Gorengan Puitis

Fajar Nurrahman
Karya Fajar Nurrahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2017
Gorengan Puitis

Cerita ini dimulai saat saya asyik menggarot gorengan yang katanya paling nikmat seantero universitas ini. Ya, cuma gorengan, yang biasanya dicibir oleh orang yang bergaya hidup sehat ataupun bule dengan makanan yang berkolesterol, berminyak dan sungguh tidak sehat. Katanya bahkan bisa menyebabkan kanker. Entah kenapa penganan khas ini selalu dituduh subversif: sebagai pembawa penyakit, bikin gemuk, dan sebagainya. Padahal, menurut saya kudapan ini sungguhlah penyelamat dari kelaparan. Cepat saji, hangat, dan yang paling penting, murah harganya. Sebenarnya gorengan sama saja dengan makanan cepat saji yang disajikan di restoran waralaba dunia itu (lemak dan kolesterol), cuma mungkin standar higienis, iklan yang sangat menarik  dan blablabla nya lebih baik. Saat gorengan di kantung kertas itu sudah habis, saya mencari-cari remah-remah gorengan yang biasanya berceceran di bagian bawah kantung itu. Saya pun merobek kertas  yang berminyak itu dengan hati-hati agar tidak tumpah, soalnya remah-remah itu adalah harta yang sangat berharga bagi saya, saya tidak mau rugi sepotong kecil pun, saya ingin merampas ampas-ampas gorengan itu agar terserap menjadi gizi dan energi untuk membantu saya membunuh hari.

***

Gorengan Pak Suwir itu memang sungguh asoy. Selalu ludes jam 5 sore, padahal dia baru mulai dagang jam 3 sore. Itu adalah sebuah prestasi dalam hal durasi berjualan gorengan. Biasanya tukang gorengan saat malam hari masih memiliki sisa-sisa gorengan yang tidak laku, menjadi dingin dan tidak enak dan biasanya akan digoreng kembali untuk esok hari. Tapi gorengan Pak Suwir selalu habis..bis..bis. Mungkinkah ada semacam bumbu tambahan di dalam adonan gorengannya tersebut? atau dia mencampur dengan obat-obatan tertentu semacam zat adiktif supaya konsumennya ketagihan. Dia selalu saja menjawab dengan logat Jawa Tengah yang khas "Biasa aja ini mas, ndak ada resep-resep khusus ala-ala syef (mungkin maksudnya chef) gitu loh mas". Sungguh saya tidak percaya. Pernah suatu ketika dua teman saya datang membawa masing-masing sebungkus gorengan, yang satu gorengan Pak Suwir yang satu lagi bukan. Kami masing-masing berpendapat bahwa gorengan Pak Suwir-lah yang paling enak. Maka agar lebih ilmiah dan mengurangi subyektifitas, kami mencoba beli berbagai gorengan dari berbagai tempat dan membandingkannya, dan menurut penelitian asal-asalan itu gorengan Pak Suwir-lah juaranya. Dan kami pun menjadi penasaran dan menempelkan mitos-mitos kecil bahwa gorengan Pak Suwir mengandung obat-obatan atau zat adiktif membuat kami sakaw gorengannya.

Suatu hari, ketika persediaan beras saya habis, saya pergi ke toko kelontong Koh Afuk yang berjarak 212 meter dari kamar kontrakan saya. Dan saya melihat Pak Suwir keluar dari toko sambil membawa satu bungkus plastik hitam besar. Kemudian saat saya membayar beras kepada Koh Afuk, saya pun iseng bertanya kepadanya apa saja yang dibeli Pak Suwir. "Biasa lah…. Minyak goreng, tepung terigu. Buat dagangan dia gitu" ujarnya. Saya pun bertanya-tanya lagi kepada hal yang lebih spesifik, si Ngkoh pun memberi saya nota belanja-nya Pak Suwir. " Nih lu liat aja sendiri" ujarnya dengan sedikit kesal.

Nota Toko Cahaya

Tepung Terigu Cap "Segitiga Bulet Kotak X"               5Kg                              Rp.50.000,-

Minyak Goreng Cap "Orangutan"                                5Lt                               Rp.50.000,-

Rokok Cap "Koboi Clint Eastwood"                            1Bk                              Rp.12.000,-

 

                                                                                    Total                            Rp.112.000,-

 

Sungguh, itu cuma tepung terigu murah biasa, minyaknya pun sama. Pun rokoknya juga rokok yang biasa dihisap rakyat jelata pada umumnya. Saya pun malah berpikir tentang iluminati karena kesamaan antara logo segitiga tepungnya dengan segitiga freemason, yang sungguh sangat tidak obyektif untuk penelitian saya ini.

***

krauk…krauk…krenyesss…nyess

Kembali pada posisi saat saya dengan hati-hati merobek bungkus gorengan agar remah-remah atau krenyes-krenyes­-nya bisa saya habiskan seperti di paragraf pertama. Kertas yang sudah ditembusi minyak itu saya robek perlahan dan membuka lipatan-lipatan kertasnya, lalu menjejerkannya dan  menekan-nekan-nya supaya lebih lurus seperti meluruskan uang kusut.  Huruf-huruf dalam bungkus gorengan yang sudah tidak jelas karena minyak yang sudah merembes dan sebagainya itu, saya lihat susunannya terlihat seperti bait-bait puisi. Saya pun mencoba membacanya dengan lebih jelas, dan memang ternyata itu adalah puisi. Keesokan harinya saya pun setelah merobek bungkus gorengan itu saya lihat isinya adalah puisi, dan lusa pun demikian, ternyata isi kertas yang digunakan sebagai kantung gorengannya berisi puisi.

Akhirnya setelah mendapatkan bukti-bukti yang lumayan empiris itu, saya pun menanyai Pak Suwir saat membeli gorengannya.

"Pak, kok bungkus gorengannya tulisannya puisi sih, beli dimana nih?"

"oh, itu saya beli kiloan dari orang"

"Tapi kenapa puisi? Mungkin ini nih rahasia gorengan bapak yah"

"Lah ndak tau ya hehehe, oh iya ya. Mungkin juga sih, biasanya saya juga beli kertas bekas kiloan, selalu kertas HVS, soalnya kan lebih bagus ketimbang kertas koran.  Biasanya kalo beli isinya kertas skripsi-krispi repisi eh apalah gitu, kertas ujian juga. Tapi akhir-akhir ini dapetnya kertas puisi ini  kayak gini. Eh trus mungkin juga kali mas kalo pake kertas puisi malah laris manis begini gorengannya tuh hehehehehe". Ketawa Pak Suwir sambil memberi saya sebungkus gorengan hangat. Kemudian saya pun bertanya tentang siapa penjual kertas bekas berisi puisi itu, dan ia memberi tahu alamatnya.

***

Sebenarnya penjual kertas puisi itu juga mahasiswa seperti saya, seorang perempuan  berwajah sayu berumur dua puluhan awal. Saya pun berkesempatan mengobrol bersamanya. Ia langsung mau diajak ngobrol atau wawancara saat saya bilang saya tahu puisi-puisinya yang berada di dalam bungkus kertas gorengan. Sebenarnya saya kurang jago membuat dialog-dialog percakapan, maka saya akan merangkum ceritanya dibawah ini:

Saya suka sekali menulis puisi. Entah kenapa, padahal orang tua saya tidak ada yang penyair. Sejak kecil saya suka menulis puisi, tentang apapun. Saat remaja saya sering mengirim puisi-puisi ke beberapa surat kabar, majalah dan lomba-lomba puisi. Pertama-tama mereka menaruh puisi-puisi saya di kolom mereka namun kelamaan menjadi jarang. Mungkin karena saya terlalu banyak mengirim puisi hingga memenuhi kotak surat mereka. Saya terus menulis puisi walaupun tidak digubris orang. Tapi produksi puisi saya sungguh berlebih, dalam sehari saya bisa membuat berpuluh-puluh lembar puisi. Hingga lama kelamaan kamar tidur saya pun penuh dengan kertas-kertas puisi. Ibu saya mengomeli saya untuk membuang kertas-kertas tersebut. saya pun memahami bahwa puisi tidak harus masuk koran atau majalah saja, saya harus mencari tempat tinggal yang baru untuk puisi-puisi saya. Pertama saya menyebarkan puisi-puisi saya di jalanan seperti SPG sepeda motor menyebarkan selebaran-selebaran harga motor-motornya. Tapi kemudian saya disangka menyebarkan selebaran-selebaran sesat oleh preman-preman. Kemudian saya memasukkan puisi saya dalam amplop dan mengirimkannya ke alamat-alamat yang saya dapat dari majalah di rubrik mencari sahabat pena, hingga akhirnya saya kehabisan uang untuk membeli amplop dan perangko. Pernah juga saya membakar puisi-puisi saya supaya ia bisa terbang ke atmosfer sana dan hinggap di lain benua dan mengelilingi dunia, tapi menurut Discovery Channel itu malah merusak lingkungan. Lalu, saya juga pernah menanam puisi-puisi saya di tanah supaya menjadi pupuk bagi pepohonan, tapi pepohonan di sini sudah jarang. Akhirnya ibu saya menyuruh menjual kertas-kertas itu ke tukang loak, tapi saya memberikan kertas-kertas puisi saya ke Pak Suwir yang tukang gorengan itu. Awalnya ia membayar, tapi lama kelamaan saya berikan cuma-cuma. Karena saya yakin puisi-puisi saya berguna sebagai wadah makanan buat orang-orang yang kelaparan. Itu lebih fungsional menurut saya, dan saya yakin puisi saya meresap saat minyak dari gorengan itu bercampur dengan tinta puisi saya, dan secara tidak sadar puisi saya pun tersampaikan ke orang banyak.

 ***

Saya sebenarnya tidak begitu suka puisi, pun tidak begitu mengerti puisi. Tapi investigasi saya yang menggelikan ini membuat saya percaya bahwa puisi itu sungguh asoy geboy maknyos.

Saya jadi ingin membuat lapak dagangan di dekat kampus, dengan bungkus puisi-puisi, mungkin nanti namanya 'Tahu isi Puisi'.