Yang Istimewa Adalah Yang Diuji

Ghina Aouliyatul Faizah
Karya Ghina Aouliyatul Faizah Kategori Agama
dipublikasikan 30 Mei 2016
Yang Istimewa Adalah Yang Diuji

Ini adalah suatu permasalahan tentang ujian akan kehidupan di dunia. Banyak yang bertanya atau bahkan menggerutu, “Mengapa aku harus diuji seperti ini?” atau “Kenapa aku harus mendapatkan ujian seperti ini? Apa salahku?”, atau ada lagi pertanyaan seperti ini, “Ya Allah, kenapa ujianku lebih berat darinya?”. Jika kita masih memiliki beberapa pertanyaan tersebut, tandanya kita masih sangat egois kepada Rabb kita.

Pernahkah kita bertanya-tanya atau menggerutu seperti itu? Lalu, jika kita memang sudah  mendapatkan ujian seperti itu, apa tindakan kita? Apakah kita hanya bertanya pada diri sendiri dan kepada Rabb kita? Lantas kita terus menggerutu tanpa memahami terhadap ujian yang kita dapatkan? Pernahkah kita berpikir apa yang akan kita dapatkan setelah kita diberikan ujian oleh Rabb kita? Bayangkan jika Rabb sudah merencanakan ujian yang terbaik dan sangat pantas untuk kita dengan tanpa melupakan pemberian atau reward untuk umat-Nya yang telah berhasil menyelesaikan ujian tersebut. Bahkan, Rabb sangat menghargai kerja keras kita untuk menyelesaikan ujian dengan memberikan pahala dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Tapi apa yang Rabb dapatkan dari kita? Hanya penggerutuan dan sebuah pertanyaan tanpa pemahaman dari kita sendiri terhadap ujian tersebut. Tahukah saudaraku, dibalik penggerutuan dan pertanyaan yang kita luapkan itu sangat membuat Rabb sedih dan kecewa. Rabb memberikan kita ujian bukan karena ingin menyusahkan kita. Tapi, Rabb ingin memberikan pelajaran yang tidak bisa didapatkan oleh makhluk-Nya yang lain selain manusia. Masyaa allah, betapa Rabb sangat mengistimewakan kita saudaraku.

Mudah saja jika kita tidak ingin mendapatkan ujian. Akhiri saja hidup kita dengan bunuh diri. Tapi coba pikirkan kembali, setelah mati apa yang akan kita jalani? Kita akan berkumpul dengan makhluk yang Rabb benci. Kita tidak akan bisa merasakan betapa nikmatnya dunia. Kita tidak bisa berkumpul dan berbincang satu sama lain. Kita hanya hidup sendiri di alam yang kita tempati setelah kita memutuskan untuk mati. Tidak akan ada yang memberikan nasihat dan kasih sayang. Hanya sendiri. Seperti nabi Adam yang hidup di surga seorang diri saat Rabb baru menciptakan makhluk yang dinamakan sebagai manusia. Yang dirasakan hanya kesepian dan hidup tanpa cerita. Monoton.

Berbeda jika kita memilih untuk tetap hidup dan menjalani ujian dari Rabb kita. Batapa nikmatnya ujian jika kita sadar akan manfaat dari ujian. Rabb berikan kita ujian tidak lain adalah agar kita belajar. Agar kita lebih paham kehidupan di dunia ini. Rabb berikan kita paru-paru dan hidung juga agar kita berpikir dan kita pahami bagaimana cara kerjanya? Kenapa Rabb ciptakan hidung dan paru-paru? Sedangkan jika kita lihat makhluk Rabb selain manusia? Apakah mereka mendapat kesempatan untuk belajar? Bisakah mereka mempelajari ciptaan Rabb yang sangat sempurna? Bisakah mereka merasakan akan kasih sayang Rabb lewat ujian yang Rabb berikan dengan skenario terbaik-Nya? Marilah sejenak kita pahami, betapa Rabb sangat memikirkan dan mengistimewakan kita dengan segala skenario terbaik-Nya. Rabb ciptakan alam semesta pun untuk manusia. Manusia tak lain adalah kita. Jadi, bersyukurlah kita jika mendapatkan ujian, karena Rabb sayang dan sangat mengistimewakan kita sebagai manusia. Masihkah ingat dengan penjelasan ayat di bawah ini? Semoga hati dan perasaan kita senantiasa selalu ingin memahami skenario dan pedoman terbaik Rabb kita, Allah SWT.

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)

  • view 181