Libur yang Tak Lebur

Faisal Amri
Karya Faisal Amri Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 Desember 2016
Libur yang Tak Lebur

Membuka kembali memori-memori kala itu. Ketika masih menjadi a-be-ge. Masa-masa yang penuh keseruan menjadi penuntut ilmu. Yang kadang nakal, yang kadang nurut. Semua itu, bagian dari episode-episode kehidupan yang penuh liku. Terkadang, kenakalan usia segitu bisa dimaklumi, jika masih dalam koridor pencarian jati diri. Terkadang, jika kenakalan itu melebihi batas, ya memang harus diingatkan dan diingatkan. Ketika abg-abg itu nurut, maka itu adalah tiket untuk memperoleh sebuah naungan, naungan di hari kiamat. Ketika abg-abg itu nurut, maka mereka menjelma menjadi sosok pemuda yang tumbuh dalam menghambakan diri kepada Allah. Ketika abg itu keluar dari rel, maka nasihat demi nasihat adalah pil pahit dan obat mujarab.

Kebetulan ketujuh a-be-ge itu adalah seorang ‘Anshor’, hanya satu yang ‘Muhajirin’. ‘Anshor’ adalah nama sebutan untuk santri yang berasal dari Grabag dan sekitarnya, ‘Muhajirin’ adalah sebutan untuk santri yang berasal dari luar Grabag.

Saat liburan semester kali itu. Para Anshor disuruh untuk tetap berada di pondok. Sementara satu si muhajirin diperbolehkan pulang, karena memang jauh. Mungkin para Anshor ini bisa berjuluk ‘rojulun qolbuhu mu’allaqun bil ma’had’. Bagi para Anshor, liburan di pondok itu menyenangkan, karena mereka sudah menganggap pondok adalah rumah kedua. Pokoknya liburan di pondok itu asyik dan mengasyikkan, serta sulit dilukiskan kata-kata.

Ada tugas baru untuk menyambut semester baru. Menghafal ‘Imrithi yang 250 bait itu. Wow, seru. Istilahnya nyuri start, ketika belum dimulai hafalan, mereka-mereka telah memulainya saat liburan. Menghafal bait-bait peninggalan ulama’. Tanpa target. Pokoknya dihafal. Dalam 2 pekan itu, mereka menjelma menjadi sosok yang haus akan ilmu. Karena kebetulan, ‘Imrithi adalah hal yang baru, maka semangat mereka juga menjadi baru. Dengan nada ‘Imrithi yang begitu khas, membuat diri terhibur jika terkadang kesulitan menghafal. Jadi bedanya menghafal Al-Ajurumiyyah dengan ‘Imrithi adalah pada nada dan teks yang dihafal. Al-Ajurumiyyah tanpa nada dan lebih mirip kalimat kaidah-kaidah, sedangkan ‘Imrithi bernada dan susunannya berbentuk bait bersajak.

Dalam 2 pekan itu, terbanyak mengantongi 170 bait. Rata-rata yang lain hafal 40 bait. Tentu ini adalah sebentuk kegiatan memanfaatkan libur sekolah, mereka libur tetap libur, hak liburan mereka tetap didapat, tetapi tidak lebur dengan aktivitas-aktivitas yang melalaikan.

Ya memang umumnya santri, termasuk saya sendiri hehe… ketika libur panjang dan kemudian masuk untuk semester baru, banyak pelajaran yang terlupa.

Ketujuh abg itu adalah, Muwafiqul Hakim Zen, Faisal Amri, Khamilin, Muhammad Ridhol Latif, Muhammad Asrori, Muchlisin dan Muhammad Nuril Huda.

Selasa, 27 Rabiul Awwal 1438 H

  • view 365