Pinter Tanpa Sadar

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Januari 2017
Pinter Tanpa Sadar

Pagi ini, seperti biasa, Pak Tua dinas di pondok. Bercelana kolor hitam tiga per empat dan kaos putih polosnya. Tangan kanannya memegang sapu lidi bergagang bambu berdiamter kecil, tangan kirinya menenteng ekrak. Itu teman setia Pak Tua di setiap pagi. Membersihkan pondok adalah rutinitas paginya. Katanya kepada Pak Kyai suatu waktu,” Pak Kyai, walau saya hanya menjadi tukang bersih-bersih pondok, tapi itu sudah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri.”

Pak Tua tak seperti nama sapaannya. Ia masih cukup gagah, perawakannya berotot seperti mantan tukang ‘gelondong’ kayu. Usianya baru 35 tahun. Mungkin uban yang hambir menutupi rambut hitamnya lah yang menjadikan ia berjuluk ‘Pak Tua’.

Daerah wajib yang ia bersihkan setiap hari meliputi, teras pondok, kelas-kelas, asrama pondok.

Para santri juga sudah sangat akrab dengan Pak Tua, selain Pak Tua orangnya ramah dan pandai bergaul, Pak Tua juga merupakan warga asli dusun situ. Jadi ketika tak berdinas pun, sering sekali Pak Tua berjumpa dengan para santri.

Jadwal setiap pagi santri adalah sama, belajar Bahasa Arab. Mereka selalu melantangkan suara setiap mengulang-ulang kosa kata, membuat percakapan Bahasa Arab, dan lain sebagainya.

Pak Tua selalu mendengar aktivitas harian itu, untuk melihat secara utuh mungkin tidak, karena kegiatan belajar mengajar selalu berlokasi di dalam kelas. Tiap hari kosa kata baru didengar Pak Tua, percakapan-percakapan pendek Bahasa Arab. Terkadang timbul juga rasa ingin belajar yang tinggi, namun segera tersadar dengan usia dan ‘siapa sih Pak Tua ini di pondok ini’.

Suatu ketika, Pak Tua menangkap satu kosa kata yang sesuai dengan yang beliau geluti setiap hari. MIKNASATUN=SAPU, kata itu terulang berkali-kali dari dalam kelas. Iseng-iseng, Pak Tua menirukan kosa kata yang ustadz talqinkan kepada para santri, menirukan lirih bersama para santri, MIKNASATUN=SAPU.

Sampai tak terasa sudah dua tahun lamanya Pak Tua ‘mencuri’ ilmu ketika sedang bertugas bersih-bersih pondok. Satu kosa kata setiap harinya, terkadang mencoba-coba untuk menangkap kalimat panjang percakapan yang belum pernah ia pelajari sama sekali ketika sekolah dulu, dan memang Pak Tua dari dulu belum pernah belajar Bahasa Arab.

Sampai suatu ketika seorang ustadz tanpa sadar menyuruh Pak Tua dengan berbahasa Arab,” Khudzil miknasah yaa syaikh, tolong ambilkan sapu.”

Tanpa pikir panjang, Pak Tua langsung cepat sekali mencerna perintah berbahasa Arab tadi. Ia ambilkan sapu yang ada di teras pondok.

Melihat Pak Tua segera paham dengan perintah yang tanpa sengaja berbahasa Arab tadi, ustadz terheran-heran.

“Pak Tua, di mana njenengan belajar Bahasa Arab? Sepertinya njenengan tidak berback ground pesantren atau sekolah Islam.”

Raut muka Pak Tua juga sedikit heran dan takjub, kok saya bisa segera menangkap perintah berbahasa Arab tadi. Perasaan, saya belum pernah belajar berbahasa Arab. Batin Pak Tua dalam hati.

“Saya juga tidak tahu ustadz, kenapa tiba-tiba bisa segera paham dengan perintah ustadz tadi. Kalau ditanya saya belajar Bahasa Arab di mana, mungkin jawabannya ‘ya di sisni’. Setiap pagi seperti ini, sambil bersih-bersih pondok, tepatnya ketika ustadz mengajar santri pelajaran Bahasa Arab, teriakan kosa kata, teriakan percakapan, sering saya tirukan hehe…”

Baarokallahu fiikum Pak Tua. Itu nikmat dari Allah.”

Wa fiikum baarokallah”, jawab Pak Tua dengan ragu-ragu takut salah jawab.

“Alhamdulillah, adakah niat njenengan untuk belajar Bahasa Arab, Pak?”

“Hmm…. Niat itu sudah tumbuh cukup lama, tapi karena tersadar dengan usai yang tak lagi muda dan ya dasar-dasar Bahasa Arab pun belum pernah saya pelajari, maka niat itu hanya saya pendam dalam hati. Wujud perealisasiannya dengan setiap hari menyimak yang para santri pelajari setiap pagi sambil bersih-bersih pondok, tidak lantas bertanya-tanya dan belajar Bahasa Arab secara intensif. Siapa tahu dengan  ‘nguping’ setiap pagi, saya bisa kecipratan ilmunya, ustadz.”

“Ya, ya, ya…. Gini Pak Tua, setiap Senin sampai Kamis, saya buka les privat Bahasa Arab di rumah. Pesertanya cukup banyak, dan rata-rata dari orang yang sama sekali belum pernah belajar Bahasa Arab. Kalau Pak Tua berminat, Pak Tua bisa ikut gabung.”

“Iya ustadz, saya sangat berminat,” jawab Pak Tua dengan mata berbinar.

Alhamdulillah.”

Terus, berapa bayar per bulannya ustadz?”

“Oh, teruntuk Pak Tua, saya gratiskan.”

“Waduh ustadz, kalau seperti itu saya malah tidak enak. Bagaimana kalau pakai gaji kerja saya di pondok ini ustadz?”

“Tidak usah Pak Tua, anggap saja ini bonus dari pondok untuk Pak Tua, bisa belajar Bahasa Arab.”

Kedua bola mata Pak Tua berkaca-kaca mendengar jawaban itu. Baginya, bisa jadi warga pondok walau hanya tukang bersih-bersih, itu sudah lebih dari cukup, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Lha sekarang mendapat tawaran yang menggembirakan, bisa belajar privat Bahasa Arab.

“Terimakasih ustadz, saya bingung harus berkata apa,” jawab Pak Tua sambil menyeka air mata di pipi.

“Ya, sama-sama Pak Tua. Besok Selasa pukul 16.00 Pak Tua sudah bisa mulai gabung les.”

“Iya ustadz.”

Tak terasa, sudah satu tahun setengah Pak Tua les privat Bahasa Arab. Meski sudah tak muda lagi, namun semangatnya terus membara. Model Pak Tua adalah telaten. Sampai pada suatu saat, Pak Tua ‘didawuhi’ Pak Kyai untuk menjaga kantor pondok, jadi setelah rutinitas bersih-bersih pondok, dilanjutkan pekerjaan baru, jaga kantor pondok.

Pondok punya hubungan cukup baik dengan salah satu lembaga Arab Saudi. Banyak syaikh-syaikh Saudi yang sering berkunjung. Pak Tua yang dulunya hanya tukang bersih-bersih pondok, kini sudah ‘pd’ dan lancar berbahasa Arab, bahkan ketika menyambut tamu dari Timur Tengah.

Jumat, 14 Rabiul Akhir 1438 H

  • view 116