saya mencoba menulis cerita pendek sambil haha-hihi dan sambil terus minum, tentang mahasiswa semester banyak yang muak terhadap kampusnya, kelas-kelasnya yang sempit,bangku-bangku yang rusak, lampu yang mati saban sore hari, lift-lift yang kadang tidak berfungsi, toilet-toilet yang dikunci, mobil-mobil dan motor-motor yang parkir sembarangan, hingga birokrasi-birokrasinya yang menyebalkan. Si mahasiswa itu lalu  membakar ruang-ruang kuliahnya lalu tertawa, entah saya tidak tahu kelanjutan cerita yang saya tulis sendiri karena saya sudah merasa ingin muntah dan tidak sadar.

***

Keesokan paginya saya mendengar kabar bahwa gedung fakultas saya kebakaran dari grup whatsapp kelas matakuliah ulangan saya.  Rumah kost saya dekat dengan kampus, mungkin cuma selemparan shuriken saja. Setelah cuci muka saya bergegas ke sana.

Sesampainya di depan gerbang kampus ada suara lantang seperti berorasi. "Nih, bocahnya nih yang semalem lempar molotop trus ketawa-tawa. Pas gua samperin  dia lari naek pager. Inget gua nih tampang-tampangnya rambut-rambutnya." Teriak seorang satpam berumur kira-kira 35 tahunan dan langsung ditanggapi dengan beberapa satpam lainnya yang berlarian kearah saya.

"iya nih bajunya kaya yangsemalem , si anjing emang.

"Mahasiswa jurusan mana luh!"

***

Saya tidak begitu ingat isi sub-bab buku si penulis mirip Ki Joko Bodo itu, kalau tidak salah ada kutipan Hemingway: "Write Drunk, Edit Sober".

 

  • view 105