Untukmu

Faizan Nesen
Karya Faizan Nesen Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Oktober 2017
Untukmu

Rabu, 04 Oktober 2017
07.41 AM
DS
 
 
            Untukmu, perempuan yang tengah merintis jalan menjadi seorang wanita.
            Terimakasih telah bertahan.
            Kamu tahu? Sebenar-benarnya pun aku pernah ragu. Apakah kamu benar-benar akan menunggu? Apakah aku benar-benar layak untuk ditunggu?
            Kamu tahu? Sampai detik ketika aku memulai tulisan ini pun aku tak kunjung menemukan jawaban yang tepat.
 
            Ah. Sungguh aku tak tahu hendak menuliskan apa. Bertarung antara memilih logika dan rasa dalam tulisan ini. Mungkin nanti-esok-lusa kamu bisa menentukan di bawah dominasi yang mana tulisanku ini terbentuk.
 
            Kamu, yang kini juga tengah berusaha menahan laju rasa untuk orang lain yang terus datang setiap pagi menjelang. Kamu, yang terus menerus mengingatkanku untuk saling  menjaga kepercayaan. Kamu yang tak bosan bercerita tentang hal-hal yang kamu lakukan. Kegiatan ini, kegiatan itu. Yang kadang kala membuatku cemburu, yang tak jarang membuatku berpikir seolah kamu adalah maya yang menjadi nyataku.
 
            Kamu tahu?
            Aku bahagia sejak pertama kali mengenalmu. Sejenak terdiam menyimak ceritamu. Lantas jail bertanya dalam hati: kamu, apakah kamu kembaranku? Yang berwujud seorang putri hawa?
            Aku mengenalmu sebagai seorang yang unpredictable. Seorang yang tak bisa kubaca tabiatnya dari sekian ribu orang yang kukenal. Aku menganggapmu sebagai potongan diriku. Yang kelak menggenapiku. Dalam kesempurnaan yang kita miliki, kita juga yang menggenapkannya dengan kekurangan yang kita mengerti.
 
            Kini aku disini. Menuliskan tulisan ini. Sembari menunggu jadwal mata kuliahku hari ini. Bagaimana dengan seleksimu kemarin? Ah, jangankan disandingkan dengan dirimu yang tengah bersiap menapaki jenjang karir, aku disini masih berkutat dengan laporan kegiatan Dewan Eksekutif Mahasiswa, melapangkan dada jika diminta maju sebagai calon kandidat ketua yang baru,  mempersiapkan diri untuk KKN semester depan, dan jika beruntung wisuda tahun depan. Belum lagi tugas akhir takhrij hadits sebagai persyaratan akhir kelulusan mahasantri pesantrenku sekarang. Kamu juga sudah tahu tentang izinku mengenalkanmu pada orang tua yang baru kudapat setelah lulus magister kan?
 
            Ah, perjalanan kita masih panjang.
            Aku tak menjanjikan aku akan menepatinya dengan segera. Aku hanya berjanji akan menepatinya dengan sebaik-baiknya. Aku tak pernah berharap kamu mengirimiku pesan setiap pagi. Pun aku harap kamu juga tak terlalu khawatir jika tiba-tiba beberapa waktu aku tak menghubungimu. Seperti yang sering kamu katakan: "kita harus selalu saling jaga kepercayaan ya?"
 
            Untukmu, perempuan yang tengah merintis jalan sebagai seorang wanita.
            Sekali lagi, terimakasih telah bertahan.

  • view 51