PRATTT...PREETTTT....PROOOTT...

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Januari 2017
PRATTT...PREETTTT....PROOOTT...

“Preeeettt……”

Dia kentut lagi. Pria tengah baya berbadan buncit seperti hamil empat bulan itu merah mukanya. Sembarangan sekali dia kentut, saat sedang disiarkan langsung di TV dia kentut. Kenapa pula dia tidak bisa menahan kentutnya, tapi para wartawan dan para hakim dan jaksa sadar kalau kentut itu manusiawi dan karena dalam sidang kasus perkara besar yang mendebarkan ini si terdakwa grogi dan tidak bisa mengendalikan kentutnya secara optimal.

“Maaf, saya harus ke kamar kecil sebentar” ujarnya kepada hakim yang terhormat.

Sang hakim pun mempersilahkannya ke WC karena lama-lama risih melihat si terdakwa sering terkentut-kentut di sidang yang mulia ini.

Sesampainya di toilet si terdakwa mengomeli pantatnya sendiri.

“Hey kenapa kamu kentut terus sih? Saya malu nih ditonton orang banyak!” bentaknya.

“Maaf bos, saya refleks kentut saat si bos berbohong” ujar si pantat seperti karyawan yang ditegor bosnya.

“Ya, kalo bisa jangan bunyilah. Malu banget saya ini. Jangan bunyi, silent aja gitu kaya handphone. ”

“Ya gak bisalah, bos! gimana sih ! Waktu bos bohong tuh, mulut bos ngeluarin cairan pahit gitu, terus meluncur ke lambung. Nah  si perut kesakitan, terus saya juga jadinya gak tahan harus kentut-kentut, bos! sakit lho bos!” teriak si pantat berorasi seperti mahasiswa-mahasiswa di pinggir jalan yang suka bikin macet.

“Yaudah, saya ultimatum kamu kalau kentut lagi saya pecat kamu, pantat! Saya bisa cari lagi kok yang baru dari perusahaan outsourcing!” bentak si bos seperti gubernur yang mau menggusur rumah orang pinggiran.

“Ok deh bos saya usahakan”. Jawabnya dengan pasrah seperti kambing hendak disate.

Kemudian sidang berjalan lancar. Si pantat tidak kentut-kentutan lagi dan si bos bisa bohong semaunya. Akhirnya si bos tersebut yang terlibat kasus korupsi cuma dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan kemungkinan mendapat remisi saat hari kemerdekaan. Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Eh seharusnya tidak begitu deh, sebagai narator yang baik saya harus mengakhiri cerita dengan menaruh pesan moral, dan moralitas yang dibebankan ke saya itu mengharuskan saya mengakhiri cerita dengan menceritakan bahwa akhirnya si bos mati keesokan harinya karena menahan kentut seharian. Tamat.

26-06-2016

  • view 126