Terus Berjalan

Almira Elvaretta
Karya Almira Elvaretta Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Januari 2016
Terus Berjalan

Aku berjalan ke depan. Menegakkan kepala, bahkan mengangkat dagu seolah ingin menegaskan sebuah ketegaran. Aku terus berjalan. Menghentakkan kaki ke bumi tanpa menatap ke bawah apalagi menoleh ke belakang. Aku terus berjalan lagi. Hingga mataku menangkap sosok seorang lelaki. Dia tidak terlalu tampan tapi juga tidak terlalu jelek. Badannya tegap dengan tinggi badan pria rata- rata berbalut kulit sawo matang khas Indonesia. Matanya tajam namun memberikan sebuah keteduhan bila kamu melihat lebih dalam. Bisa kurasakan hentakan kakiku memelan. Daguku seolah diberi beban berton- ton. Bukan karena aku takut pada laki- laki itu. Bukan juga karena aku benci pada laki- laki itu. Tidak. Benci bukan kata yang tepat. Aku akan lebih senang bila kamu menyebutnya sakit hati. Sebenarnya sakit hati itu disebabkan oleh hal sepele. Karena aku mencintainya. Karena aku berani membuka hatiku dan hidupku untuknya. Karena aku cinta buta. Karena aku mempercayai dia. Karena aku telah dihianati oleh dia.

? Aku berusaha terus melangkah. Seperti semua langkah yang kamu ambil untuk keluar dari sebuah himpitan dan sakit hati, tiap inchinya menyakitkan. Tanpa bisa dikendalikan otakku langsung memutar rekaman memori dulu. Ingatan- ingatan yang sangat ingin aku masukkan ke kotak dan aku terbangkan ke luar angkasa. Namun semua sudah terlambat. Benakku melihat lagi deretan kejadian demi kejadian. Tiap kejadian memberikan tusukan ke hatiku yang masih separuh pulih. Batinku menangis. Lagi- lagi aku berjalan dengan tegar. 'Pura- pura tegar' tambahku dalam hati.

? Aku bisa merasakan jejak langkahku di bumi telah menjadi seretan. Semua energi telah didistribusikan ke hatiku agar pulih. Agar aku tidak menangis. Agar aku tidak kelihatan lemah di depannya. Tidak. Aku tidak bolah menangis. Aku tidak boleh memperlihatkan bahwa dia berpengaruh dalam hidupku seperti dugaannya. Walau kenyataannya memang begitu.

? Deg!

? Dia menoleh dan menyadari keberadaanku. Matanya membelak sedetik kemudian normal lagi. Dia terkejut, tapi wajahnya kembali seperti semula lalu melebarkan sebuah senyum.

? "Hai. Lama nggak ketemu".

? Tidak ada jejak penyesalan dalam paras yang dulu aku kagumi itu. Tidak sedikitpun rasa bersalah bergelayut di mimiknya. Batinku menangis lebih deras. Aku menyunggingkan sebuah senyum hambar. Tenggorokanku mendadak tersumbat. Seperti di jejalkan berbagai makanan enak secara bersamaan. Eneg. Muak. Dia sepertinya tidak menyadari kekakuanku.

? "Sori aku ada urusan. Duluan ya!".

? Dia pergi. Masih tetap seperti dia yang dulu. Wajahnya. Tubuhnya. Kulitnya. Cara berjalannya. Tapi ada yang berubah. Lebih tepatnya caraku memandangnya. Dulu aku terlalu 'buta' untuk melihat semua. Bagaimana cueknya dia mepermainkan perasaan. Bagaimana bebalnya dia tidak minta maaf. Bagaimana muaknya aku melihatnya sekarang. Kesadaranku seakan terkuak. Kenapa aku harus memikirkan orang yang bahkan tidak memikirkanku? Kenapa aku harus menghawatirkan orang yang hanya bertanya 'Apa kamu baik- baik saja?' hanya untuk basa basi? Kenapa aku harus peduli pada orang yang bahkan tidak peduli untuk minta maaf? Dan masih banyak 'kenapa' yang bermunculan di benakku. Mataku terbelak. Seakan baru sembuh dari sakit, aku bangkit. Sekarang bukan hanya fisikku yang bangkit.Tapi juga hatiku dan setiap inchi bagian diriku.

? Aku menatap ke depan mantap. Tanpa paksaan. Tungkaiku melangkah dan menjejak bumi dengan semangat. Daguku terangkat tegar. Bukan pura- pura tegar. Aku berjalan ke depan. Terus berjalan tanpa menunduk apalagi menoleh ke belakang. Aku berjalan ke depan. Ke masa depanku.

?

Bukan berarti aku mudah melupakannya. Tapi aku kini sadar bahwa orientasiku bukan padanya. Pusat jagat rayaku bukan dia. Tapi aku. Diriku sendiri. Hatiku.

Hidup adalah pilihan. Begitu juga rasa sakit. Kamu memilih merasakannya sampai urat kehidupanmu putus atau kamu memilih mengabaikannya.

Hidup adalah perjuangan. Seperti saat kita lahir ke dunia. Seperti saat kita belajar merangkak. Seperti saat kita belajar menyayangi. Pilih menelantarkan perjuangan itu demi masalah atau menjadikannya penopang untuk bangkit.

Karena meski sering ada yang menyakitimu, tapi percayalah bahwa masih banyak orang yang menyayangimu. Mempercayaimu. Meski hanya satu orang. Pilih menghianati kepercayaannya atau menggenggam tangannya untuk bangkit.

?

???????????????????????????????????????????????????????????? Semua jawaban itu ada di tanganmu, dear.

?

Picture credit to http://pad3.whstatic.com/images/thumb/5/58/Start-Walking-for-Exercise-Step-6.jpg/670px-Start-Walking-for-Exercise-Step-6.jpg

  • view 295