Sidang Skripsi Monyet

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Januari 2017
Sidang Skripsi Monyet

Di sebuah ruang sidang, seorang mahasiswa keteteran saat dosen pengujinya menanyainya macam-macam. Ia tegang dan buyar semua pikirannya. Argumen-argumennya dipatahkan. Ia sudah tidak bisa mendengar ucapan dosennya yang bertubi-tubi, entah kenapa suara dosennya hilang. Ia pun melihat dosennya perlahan berubah bentuk. Perlahan-perlahan wajahnya berubah, tubuhnya, hingga akhirnya suaranya pun berubah. "u..u…uu…a..a…aaaa" "uuauaaaa" dosennya berubah menjadi monyet. Ia bingung. Dosen penguji kedua pun mulai berbicara, tapi ia pun berubah menjadi monyet. Entah apa jenis monyetnya, ia jarang pergi ke Ragunan atau menonton National Geographic, mungkin dosen penguji satu berubah menjadi bekantan, dan yang kedua menjadi orangutan, entahlah.

Bingung, ia pun berdiri dan bertanya. "Waduh, jadi apa yang saya harus revisi pak, bu?"

"u…u….uu…aa..aa..a.." Ujar si orangutan sambil menunjuk-nunjuk berkas skripsi dengan tangannya yang kini lebih panjang ketimbang kakinya.

"grrrraaaaa…" ujar si bekantan sambil memakan pisang dan buah-buahan yang disediakan si mahasiswa.

Ia pun makin pusing dan menyesal karena telah melakukan prinsip law of attraction. Sebuah hukum atraksi yang secara sederhana menyatakan bahwa apapun yang kita pikirkan akan tertarik dalam kehidupan kita. Atau dengan kata lain, semesta telah mengabulkannya. Ia pun pamit ke toilet sebentar. Sesampainya di depan cermin toilet ia mendapati wajahnya telah berubah menjadi beruang.

***

Di sebuah ruang sidang, seorang mahasiswa menjelaskan skripsinya dengan wajah datar kurang semangat, mungkin karena grogi atau kurang tidur.

"Pertama-tama saya mencoba menjelaskan sinopsis cerita yang saya jadikan bahan krispi eh maksud saya bahan skripsi sastra saya. Cerita pendek ini bercerita tentang seorang mahasiswa yang sedang sidang skripsi. Dosen-dosen pengujinya bertanya kepadanya bertubi-tubi dan tiba-tiba mereka berubah menjadi sejenis kera. Lalu ia pun pergi ke toilet dan ternyata wajahnya berubah menjadi beruang. Nah lalu, teori yang saya ingin gunakan adalah teori psikologi hewan dan linguistik kera supaya saya dapat melihat secara utuh makna sastrawi dalam cerita tersebut" ujar si mahasiswa.

30 menit kemudian sidang berjalan sangat lambat dan membosankan. Hingga akhirnya dosen penguji angkat bicara. "Sebenarnya, teori yang digunakan tidak relevan. Cerita ini menurut saya malah lebih besar unsur hinaannya terhadap dunia manusia atau dunia pendidikan. Mungkin anda seharusnya menggunakan teori hinaan hewan dari Prof. Alex Satir, atau Saras Sarkas,P.hd. Kalau teori yang anda pakai ini malah cenderung deskriptif, dan analisisnya cenderung kurang".

"Ya, hinaannya sungguh terasa" ujar dosen penguji kedua sambil memakan buah dari piring di depannya. si mahasiswa mengamatinya wajahnya dengan cermat. "Mengapa cerita ini anda pilih sebagai bahan skripsi sastra anda? Apakah penulisnya adalah penulis favorit anda? Atau isu sosialnya menurut anda relevan, atau bagaimanalah gitu? Terus ini siapa sih penulisnya? Kayaknya sebel sama dosen ya?"

Bertubi-tubi pertanyaan dosen penguji membuatnya beku. Dan mereka tidak berubah menjadi monyet. Dia pun jadi kebelet kencing dan pamit sebentar. Sesampainya di toilet dan menyelesaikan hajatnya, ia memandangi wajahnya di cermin yang pucat dan berkantung mata. Ia pun menunduk dan membasuh wajahnya di wastafel dan berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan dosennya. Berkali-kali ia membasuh wajahnya hingga akhirnya ia sadar kalau wajahnya berubah menjadi monyet, atau kera atau apalah.

Saya lihat di wikipedia nama latinnya adalah Papio Hamadryas.

 

  • view 238