Setoran Surat Al-Maidah

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Agama
dipublikasikan 08 Januari 2017
Setoran Surat Al-Maidah

Kemarin malam, salah seorang santri Al-I’tishom Grabag menyetorkan hafalan Al-Qur’an nya. Ini setoran pertamanya di semester dua ini. Pikir saya, paling-paling juga setor 4 halaman atau berapa, seperti biasanya yang setoran sekitar nominal halaman segitu. Namun tidak, halaman demi halaman terus dilaluinya. Dimulai dari ba’da Maghrib, terus hingga pukul 19.00, terus hingga saya mengira mungkin santri ini akan setor satu juz sekaligus.

Hati dibuat berdesir ketika sudah sampai Surat Al-Maidah, apalagi saat sampai ayat 51, langsung teringat kasus penistaan agama yang belum lama ini. Doa pengharapan muncul ketika si santri sampai di ayat 54. Mengingatkan tentang karakteristik generasi Al-Maidah 54, yang salah satu cirinya adalah “laa yakhoofuuna laumata laaim”, yang di berbagai tempat sedang nge-trend buat kajian. Semoga generasi itu segera terlahir, semoga santri-santri Al-I’tishom juga termasuk ke dalam barisan generasi Al-Maidah ayat 54 itu. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Akhirnya terpotong adzan Isya’, berhenti di ayat 64. Hmm…. Setahu saya, sepanjang sejarah Al-I’tishom 2008, baru kali ini santri setoran yang bukan juziyyah, bisa 17 halaman sekaligus. Allahu akbar. Ini salah satu oleh-oleh liburan santri, jika belum lama ini ada santri yang membawa oleh-oleh hafalan 55 bait ‘Imrithi nya, maka santri ini membawa oleh-oleh hafalan 17 halaman Al-Qur’an untuk disetorkan sekali majelis. Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimush shoolihaat. Santri ini adalah santri yang ketika ujian tahfizh kemarin menorehkan rekor menggembirakan, setoran 3 juz sekali duduk, diikuti 2 juz sekali duduk untuk koleksi hafalan berikutnya. Namanya Muhammad Khoirul Umam, santri kelas 10 SMA Al-I’tishom Grabag.

Beginilah senior, selalu bahagia dengan keberhasilan-keberhasilan dan prestasi-prestasi juniornya. Selalu berharap bawa “adik kelasku harus lebih sukses dan lebih berhasil dariku”. Itu juga yang tertanam dalam hati para pengajar, bisa melihat para peserta didiknya tersenyum dengan kesuksesan yang mereka raih adalah kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan tinta manapun.

Teruslah berprestasi wahai para santri, teruslah menorehkan tintas emas keberhasilan.

Dan kisah-kisah inspiratif para pendahulu adalah suplemen, agar semakin fit dalam meraih asa. Kisah-kisah inspiratif para pendahulu bisa disajikan untuk selingan mengajar, selingan ketika memberi sepatah dua patah kata tausiyah, saat setoran hafalan, dan waktu-waktu tepat lainnya.

Ahad, 9 Rabiul Akhir 1438 H

  • view 98