Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 4 Oktober 2017   11:48 WIB
Politik Warna dan Fanatik Buta

                Sebelumnya penulis ingin menyampaikan bahwa penulis bukanlah seorang aktivis pun orang yang ahli dalam bidang politik. Tulisan ini murni berasal dari pandangan penulis dalam menyikapi kegiatan politik di lingkungan kampus juga fanatik angkatan yang lumrah terjadi di pesantren modern.

                Politik menurut arti dasarnya adalah segala kebijakan yang berkaitan dengan urusan negara. Pengertian ini kemudian dipersempit oleh tindakan oknum-oknum yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan akses menuju kebijakan tersebut. Sehingga, politik praktis tingkat kampus pun menjadi layaknya politik monopoli jabatan yang erat kaitannya dengan praktik KKN antar sesama anggota “partai”.
                Di kampus penulis sendiri, politik untuk mempertahankan rezim masih sangat terasa. Terutama jika terdapat event yang melibatkan golongan elit kampus tingkat mahasiswa. Tak jarang, dosen yang memiliki almamater organisasi yang sama turut menyemarakkan.
Apa yang salah dari semua ini?
                Penulis tidak menyangkal sunnatullah tentang keniscayaan adanya perbedaan. Penulis juga masih mengimani bahwa perbedaan itu adalah rahmat dengan catatan wacana tentang perbedaan ini diangkat dengan benar dan bertanggungjawab. Masalahnya adalah penulis melihat bahwa mayoritas oknum dan praktisi serta para aktivis kampus masih salah memahami arti fanatik dan idealis. Batas antara keduanya menjadi amat saru apalagi bagi mereka yang bergabung dengan satu “partai” atas dasar ikut-ikutan ataupun dipaksa senior. Akibatnya, trauma dan phobia politik kerap terjadi.
                Contoh nyata yang sering terjadi adalah ketika pembentukan kepanitaan bahkan badan pengurus lembaga yang lebih mengedepankan kesamaaan latar belakang partai dibanding kemampuan dan kecakapan individual. Tindakan seperti ini didorong oleh paradigma mempertahankan kekuasaan dan menyebarkan ideologi (yang secara kasar, namun riil, bisa dikatakan ideologi tersebut lebih bersifat doktrin, bahkan dogma). Dari sini penulis merasa perlu adanya pembenaran antara makna fanatik dan idealis.
                Menurut penulis, praktik fanatisme yang dilakukan oleh partai politik kampus samasekali tidak bisa disandingkan dengan pemikiran tentang toleransi yang digembor-gemborkan mereka sendiri. Fanatisme yang berkembang di lingkungan kampus lebih menjorok ke keyakinan buta akan kebenaran partainya dan ketidakbenaran partai lain. Dengan begitu, sekali mereka memegang kekuasaan, praktik KKN akan subur di dalamnya. Partai sendiri silakan masuk, partai lain minggir.
                Idealisme itulah yang lebih pantas disandingkan dengan wacana toleransi. Mempertahankan ideologi sendiri dengan mempersilakan orang lain menganut paham yang ia kehendaki. Sekaligus itulah praktik toleransi yang benar, bukan toleransi plin-plan. Plin-plan karena tidak punya pendirian, tergantung dengan teman tongkrongannya saat itu.
                Simbol partai dalam kegiatan politik kampus pun selanjutnya tak luput ikut memanaskan suasana. Hanya karena satu kata “biru” atau “hijau”, satu angkatan bahkan satu fakultas dapat berseteru satu sama lain. Mungkin seharusnya golongan sentimen warna ini belajar dengan kelompok LGBT yang dengan legowo menggabungkan seluruh warna sebagai lambang dan bendera mereka.
                Semua praktik dan kegiatan perpolitikan kampus yang fanatik menurut penulis adalah perpanjangan tangan dari fanatik angkatan di pesantren modern yang tak jarang pula menggunakan warna sebagai lambangnya. Di Gontor sendiri, gesekan antar angkatan, konsulat, VOT dibawa dalam kehidupan sehari-hari dengan warna dominan dalam atribut yang mereka kenakan. Jargon-jargon diciptakan seakan menjadi komando perang. Silatul Ahmar, Smart Day, Soekamti adalah sedikit dari ribuan simbol yang bisa ditemui. Perilaku jahiliyah ini seakan begitu mengakar sehingga menjadi hal yang lumrah dan bisa dimaklumi.
Bagaimana solusinya?
                Sebagaimana yang sudah penulis sampaikan, perlu ada revolusi paradigma yang diawali dengan pembenaran makna fanatik dan idealis yang kian saru dikalangan aktivis. Tulisan ini hanya sebatas wacana. Tidak bermaksud mendoktrin pun mengajarkan dogma kepada para pembaca. Karena tulisan dan nash selain ayat muhkam dan hadits mutawatir hanya berpangkat dzanniy ats-tsubut. Debatable. Bukan qathiy ats-tsubut yang pengingkarannya bisa membuat orang menjadi kafir.

Karya : Faizan Nesen